OPEC+ Pertahankan Produksi Minyak Usai Penangkapan Maduro
Organisasi negara-negara produsen minyak dan mitranya, OPEC+, mempertahankan tingkat produksi minyak tidak berubah dalam pertemuan singkat yang digelar pada Minggu (4/1/2026).
Pertemuan tersebut menghindari pembahasan krisis politik yang tengah memengaruhi sejumlah anggota kelompok produsen minyak dunia itu.
Pertemuan delapan negara anggota OPEC+, yang secara kolektif memproduksi sekitar setengah dari total produksi minyak global, berlangsung di tengah tekanan harga minyak dunia.
Ilustrasi harga minyak mentah.
Sepanjang 2025, harga minyak dunia tercatat turun lebih dari 18 persen, yang merupakan penurunan tahunan terdalam sejak 2020.
Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan.
Di saat yang sama, dinamika geopolitik di internal kelompok produsen turut menambah ketidakpastian. Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) memuncak bulan lalu terkait konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade di Yaman.
Kelompok yang bersekutu dengan UEA dilaporkan merebut wilayah dari pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, memicu perpecahan terbesar dalam beberapa dekade antara dua negara yang sebelumnya merupakan sekutu dekat.
Situasi geopolitik global juga semakin kompleks setelah AS pada Sabtu (3/1/2026) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali Venezuela hingga memungkinkan terjadinya transisi menuju pemerintahan baru, meskipun tanpa menjelaskan mekanisme pelaksanaannya.
“Saat ini, pasar minyak kurang didorong oleh fundamental penawaran dan permintaan, dan lebih didorong oleh ketidakpastian politik,” kata Jorge Leon, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy sekaligus mantan pejabat OPEC, dikutip dari CNBC, Senin (5/1/2026).
Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.
“Dan OPEC+ jelas memprioritaskan stabilitas daripada tindakan," imbuhnya.
Delapan anggota OPEC+ yang terlibat dalam pertemuan tersebut, yaknk Arab Saudi, Rusia, UEA, Kazakhstan, Kuwait, Irak, Aljazair, dan Oman, sepanjang 2025 telah menaikkan target produksi minyak sekitar 2,9 juta barrel per hari (bph).
Volume tersebut setara hampir 3 persen dari total permintaan minyak dunia dan dimaksudkan untuk merebut kembali pangsa pasar global.
Namun, pada November 2025 lalu, kedelapan negara sepakat menunda rencana kenaikan produksi untuk Januari, Februari, dan Maret 2026.
Keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan permintaan minyak yang relatif rendah selama musim dingin di belahan bumi utara.
Pertemuan daring singkat pada Minggu kembali menegaskan kebijakan tersebut. Seorang delegasi OPEC+ mengatakan pertemuan itu tidak membahas situasi Venezuela.
OPEC+ dijadwalkan kembali menggelar pertemuan pada 1 Februari 2026 mendatang.
Secara historis, OPEC kerap mampu mengelola perpecahan internal, termasuk saat menghadapi ketegangan besar seperti Perang Iran-Irak, dengan memprioritaskan manajemen pasar minyak dibandingkan konflik politik antaranggota.
Meski demikian, kelompok produsen minyak ini kini menghadapi sejumlah tekanan lain. Ekspor minyak Rusia mengalami penurunan akibat sanksi AS terkait perang di Ukraina.
Sementara itu, Iran menghadapi gelombang protes domestik serta ancaman intervensi dari AS.
Venezuela sendiri tercatat memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui cadangan minyak Arab Saudi yang merupakan pemimpin de facto OPEC.
Ilustrasi harga minyak dunia.
Namun, produksi minyak negara Amerika Selatan tersebut telah merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir akibat salah urus sektor energi serta dampak sanksi internasional.
Para analis menilai peningkatan produksi minyak mentah Venezuela dalam skala signifikan kecil kemungkinannya terjadi dalam beberapa tahun ke depan, sekalipun perusahaan-perusahaan minyak besar asal AS menginvestasikan miliaran dollar AS di negara tersebut, sebagaimana yang dijanjikan oleh Trump.
Sebagai informasi, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh AS pada Sabtu turut menambah ketidakpastian di pasar energi global.
Trump menyatakan Washington akan mengambil alih kendali Venezuela hingga memungkinkan terjadinya transisi menuju pemerintahan baru, meski tidak merinci mekanisme maupun jangka waktunya.
Pernyataan tersebut langsung menyorot kembali posisi Venezuela sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, bahkan melampaui Arab Saudi.
Namun, para analis menilai langkah politik AS tersebut belum tentu berdampak cepat pada pasokan minyak global.
Ini mengingat produksi minyak Venezuela telah lama tertekan akibat salah urus sektor energi dan sanksi internasional, serta membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih meskipun ada potensi investasi besar dari perusahaan minyak AS.
Sejumlah analis mengatakan, pasar minyak telah lebih dulu memperhitungkan risiko geopolitik Venezuela, sementara kondisi kelebihan pasokan global masih menjadi faktor dominan penekan harga.
“Meskipun skala serangan AS tidak terduga, pasar telah memperhitungkan konflik dengan Venezuela yang akan mengganggu ekspor minyak,” kata Arne Lohmann Rasmussen, Kepala Analis dan Kepala Riset di A/S Global Risk Management kepada CNBC.
Rasmussen memperkirakan dampak geopolitik tersebut terhadap harga minyak akan terbatas. Ia memproyeksikan harga minyak mentah Brent hanya akan naik sekitar 1 sampai 2 dollar AS per barrel, atau bahkan lebih kecil, ketika perdagangan berjangka dibuka.
“Meskipun ini merupakan peristiwa geopolitik besar yang biasanya diharapkan akan positif atau mendorong harga minyak naik, intinya adalah masih terlalu banyak minyak di pasar, dan itulah mengapa harga minyak tidak akan melonjak,” tutur Rasmussen.
Tag: #opec #pertahankan #produksi #minyak #usai #penangkapan #maduro