BPS Catat Impor Mesin Naik hingga November 2025
Kinerja impor Indonesia menunjukkan tren naik terbatas hingga November 2025, dengan barang modal menjadi penopang utama di tengah melemahnya impor bahan baku dan barang konsumsi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total nilai impor sepanjang Januari–November 2025 mencapai 218,02 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.597 triliun, tumbuh 2,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya secara tahunan (year on year/YoY).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, kenaikan impor secara kumulatif tersebut terutama didorong oleh impor nonmigas yang mencapai 188,61 miliar dollar AS atau sekitar Rp 3.112 triliun, tumbuh 4,37 persen secara tahunan.
Sebaliknya, impor migas justru menurun 10,81 persen menjadi 29,42 miliar dollar AS atau sekitar Rp 485 triliun.
“Jika ditinjau berdasarkan penggunaan, kenaikan nilai impor secara kumulatif terutama didorong oleh impor barang modal,” ujar Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Senin (5/1/2026).
Barang Modal Menguat, Bahan Baku Melemah
Sepanjang Januari hingga November 2025, nilai impor barang modal tercatat sebesar 44,81 miliar dollar AS atau sekitar Rp 739 triliun, meningkat 18,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Pudji, peningkatan tersebut terutama berasal dari impor mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan udara dan bagiannya.
Sementara itu, impor bahan baku atau penolong justru turun 1,46 persen menjadi 153,20 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.528 triliun. Impor barang konsumsi juga mengalami penurunan 2,02 persen menjadi 20,01 miliar dollar AS atau sekitar Rp 330 triliun.
Dari sisi negara asal, peningkatan impor terutama berasal dari China dan Amerika Serikat. Adapun impor dari Jepang, negara-negara ASEAN, dan Uni Eropa tercatat menurun sepanjang Januari hingga November 2025.
Mesin Dominasi Impor Nonmigas
BPS mencatat tiga komoditas utama nonmigas yang diimpor Indonesia sepanjang Januari hingga November 2025, yakni mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya. Ketiganya menyumbang sekitar 37,86 persen dari total impor nonmigas.
Nilai impor mesin dan peralatan mekanis tercatat sebesar 32,84 miliar dollar AS atau sekitar Rp 541 triliun dengan volume 4,25 juta ton.
Impor mesin dan perlengkapan elektrik mencapai 28,60 miliar dollar AS atau sekitar Rp 471 triliun dengan volume 1,99 juta ton.
Sementara itu, impor kendaraan dan bagiannya tercatat sebesar 9,96 miliar dollar AS atau sekitar Rp 164 triliun dengan volume 1,51 juta ton.
Berdasarkan negara asal, China, Jepang, dan Amerika Serikat menjadi tiga pemasok utama impor nonmigas Indonesia dengan pangsa gabungan sekitar 52,87 persen.
Impor nonmigas dari China tercatat sebesar 77,52 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.279 triliun, didominasi mesin dan peralatan mekanis dengan pangsa 22,75 persen serta pertumbuhan 12,33 persen.
Impor nonmigas dari Jepang mencapai 13,28 miliar dollar AS atau sekitar Rp 219 triliun, juga didominasi mesin dan peralatan mekanis dengan pangsa 21,70 persen serta pertumbuhan 5,76 persen.
Sementara itu, impor nonmigas dari Amerika Serikat tercatat sebesar 8,93 miliar dollar AS atau sekitar Rp 147 triliun, dengan mesin dan peralatan mekanis sebagai komoditas utama dengan pangsa 18,36 persen serta pertumbuhan 16,25 persen.
Impor November 2025 Didorong Migas
Secara bulanan, nilai impor Indonesia pada November 2025 tercatat sebesar 19,86 miliar dollar AS atau sekitar Rp 327 triliun, naik tipis 0,46 persen dibandingkan November 2024.
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh impor migas yang mencapai 2,86 miliar dollar AS atau sekitar Rp 47 triliun, tumbuh 11,19 persen secara tahunan.
Sementara itu, impor nonmigas pada November 2025 tercatat sebesar 17 miliar dollar AS atau sekitar Rp 280 triliun, turun 1,15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
BPS mencatat, peningkatan impor secara tahunan pada November 2025 terutama disumbang oleh kenaikan impor migas dengan andil sebesar 1,46 persen.
Jika dilihat berdasarkan penggunaan, impor barang konsumsi pada November 2025 turun 1,76 persen secara tahunan. Impor bahan baku atau penolong juga turun 3,56 persen.
Sebaliknya, impor barang modal meningkat signifikan sebesar 17,27 persen dan menjadi pendorong utama kenaikan impor pada November 2025 dengan andil sebesar 3,18 persen.