Kaleidoskop 2025: Isu BBM Oplosan hingga Lenyapnya RON 92 dari SPBU Swasta
Bahan bakar minyak (BBM) khususnya jenis RON 92 jadi salah satu isu terhangat sepanjang tahun. Di tengah ajakan pemerintah agar masyarakat mengonsumsi BBM sesuai peruntukan - agar katanya anggaran subsidi energi tak jebol - aspek ketersediaan BBM nonsubsidi jadi problem di medio 2025.
Polemik diawali dengan kelangkaan BBM jenis RON 92 di SPBU swasta, konon akibat persetujuan impor yang lambat. Berkurang drastisnya produk RON 92 di SPBU swasta pada awal tahun disebut-sebut juga imbas migrasi setelah munculnya kasus oplosan di beberapa SPBU nakal berlogo Pertamina, yang menggerus kepercayaan konsumen.
Kekosongan BBM Ron 92 di SPBU swasta terjadi selama beberapa pekan lantaran alotnya negosiasi antara pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM dengan badan usaha (BU) penyedia BBM swasta. Berikut JawaPos.com rangkum dalam Kaleidoskop 2025 sektor energi.
Kelangkaan BBM di SPBU Swasta pada Awal Tahun
Presiden Direktur Shell Indonesia, Inggrid Siburian, menyatakan bahwa SPBU Shell sempat kehilangan stok BBM semua jenis pada Januari 2025.
"Keterlambatan tersebut adalah karena adanya hambatan pada sisi supply atau rantai pasok. Tetapi hambatan tersebut memang merupakan kondisi yang di luar kendali kami karena yang dapat kami fokuskan adalah hal-hal yang memang dapat kami kendalikan," kata Ingrid dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, di Jakarta, Rabu, (26/2).
Dia mengklaim, kondisi tersebut terjadi akibat izin impor BBM untuk 2025 yang terlambat diterbitkan oleh pemerintah. Alhasil, distribusi BBM ke SPBU Shell terhambat beberapa pekan. Namun, kelangkaan ini berhasil diatasi per 6 Februari 2025, dan pasokan mulai normal pada 11 Februari 2025.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Aneka Petroindo Raya (BP-AKR), Vanda Laura, mengakui beberapa SPBU BP juga mengalami kendala stok BBM akibat keterlambatan pengiriman. Proses impor yang membutuhkan waktu sekitar 40 hari dari nominasi hingga pengiriman menjadi penyebab utama.
"Proses pengadaan ini memang tidak mudah. Kami membutuhkan waktu dari tahap nominasi, konfirmasi jumlah stok yang akan dibawa, mencari kapal, hingga menghadapi antrean di terminal Jakarta saat pengiriman," kata Vanda.
Di RU IV Cilacap, proses pengujian kualitas BBM dilakukan dengan menggunakan Cooperative Fuel Research (CFR) Analyzer. (dok. KPI)
Kasus Oplosan RON 92 Pertamina
Setelah kelangkaan BBM tersebut selesai diatasi, muncul kasus baru yang sangat menarik perhatian publik, yakni kasus oplosan RON 92 Pertamina. Kasus ini merupakan bagian dari penyidikan dugaan korupsi tata kelola minyak mentah dan BBM di lingkungan Pertamina, khususnya di PT Pertamina Patra Niaga.
Praktik yang disorot terjadi pada periode 2018-2023, dimana penyidik menemukan dugaan pembelian BBM dengan spesifikasi lebih rendah dari yang tercantum dalam kontrak, namun kemudian diperlakukan dan dipasarkan seolah-olah memenuhi standar RON 92.
Sejauh ini, Kejagung sendiri telah menetapkan 18 tersangka atas dugaan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan produk kilang PT Pertamina (Persero) periode 2018-2023 yang menyebabkan kerugian negara sekitar Rp 285 triliun. Nama utamanya sendiri yakni Riva Siahaan yang sempat menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga.
Dampak kasus ini, banyak masyarakat merasa terkejut, kecewa, bahkan dirugikan oleh kabar dugaan pengoplosan bensin RON 92 (Pertamax) dengan bahan bakar berkualitas lebih rendah. Sejumlah konsumen mengatakan mereka merasa dibohongi karena selama ini memilih Pertamax dengan harapan kualitas lebih tinggi, sementara dugaan praktik ini membuat kepercayaan terhadap BBM Pertamina turun drastis.
