Rahasia INA Dilirik Investor Dunia: Tata Kelola Tanpa Ugal-ugalan
- Ketatnya persaingan global memperebutkan modal investasi, Indonesia Investment Authority (INA) justru menarik perhatian investor kelas dunia bukan karena besarnya dana kelolaan, melainkan pendekatan INA yang disiplin, transparan, dan jauh dari kesan ugal-ugalan.
Tata kelola yang ketat, transparansi proses, hingga penerapan daftar negatif investasi menjadi senjata utama Lembaga Pengelola Investasi atau Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Indonesia itu dalam menjaga uang negara tetap aman sekaligus menarik mitra asing.
Vice President ESG Indonesia Investment Authority, Fetriza Rinaldy, mengatakan faktor paling menarik bagi mitra investasi global bukanlah seberapa besar dana yang dikelola INA, melainkan konsistensi dalam menjaga tata kelola.
Konsistensi tersebut disampaikan Fetriza dalam program Naratama Kompas.com, “Pintu Investasi Indonesia di Pundak INA”, yang dipandu langsung Pemimpin Redaksi Kompas.com Amir Sodikin dan dipublikasikan pada Rabu (24/12/2025).
“Yang pertama adalah konsistensi kita dalam menjaga tata kelola, bukan misalnya berapa dana yang dikelola oleh INA, itu bukan. Sesuai dengan pengalaman kita sejauh ini, ketika kita bermitra dengan mitra investasi terutama global, yang mereka lihat adalah proses internal kita seperti apa, tata kelola kita seperti apa,” ujar Fetriza.
Proses investasi yang dijalankan INA dimulai sejak tahap awal screening hingga pengambilan keputusan akhir dengan berpegang pada dua mandat utama yang berjalan beriringan. Di satu sisi, investasi harus mampu memberikan imbal hasil finansial yang baik dan berkelanjutan. Di sisi lain, proyek tersebut dituntut memiliki dampak jangka panjang yang positif, tidak hanya bagi kinerja ekonomi, tetapi juga bagi aspek sosial dan lingkungan.
Kedua mandat itu menjadi landasan yang terus dijaga konsistensinya sepanjang proses, sehingga setiap keputusan investasi tidak diambil semata-mata berdasarkan potensi keuntungan jangka pendek.
Dalam setiap tahap evaluasi, INA menyadari bahwa risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah investasi. Berbagai risiko akan muncul dan teridentifikasi, baik yang bersifat finansial, operasional, maupun terkait aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Tantangan utamanya bukan pada ada atau tidaknya risiko, melainkan bagaimana risiko-risiko tersebut dikelola dan dimitigasi secara tepat. Karena itu, seluruh temuan risiko dibahas secara terbuka dan transparan, sehingga setiap pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama. Pendekatan ini memungkinkan proses investasi tetap berjalan terukur dan pada akhirnya menghasilkan pengambilan keputusan yang lebih objektif, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Bagaimana proses yang harus kita lalui dari awal screening investasi sampai pengambilan keputusan, tentunya dengan mengedepankan dua mandat tadi Mas. Imbal hasil finansial baik, dan juga proyek yang kita pilih itu juga memiliki dampak jangka panjang, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang baik juga. Nah ini yang kita tunjukkan selama proses kita konsisten untuk menjalani,” jelasnya.
Selain tata kelola, transparansi menjadi pilar kedua yang membuat INA dipercaya investor global. Fetriza menegaskan bahwa dalam setiap evaluasi investasi, risiko selalu muncul dan tidak mungkin dihindari. Tantangannya adalah bagaimana risiko tersebut dimitigasi secara terbuka dan sistematis.
“Ketika kita melakukan suatu evaluasi tentu akan banyak risiko yang kita identifikasi. Tapi PR-nya adalah bagaimana risiko-risiko tersebut bisa kita mitigasi dengan baik. Sehingga proses bisa tetap berjalan, semua kita diskusikan dengan secara terbuka, sehingga pengambilan keputusan pada akhirnya bisa lebih objektif,” paparnya.
Menariknya, berdasarkan pengalaman INA, justru mitra investasi global yang kerap mensyaratkan penerapan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) secara ketat.
“Justru berdasarkan pengalaman kami di sini sebaliknya, Mas. Mitra investasi global ini yang meminta atau mempersyaratkan bahwa kita juga harus mengedepankan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola. Jadi biasanya mereka sudah punya standarnya sendiri di tingkat global,” beber Fetriza.
Tantangan utama bagi INA terletak pada upaya menerapkan ESG yang berlaku secara global ke dalam konteks Indonesia sebagai negara berkembang. Standar ESG internasional umumnya disusun dengan asumsi ketersediaan sumber daya, tingkat kesiapan institusi, serta kondisi pasar yang sudah matang.
