Jelang RUPSLB, Saham BUMI Menguat, Analis Soroti Efek Akuisisi Tambang Emas Australia
- Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar hari ini, Rabu (19/11/2025) saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi salah satu yang paling disorot investor.
Penguatan harga, sinyal teknikal positif, hingga ekspektasi pasar terhadap pergantian dewan direksi dan komisaris, serta akuisisi perusahaan tambang emas asal Australia, Wolfram Limited (WFL), membuat saham emiten batu bara Grup Bakrie ini kembali menjadi magnet di bursa.
Berdasarkan data Stockbit pukul 10.41 WIB, saham BUMI melonjak tajam pada perdagangan hari ini. Hingga sesi berjalan, harga saham BUMI naik 16 poin atau 7,48 persen menuju level 230, menjadikannya salah satu saham energi yang mencatatkan penguatan signifikan.
Pergerakan intraday menunjukkan pola penguatan yang konsisten sejak awal sesi. Harga sempat berada di level terendah Rp 214, lalu bergerak naik bertahap dan mencapai titik tertinggi harian di Rp 234. Setelah itu, saham tetap bertahan di rentang Rp 228- Rp 232 dengan momentum yang relatif stabil.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai penguatan saham BUMI hari ini bukan tanpa alasan. Secara teknikal, pergerakannya masih berada dalam fase uptrend yang solid.
Kenaikan harga pada perdagangan hari ini juga didukung oleh meningkatnya volume pembelian, menandakan minat beli investor kembali menguat.
Indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di area positif, mengonfirmasi bahwa momentum kenaikan masih terjaga. Sementara itu, indikator Stochastic membentuk golden cross di area overbought atau atau kenaikan harga yang tinggi, yang umumnya menjadi sinyal lanjutan bullish meski tetap mengisyaratkan potensi volatilitas jangka pendek.
“Secara teknikal pergerakan BUMI masih berada di fase uptrend-nya, hari ini BUMI menguat disertai dengan munculnya volume pembelian. MACD masih berada di area positif dengan Stochastic yg golden cross di area overbought,” ujar Herditya kepada Kompas.com, Rabu ini.
Berdasarkan kondisi tersebut, saham BUMI dinilai layak dipertimbangkan untuk strategi trading buy dengan support di level 224, resistance di level 240, dan target harga di kisaran Rp 246 hingga Rp 256.
Dari sisi fundamental, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta Utama, menilai prospek saham BUMI masih menarik meski pergerakan harganya berada di area overbought.
Menurutnya, arah kinerja BUMI menunjukkan progres yang cukup positif, terutama setelah perusahaan resmi mengakuisisi tambang emas Wolfram Limited (WFL) di Australia.
Emiten pertambangan dan batu bara ini memang resmi memegang 100 persen saham WFL usai membeli sisa 0,32 persen kepemilikan atau 400.670 lembar saham senilai Rp 2,21 miliar, setara 200.335 dollar Australia, pada 7 November 2025.
Transaksi ini melengkapi pembelian 99,68 persen saham tahap pertama yang dilakukan pada awal Oktober. Pembelian saham WFL ini merupakan lanjutan atas rangkaian transaksi untuk mengakuisisi 100 persen saham WFL.
Dengan transaksi senilai total Rp 698,98 miliar atau sekitar 63,5 juta dollar Australia, BUMI kini sepenuhnya menguasai WFL. Perusahaan tambang asal Australia Barat itu berfokus pada komoditas tembaga dan emas.
“BUMI juga mengakuisisi tambang emas, jadi fokusnya kini pada diversifikasi. Akuisisi Wolfram Limited ini penting untuk memperkuat arah bisnis jangka panjang,” ucap Nafan ketika dihubungi Kompas.com.
Langkah diversifikasi ini menjadi krusial mengingat proyeksi harga batu bara ke depan yang cenderung fluktuatif.
Lebih jauh, Nafan juga menekankan pasar menantikan arahan lebih jelas dari jajaran direksi dan komisaris perusahaan yang baru, terutama terkait strategi sinergi pasca-akuisisi.
“Ini diharapkan menjadi strategi untuk memperkuat kinerja dan meningkatkan sustainability bisnis,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa. Ia menyebut transformasi BUMI dari emiten batu bara menuju portofolio yang lebih terdiversifikasi, khususnya masuk ke segmen emas, merupakan langkah penting untuk memperluas sumber pendapatan jangka panjang.
Namun menurut Reydi, dampaknya baru akan terasa jika perubahan manajemen di RUPSLB hari ini diikuti kerja yang lebih konkret.
“Perubahan manajemen bisa menjadi trigger positif, tetapi harus diiringi tindakan, progres yang jelas, transparansi, dan eksekusi strategi yang terukur,” tegasnya.
Reydi menilai kombinasi antara manajemen baru dan akuisisi besar seperti WFL memberikan potensi pemicu signifikan bagi kinerja saham BUMI.
Dengan tiga motor pendorong, RUPSLB untuk pergantian manajemen, sinyal teknikal positif, dan akuisisi strategis WFL, BUMI menjadi salah satu saham yang paling dipantau pasar pada hari penting ini.
“Untuk saham BUMI dengan manajemen yang baru ditambahkan akuisisi besar (WFL) maka potensi trigger cukup besar, tinggal investor menantikan hasilnya ke depan,” ungkapnya.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
Tag: #jelang #rupslb #saham #bumi #menguat #analis #soroti #efek #akuisisi #tambang #emas #australia