Isu ini kemudian memicu keraguan publik terhadap kualitas produk Pertamina. Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) bahkan menyatakan bahwa jika dugaan pengoplosan terbukti, maka hak konsumen telah dilanggar dan konsumen berhak menggugat perusahaan.
Beberapa warga juga terlihat khawatir dengan proses pengolahan dan distribusi BBM di depo serta SPBU untuk memastikan kualitas yang sesuai dengan standar.
Suasana SPBU Vivo di kawasan Sawangan, Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
Migrasi ke SPBU Swasta
Kasus BBM oplosan ini pun berdampak signifikan terhadap tingkat kepercayaan masyarakat. Bagi sebagian konsumen, isu tersebut menimbulkan rasa ragu terhadap kualitas dan transparansi produk BBM Pertamina, terutama bensin RON 92 yang selama ini diposisikan sebagai produk berkualitas lebih tinggi.
Keraguan itu tercermin dari perubahan perilaku konsumen. Sejumlah pengguna kendaraan memilih beralih ke SPBU swasta dengan alasan mencari alternatif yang dianggap lebih transparan dan konsisten, meskipun harga yang ditawarkan kerap lebih mahal.
Namun, peralihan tersebut juga bersifat dinamis dan situasional. Ketika SPBU swasta mengalami keterbatasan pasokan RON 92 pada beberapa periode 2025, sebagian konsumen kembali ke SPBU Pertamina karena faktor akses dan ketersediaan.
Tingginya Permintaan, Kelangkaaan RON 92 Serang SPBU Swasta
Ketidakpercayaan publik atas Pertamina berdampak signifikan pada permintaan BBM khususnya RON 92 ke SPBU Swasta. Alhasil, SPBU Swasta mengalami keterbatasan pasokan.
Pada 2025, SPBU Shell menjadi yang paling awal merasakan dampak keterbatasan pasokan bensin RON 92. Sejumlah gerai di Jabodetabek dan kota besar lain dilaporkan tidak lagi menjual Shell Super karena kendala impor dan pengaturan kuota.
Kondisi ini memicu keluhan konsumen, terutama pengguna setia Shell yang terbiasa mengisi BBM non-subsidi, sekaligus memunculkan persepsi bahwa pasokan BBM swasta mulai terganggu secara serius.
Setelah Shell, BP-AKR juga mengalami tekanan serupa pada pertengahan tahun. Beberapa SPBU BP dilaporkan menghentikan sementara penjualan BP 92 akibat keterbatasan stok, meski operasional SPBU tetap berjalan untuk produk lain.
Sementara itu, SPBU Vivo turut menghadapi tantangan pasokan di beberapa wilayah, dengan laporan stok RON 92 yang tidak konsisten sepanjang 2025. Meski skalanya tidak sebesar Shell atau BP, kondisi tersebut menambah daftar SPBU swasta yang kesulitan menjaga kontinuitas pasokan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bersama Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung memberikan keterangan pers usai melakukan pertemuan dengan SPBU swasta di Jakarta, Jumat (19/9/2025). (Salman Toyibi/ Jawa Pos)
ESDM Tengahi Masalah Kelangkaan
Sejatinya, penyedia BBM swasta telah diberikan kuota impor sebesar 110 persen dibandingkan 2024, yang berarti kuota ini telah diberikan secara normal. Hanya saja terdapat kondisi yang mana BBM yang diberikan habis sebelum 30 September, sehingga ditawarkan impor melalui Pertamina sebagai jalan keluar.
Alhasil, Kementerian ESDM melakukan rapat bersama dengan Pertamina dan penyedia SPBU Swasta di Kementerian ESDM, Jakarta, pada Jumat (19/9). Adapun kesepakatan yang dicapai dalam rapat tersebut antara lain:
1. Badan usaha swasta setuju untuk membeli melalui kolaborasi dengan Pertamina, dalam bentuk komoditi berbasis base fuel (produk BBM yang belum dicampur aditif dan pewarna).
