Nasib Minyak Venezuela Setelah Penangkapan Presiden Maduro
Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak berpotensi naik menyusul kekhawatiran gangguan pasokan setelah Amerika Serikat (AS) menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari Caracas pada akhir pekan lalu(Freepik)
15:52
5 Januari 2026

Nasib Minyak Venezuela Setelah Penangkapan Presiden Maduro

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali menyoroti salah satu industri minyak paling bergejolak secara politik di dunia.

Peristiwa ini memaksa investor global menilai ulang siapa yang sebenarnya mengendalikan sumber daya minyak mentah Venezuela dan apakah sektor tersebut masih bisa dihidupkan kembali secara berarti setelah puluhan tahun mengalami penurunan produksi dan investasi.

Untuk saat ini, kendali industri minyak Venezuela dinilai masih berada di tangan perusahaan minyak milik negara.

Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.AFP / LUIS ROBAYO Sebuah monumen di depan kantor pusat perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, yang menggambarkan peranan tambang minyak bagi negara itu.

"Petroleos de Venezuela SA (PDVSA), perusahaan minyak milik negara, mengendalikan sebagian besar produksi dan cadangan minyak,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates, dikutip dari CNBC, Senin (5/1/2026).

Lipow menjelaskan, sejumlah perusahaan asing memang masih beroperasi di Venezuela.

Perusahaan energi Amerika Serikat (AS) Chevron beroperasi melalui produksi sendiri dan usaha patungan dengan PDVSA. Selain itu, perusahaan-perusahaan asal Rusia dan China juga terlibat melalui skema kemitraan.

Namun demikian, imbuh Lipow, kontrol mayoritas masih berada di tangan PDVSA.

Produksi minyak Venezuela merosot tajam sejak nasionalisasi

Venezuela menasionalisasi industri minyaknya pada 1970-an, yang melahirkan PDVSA sebagai tulang punggung sektor energi nasional.

Produksi minyak negara Amerika Selatan itu pernah mencapai puncaknya sekitar 3,5 juta barrel per hari (bph) pada 1997.

Namun, angka tersebut terus menurun drastis dalam dua dekade terakhir.

Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.SHUTTERSTOCK/DED PIXTO Ilustrasi produksi minyak, kilang minyak, harga minyak.

Menurut data yang disampaikan Lipow Oil Associates, produksi minyak Venezuela kini hanya sekitar 950.000 bph, dengan ekspor sekitar 550.000 bph.

Penurunan tersebut mencerminkan dampak kombinasi dari kurangnya investasi, masalah teknis, serta tekanan sanksi internasional.

Jika pemerintahan yang lebih pro-AS dan pro-investasi terbentuk, Chevron dinilai berada pada posisi yang paling tepat untuk memperluas perannya di Venezuela. Hal ini disampaikan Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Financial.

Kavonic menambahkan, perusahaan-perusahaan Eropa seperti Repsol dan Eni juga berpotensi memperoleh manfaat, mengingat kehadiran dan pengalaman mereka yang sudah lama di Venezuela.

Risiko gangguan ekspor di tengah ketidakpastian

Setiap perubahan rezim di Venezuela dinilai berpotensi mengganggu rantai komersial yang selama ini menjaga aliran ekspor minyak negara tersebut.

Ketidakjelasan mengenai siapa yang memegang kekuasaan dapat membuat pembeli minyak ragu untuk melanjutkan transaksi.

“Karena saat ini belum jelas siapa yang berkuasa di Venezuela, kita mungkin akan melihat ekspor berhenti total karena pembeli tidak tahu kepada siapa harus mengirim uang,” kata Lipow.

Ia menambahkan, sanksi terbaru AS terhadap armada tanker bayangan telah berdampak signifikan pada ekspor minyak Venezuela dan memaksa negara itu mengurangi produksi.

Armada tanker bayangan merujuk pada kapal-kapal yang beroperasi di luar sistem pengapalan, asuransi, dan regulasi internasional.

Armada ini kerap digunakan untuk mengangkut minyak dari negara-negara yang terkena sanksi, termasuk Venezuela, Rusia, dan Iran.

Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.

Lipow memperkirakan Chevron masih akan mengekspor sekitar 150.000 bph, sehingga dampak langsung terhadap pasokan global relatif terbatas.

Namun, ia menyebut ketidakpastian politik yang meluas dapat menambah premi risiko jangka pendek sekitar 3 dollar AS per barrel.

Dampak terbatas pada pasar minyak global

Kenaikan premi risiko tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang oleh banyak analis dinilai masih cukup pasokannya.

“Pasar minyak saat ini cenderung mengalami kelebihan pasokan,” ujar Bob McNally dari Rapidan Energy Group.

Ia menyebut dampak langsung dari krisis Venezuela terhadap pasar global “hampir tidak berarti apa-apa”.

Meski demikian, arti penting Venezuela dalam jangka panjang terletak pada karakter minyak yang diproduksinya.

Minyak mentah Venezuela yang berat dan bersulfur tinggi memang sulit diekstraksi secara teknis, tetapi sangat dibutuhkan oleh kilang-kilang kompleks, terutama di Amerika Serikat.

“Kilang-kilang Amerika sangat senang menyedot minyak kotor dari Venezuela dan Kanada,” terang McNally.

Ia mempertanyakan tantangan utama ke depan, yakni apakah industri minyak global mampu kembali ke Venezuela dan membalikkan kerusakan serta pengabaian selama dua dekade terakhir.

Peluang dan hambatan pemulihan

Jika pemerintahan baru yang dipimpin tokoh oposisi Maria Corina Machado segera terbentuk, Lipow menilai sanksi internasional berpotensi dilonggarkan.

Dalam skenario tersebut, ekspor minyak Venezuela dapat meningkat dalam jangka pendek dengan memanfaatkan minyak yang telah disimpan untuk menghasilkan pendapatan.

Ilustrasi harga minyak mentah. SHUTTERSTOCK/GAS-PHOTO Ilustrasi harga minyak mentah.

Namun, Lipow menambahkan bahwa lonjakan ekspor jangka pendek tersebut justru berpotensi menekan harga minyak global.

Di sisi lain, pemulihan yang berkelanjutan menghadapi kendala fisik dan struktural yang berat.

“Industri minyak Venezuela berada dalam kondisi yang sangat buruk sehingga bahkan dengan perubahan pemerintahan, kemungkinan besar tidak akan ada peningkatan produksi minyak yang signifikan selama bertahun-tahun karena investasi besar diperlukan untuk merehabilitasi infrastruktur yang ada,” papar Lipow.

Pandangan serupa disampaikan Helima Croft dari RBC.

Ia memperingatkan, jalan menuju pemulihan sektor minyak Venezuela masih panjang, dengan merujuk pada “kemerosotan Venezuela selama beberapa dekade di bawah rezim Chávez dan Maduro.”

Menurut Croft, para eksekutif industri minyak memperkirakan dibutuhkan investasi setidaknya 10 miliar dollar AS per tahun untuk memulihkan sektor ini.

Selain itu, lingkungan keamanan yang stabil disebutnya sebagai prasyarat mutlak.

“Semua prediksi akan meleset dalam skenario perubahan kekuasaan yang kacau seperti yang terjadi di Libya atau Irak,” ucap Croft.

Tag:  #nasib #minyak #venezuela #setelah #penangkapan #presiden #maduro

KOMENTAR