AS Serang Venezuela, Produksi Minyak Tetap Normal di Tengah Gejolak
Ilustrasi fasilitas minyak Venezuela di tengah ketegangan Venezuela vs Amerika. Tampak kapal tanker minyak berbendera Guinea saat menunggu pengisian muatan di Maracaibo, Negara Bagian Zulia, Venezuela, 9 Mei 2025. (AFP/FEDERICO PARRA)
23:04
3 Januari 2026

AS Serang Venezuela, Produksi Minyak Tetap Normal di Tengah Gejolak

– Amerika Serikat (AS) serang Venezuela menjadi perhatian dunia setelah Amerika Serikat mengklaim menangkap presiden Venezuela Nicolas Maduro. Meski Venezuela diserang dan situasi keamanan di Caracas, ibu kota Venezuela, dilaporkan memanas, operasi produksi dan pengilangan minyak negara itu tetap berjalan normal.

Reuters melaporkan, dua sumber yang mengetahui langsung operasional perusahaan energi negara Venezuela, PDVSA, menyatakan tidak ada kerusakan pada fasilitas produksi minyak. Informasi ini muncul di tengah isu Venezuela dibom dan meningkatnya ketegangan Venezuela vs Amerika.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa pasukan AS telah menangkap Nicolas Maduro, setelah berbulan-bulan tekanan terkait tuduhan perdagangan narkoba dan klaim ketidakabsahan kekuasaannya. Pernyataan itu memperkuat narasi bahwa Venezuela diserang secara langsung oleh Amerika Serikat.

Menurut salah satu sumber Reuters, Pelabuhan La Guaira yang terletak dekat Caracas mengalami kerusakan parah. Pelabuhan tersebut merupakan salah satu pelabuhan terbesar di negara itu, meski tidak digunakan untuk ekspor minyak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) di Virginia pada 5 Oktober 2025, dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) di Caracas pada 25 November 2025. Pada 3 Januari 2026, AS melancarkan serangan darat ke Venezuela dan menangkap Maduro.AFP/SAUL LOEB & FEDERICO PARRA Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) di Virginia pada 5 Oktober 2025, dan Presiden Venezuela Nicolas Maduro (kanan) di Caracas pada 25 November 2025. Pada 3 Januari 2026, AS melancarkan serangan darat ke Venezuela dan menangkap Maduro.Pada Desember lalu, Trump mengumumkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang masuk dan keluar dari Venezuela. Selain itu, Amerika Serikat juga menyita dua kargo minyak Venezuela.

Kebijakan tersebut menyebabkan ekspor minyak negara anggota OPEC itu turun tajam bulan lalu menjadi sekitar setengah dari 950.000 barrel per hari yang dikirimkan pada November, berdasarkan data pemantauan dan dokumen internal yang dilihat Reuters.

Langkah Amerika Serikat itu mendorong banyak pemilik kapal mengalihkan rute menjauhi perairan Venezuela. Kondisi tersebut dengan cepat meningkatkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar PDVSA.

Akibatnya, PDVSA terpaksa memperlambat pengiriman di pelabuhan serta menyimpan minyak di kapal tanker. Langkah ini dilakukan untuk menghindari pemangkasan produksi minyak mentah maupun kapasitas pengilangan.

Selain tekanan eksternal, sistem administrasi PDVSA juga belum sepenuhnya pulih dari serangan siber pada Desember lalu.

Reuters melaporkan, serangan tersebut memaksa perusahaan mengisolasi terminal, ladang minyak, dan kilang dari sistem pusat serta menggunakan pencatatan manual demi menjaga kelangsungan operasi.

Di tengah eskalasi AS serang Venezuela yang memicu ketidakpastian politik dan keamanan di ibu kota Venezuela, sumber-sumber menegaskan bahwa kegiatan produksi minyak masih dijalankan secara normal, meski tekanan dari konflik Venezuela vs Amerika terus berlanjut.

Tag:  #serang #venezuela #produksi #minyak #tetap #normal #tengah #gejolak

KOMENTAR