2. Melakukan pemeriksaan kualitas dengan join surveyor.
3. Terkait Harga, diatur oleh pemerintah secara fair atau tidak ada yang dirugikan, penentuan harga akan dilakukan secara terbuka atau Open Book dan disepakati bersama.
4. Secara terpisah Pertamina dan badan usaha swasta melakukan koordinasi terkait 2 hal yaitu skenario penyediaan pasokan untuk pemenuhan kebutuhan badan usaha swasta dan pembahasan terkait aspek komersial antar badan usaha tersebut untuk merealisasikan arahan Menteri ESDM dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Setelah rapat selesai, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengklaim bahwa seluruh pihak SPBU swasta setuju akan keputusan impor dari Pertamina.
Suasana Spbu BP AKR di Depok, Jawa Barat, Senin (3/11/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
SPBU Swasta Sepakat Impor Tambahan lewat Pertamina
Sempat terjadi tarik ulur kesepakatan business-to-business (B2B) antara penyedia BBM swasta dengan Pertamina. Hal ini dikarenakan adanya kandungan etanol 3,5 persen pada base fuel Pertamina yang membuat penyedia SPBU swasta berpikir dua kali.
Pada awalnya, PT Vivo Energi Indonesia menyatakan komitmen untuk menyerap 40.000 barel dari impor tahap pertama tersebut. Namun, tak lama kemudian, Wakil Direktur Utama Pertamina Patra Niaga, Achmad Muchtasyar, dalam rapat bersama Komisi XII DPR pada Rabu (1/10) mengungkapkan bahwa pihaknya membatalkan niat, lantaran kandungan etanol 3,5 persen.
Melihat hal ini, Kementerian ESDM mengatakan base fuel berjumlah 100 ribu barel BBM yang diimpor oleh Pertamina dan tiba pada 24 September itu akan diserap oleh Pertamina sendiri, setelah ditolak oleh PT Vivo karena kandungan etanol.
Setelahnya, impor BBM base fuel tahap kedua tiba pada Kamis (2/10) dengan jumlah yang sama yakni 100 ribu barel. Kemudian, satu per satu SPBU swasta yang sempat tarik ulur, mencapai kesepakatan mengambil base fuel yang diimpor Pertamina.
Hal ini diawali BP-AKR melalui PT Aneka Petroindo Raya, yang memastikan BBM dengan RON 92 atau BP 92 telah tersedia pada jaringan SPBU di Indonesia. Adapun BP 92 akan disebar di wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat, serta dilakukan secara bertahap di Jawa Timur.
"BP-AKR kembali menghadirkan bahan bakar berkualitas BP 92 dengan teknologi Active untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung mobilitas masyarakat. Prioritas kami jelas, BP 92 kembali tersedia dan kualitas produk yang dihadirkan konsisten terjaga. Fokus mutu ini bagian dari komitmen jangka panjang kami membangun layanan energi yang terpercaya di Indonesia," kata Vanda Laura, Presiden Direktur BP-AKR dalam keterangannya, Jumat (31/10).
Selanjutnya, SPBU Vivo juga mulai memiliki stok dan menjual BBM RON 92 di Indonesia. Hadirnya stok BBM RON 92 di SPBU Vivo berkat terjalinnya kerja sama antara merek tersebut dengan Pertamina Patra Niaga. Dikutip dari akun Instagram resmi Vivo, SPBU swasta ini telah memiliki BBM RON 92 per Minggu (23/11). Distribusi ke jaringan SPBU mereka pun sudah dilakukan secara bertahap.
Terakhir, Shell Indonesia akhirnya kembali menjual Shell Super atau RON 92 di Tanah Air. Hal ini diumumkan oleh penyedia BBM swasta tersebut pada laman resminya, shell.co.id. Shell Super sendiri akan dijual berbarengan dengan Shell V-Power Diesel yang sudah terlebih dahulu tersedia.
"Terima kasih telah setia menunggu bensin Shell kembali. Shell Super mulai tersedia kembali di SPBU Shell. Selain bensin, produk BBM jenis diesel (Shell V-Power Diesel) dan layanan di Shell Select, Bengkel SPBU Shell, serta Shell Recharge tetap terus tersedia," tulis Shell Indonesia pada Minggu (7/12).
Tag: #kaleidoskop #2025 #oplosan #hingga #lenyapnya #dari #spbu #swasta