Meski Negara Tropis, Indonesia Sabet Juara 2 Lomba Patung Salju Sapporo 2026
International Snow Sculpture Contest 2026 di Sapporo, Hokkaido, Jepang(DOK. PRIBADI BAMBANG SURYANA)
12:21
24 Februari 2026

Meski Negara Tropis, Indonesia Sabet Juara 2 Lomba Patung Salju Sapporo 2026

Bagi negara empat musim, salju adalah bagian dari keseharian. Namun bagi Indonesia, salju hanya bisa disentuh di layar kaca atau ruang pendingin buatan.

Karena itu, ketika tiga seniman Indonesia berdiri di tengah suhu minus derajat di Kota Sapporo, Jepang, ada jarak geografis sekaligus simbolik yang sedang mereka taklukkan.

Di ajang Sapporo Snow Festival 2026, tepatnya dalam kompetisi International Snow Sculpture Contest 2026, tim Indonesia berhasil meraih juara kedua.

Sebuah pencapaian yang terasa lebih dari sekadar peringkat, mengingat ketiganya datang dari negeri tropis yang tidak pernah bersentuhan dengan musim dingin ekstrem.

Baca juga: Rute Kereta Terpanjang, Menyusuri Sepertiga Dunia, Lewati 8 Zona Waktu

Karya yang mereka hadirkan berjudul Tari Merak, ikon budaya Jawa Barat yang anggun dan penuh warna, kini diterjemahkan dalam medium putih yang beku.

Tim patung salju Indonesia yang bernaung di bawah Garuda Sculpture Indonesia merupakan komunitas yang lahir dari perkumpulan para pemahat es profesional.

“Awalnya itu ice carving yang biasa buat di hotel itu kan ada tuh. Iya, yang dia berbahan es balok gitu,” ujar salah satu anggota tim, Bambang Suryana, dikutip dari Ohayo Jepang (12/2/2026).

Tiga hari, suhu Minus, dan blok salju tiga meter

Perjalanan patung itu tidak dimulai di Jepang, melainkan jauh sebelumnya, di ruang diskusi sederhana, dengan lembar-lembar sketsa dan perhitungan matang.

Tim di bawah naungan Garuda Sculpture Indonesia ini menghabiskan sekitar empat bulan untuk menyempurnakan konsep.

Awalnya, mereka hanya merancang satu figur penari. Namun, setelah berbagai pertimbangan teknis dan artistik, komposisi diubah menjadi dua sosok, yakni penari dan penabuh gendang.

Keputusan itu bukan semata demi estetika, melainkan juga untuk mengoptimalkan volume balok salju berukuran tiga meter kubik yang menjadi “kanvas” mereka.

Tidak semua ide bisa diwujudkan. Gerakan tangan yang terlalu terbuka misalnya, berisiko membuat struktur rapuh. Setiap lekukan harus mempertimbangkan keseimbangan. Dalam seni pahatan salju, keindahan tidak boleh mengalahkan kekuatan.

Baca juga: Salju Lebat Guyur Pesisir Laut Jepang, Pariwisata Terdampak

Mereka bahkan membuat maket sebagai panduan proporsi, memastikan tak satu inci pun melampaui batas ukuran yang ditetapkan panitia karena pelanggaran kecil saja bisa berujung diskualifikasi.

Kompetisi berlangsung selama tiga hari. Hujan salju turun deras, membasahi sarung tangan hingga membeku. Dalam kondisi seperti itu, bekerja terlalu lama di luar bisa mengancam kesehatan. Mereka harus bolak-balik ke ruang penghangat, menyesuaikan ritme kerja dengan alam yang tak bisa diajak kompromi.

Baca kisah selengkapnya di https://ohayojepang.kompas.com/read/5453/dari-negara-tropis-ke-panggung-dunia-indonesia-raih-juara-2-kompetisi-patung-salju-di-sapporo-2026

Tag:  #meski #negara #tropis #indonesia #sabet #juara #lomba #patung #salju #sapporo #2026

KOMENTAR