Surplus Dagang RI Tembus USD 38,54 Miliar, Kontribusi Terbesar Datang dari Amerika
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. (Miftahul Hayat/Jawa Pos)
15:54
5 Januari 2026

Surplus Dagang RI Tembus USD 38,54 Miliar, Kontribusi Terbesar Datang dari Amerika

– Neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025 kembali mencatatkan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia hingga November 2025 membukukan surplus sebesar USD 38,54 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan surplus tersebut berasal dari selisih nilai ekspor dan impor selama periode Januari–November 2025. Adapun Amerika Serikat (AS) tercatat menjadi negara penyumbang surplus terbesar.

“Hingga bulan November 2025, neraca perdagangan barang Indonesia mencatat surplus sebesar USD 38,54 miliar,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).

Pudji merinci, surplus neraca perdagangan kumulatif tersebut ditopang kuat oleh sektor non-migas yang mencatatkan surplus USD 56,15 miliar. Sementara itu, sektor migas masih mengalami tekanan dengan defisit sebesar USD 17,61 miliar.

Dari sisi mitra dagang, Pudji menyebutkan tiga negara penyumbang surplus terbesar untuk neraca perdagangan total, baik migas maupun non-migas, adalah Amerika Serikat dengan surplus USD 16,54 miliar, disusul India sebesar USD 12,06 miliar, serta Filipina sebesar USD 7,81 miliar.

“Amerika Serikat menjadi mitra dagang dengan kontribusi surplus terbesar sepanjang Januari hingga November 2025,” jelasnya.

Sebaliknya, defisit terdalam neraca perdagangan Indonesia tercatat berasal dari Tiongkok dengan nilai minus USD 17,74 miliar, diikuti Australia sebesar minus USD 5,04 miliar, serta Singapura sebesar minus USD 4,66 miliar.

Untuk kelompok non-migas, Amerika Serikat kembali menempati posisi teratas sebagai penyumbang surplus terbesar dengan nilai USD 19,21 miliar. Selanjutnya disusul India sebesar USD 12,16 miliar, dan Filipina sebesar USD 7,72 miliar.

Sementara itu, defisit non-migas terdalam masih berasal dari Tiongkok sebesar USD 19,28 miliar, kemudian Australia sebesar USD 4,33 miliar, dan Brasil sebesar USD 1,65 miliar.

Dari sisi komoditas, surplus non-migas terbesar sepanjang Januari–November 2025 didorong oleh lemak dan minyak hewan atau nabati (HS15) dengan surplus USD 30,29 miliar.

Selain itu, bahan bakar mineral (HS27) menyumbang surplus USD 25,20 miliar, serta besi dan baja (HS72) sebesar USD 17,02 miliar. Adapun defisit non-migas terbesar berasal dari mesin dan peralatan mekanis (HS84) dengan defisit USD 25,37 miliar.

Diikuti mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) sebesar USD 11,06 miliar, serta plastik dan barang dari plastik (HS39) sebesar USD 6,99 miliar. Terakhir, Pudji mengungkapkan faktor pendorong surplus non-migas Indonesia terhadap Amerika Serikat.

"Terutama didorong oleh ekspor mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS85), pakaian dan aksesoris rajutan (HS61), serta alas kaki (HS64)," tukasnya.

 

Editor: Sabik Aji Taufan

Tag:  #surplus #dagang #tembus #3854 #miliar #kontribusi #terbesar #datang #dari #amerika

KOMENTAR