Sementara di Indonesia masih menghadapi berbagai keterbatasan dan kompleksitas khas emerging market. Perbedaan inilah yang membuat penerapan ESG tidak bisa dilakukan secara seragam atau instan.
Namun, kondisi tersebut justru dipandang INA sebagai peluang strategis. Dengan memahami ekspektasi global sekaligus realitas di lapangan, INA mengambil peran sebagai jembatan antara keduanya. Artinya, INA berupaya menerjemahkan standar ESG global agar tetap relevan dan dapat diimplementasikan secara bertahap di Indonesia, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip utamanya.
Pendekatan ini memungkinkan proyek investasi tetap memenuhi harapan investor internasional, sekaligus realistis dan aplikatif bagi perusahaan dan sektor di dalam negeri, sehingga penerapan ESG dapat berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.
Untuk itu, INA memiliki kebijakan internal ESG yang menjadi pedoman utama. INA juga melakukan uji tuntas ESG (ESG due diligence) untuk mengidentifikasi risiko yang paling material dan berdampak langsung terhadap bisnis.
“Tentu pertama kami diatur dalam kebijakan internal kami. Jadi kami punya kebijakan terkait ESG sendiri di dalam INA. Lalu yang kedua kami melakukan uji tuntas ESG tadi, due diligence tadi. Jadi tujuannya adalah untuk mengidentifikasi risiko apa yang paling material, yang paling harus dibenerin deh terlebih dahulu,” kata Fetriza.
Ia menambahkan, dari proses tersebut INA kemudian menyusun mitigasi risiko dan target bertahap, termasuk indikator kinerja dan sasaran penurunan emisi.
“Jadi mungkin adaptasi kontekstual mungkin ya sangat penting. Bagaimana menjembatani antara permintaan atau ekspektasi global terhadap realita Indonesia sebagai negara berkembang,” ucapnya.
Pendekatan kehati-hatian INA juga tercermin dalam proses screening investasi melalui penerapan daftar negatif. INA secara tegas mengecualikan sektor-sektor tertentu dari portofolio investasinya.
“Kita punya daftar, contohnya daftar negatif, Mas. Jadi sektor-sektor yang kita kecualikan dari daftar investasi kita, ada,” lanjut Fetriza.
Fetriza menyebut, saat ini terdapat sekitar 17 sektor yang masuk dalam daftar pengecualian tersebut, termasuk penambangan ilegal dan sektor yang memproduksi bahan kimia terlarang secara nasional maupun internasional.
Daftar negatif ini, menurut dia, umumnya selaras dengan daftar yang dimiliki investor global. Karena itu proses penyelarasan kriteria dilakukan sejak awal.
Dalam tahap uji tuntas ESG, temuan-temuan yang muncul harus dimitigasi secara jelas dan dituangkan dalam dokumen yang mengikat secara hukum.
“Kalau tidak dimitigasi dengan baik, kalau kita tidak bisa menuangkannya di dalam dokumen yang mengikat, risiko ini takutnya tidak bisa kita kendalikan,” katanya.
Proses ini, lanjut Fetriza, memang memakan waktu karena melibatkan berbagai workstream seperti hukum dan finansial. Namun INA tidak menjadikan kecepatan sebagai prioritas utama.
Sebagai investor jangka panjang, INA juga aktif memantau kinerja portofolio investasinya, termasuk aspek ESG. Pemantauan dilakukan secara rutin dan dilaporkan dalam laporan tahunan INA.
Ia menilai meningkatnya kesadaran publik terhadap isu lingkungan turut memperkuat urgensi pendekatan ini.
“Sekarang masyarakat sudah mulai sadar bahwa isu lingkungan itu bisa memiliki dampak yang sangat material. Kalau tidak bisa dimitigasi dengan baik, efeknya bisa lebih besar lagi,” ujarnya.
INA saat ini berfokus pada lima sektor utama yang dinilai selaras dengan prioritas nasional, termasuk dekarbonisasi dan transisi energi. Salah satu contohnya adalah investasi di PT Pertamina Geothermal Energy bersama Masdar.
Dengan pendekatan tata kelola yang ketat, transparansi penuh, serta kehati-hatian dalam memilih sektor investasi, INA membuktikan bahwa menarik modal global tidak harus dilakukan secara agresif. Justru dengan proses yang rigid dan bertanggung jawab, kepercayaan investor dunia dapat dibangun secara berkelanjutan.
Tag: #rahasia #dilirik #investor #dunia #tata #kelola #tanpa #ugal #ugalan