Bukan Jakarta, Kota Ini Punya Kedai Kopi Terbanyak di Indonesia
Seorang barista sedang membuat kopi dengan seni baru yaitu pairing kopi di Hotel Morazen Surabaya.(KOMPAS.com/SUCI RAHAYU)
16:35
21 Januari 2026

Bukan Jakarta, Kota Ini Punya Kedai Kopi Terbanyak di Indonesia

Kota Surabaya kini bukan hanya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga sebagai episentrum budaya ngopi nasional.

Berdasarkan data GoodStats.id yang bersumber dari POI Data, hingga akhir 2025 terdapat 12.510 kedai kopi beroperasi di Surabaya, tertinggi di Indonesia dan menyumbang sekitar 2,7 persen dari total 461.991 kedai kopi nasional.

Fenomena ini menempatkan Surabaya di atas Kota Bogor dan Kabupaten Sidoarjo yang masing-masing mencatat 11.459 dan 10.061 kedai kopi. Dominasi tersebut menegaskan kuatnya peran kota-kota di Jawa Timur dalam membentuk lanskap budaya kopi Indonesia.

Sejarawan FX Domini BB Hera menilai, posisi Surabaya sebagai kota dengan jumlah kedai kopi terbanyak bukanlah kebetulan.

“Surabaya tidak mengherankan lantaran kota ini secara demografis dan kultural menjadi pintu gerbang lalu lintas barang maupun migrasi manusia dari kawasan Indonesia Barat ke Indonesia Timur, pun sebaliknya,” ujarnya kepada Kompas.com, Rabu (21/1/2026) sore.

Menurutnya, dinamika ekonomi dan mobilitas manusia menjadikan Surabaya tumbuh sebagai kota besar dan sibuk, bahkan sejak era kolonial. Dimana kesibukan perniagaan menjadikannya kota terbesar dan tersibuk sesudah Batavia yang saat ini disebut Jakarta.

Kafe, Modernitas, dan Bahasa yang Menjual

Di tengah pertumbuhan itu, kafe tidak lagi sekadar tempat minum kopi, namun menjelma simbol modernitas kawasan urban.

“Kafe seolah-olah menjadi identitas baru modernitas sebuah wilayah,” kata FX Domini BB Hera.

Pilihan istilah pun memiliki pengaruh besar terhadap citra. Dimana kosa kata cafe lebih menjual dibanding kosa kata kedai kopi atau bahkan warung kopi (warkop) itu sendiri.

Sehingga transformasi ini semakin terasa pasca pandemi Covid 19 pada tahun 2021 lalu. Selain Work From Home (WFH), muncul kebiasaan baru bekerja dari kafe.

“Menjadi tren umum di kalangan mahasiswa hingga para pekerja maupun wira usaha,” imbuhnya.

“Sebagian pelaku usaha FnB (Food and Beverages) memang menyadari ada segmen pasar WFC yang cukup optimal,” katanya lagi.

Pengurus Sivitas Kotheka membaca buku dan berdiskusi di Cafe Balada di Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan, Minggu (10/8/2025) malam.KOMPAS.COM/Fathor Rahman Pengurus Sivitas Kotheka membaca buku dan berdiskusi di Cafe Balada di Kelurahan Lawangan Daya, Pamekasan, Minggu (10/8/2025) malam.

Bukan Sekadar Budaya Global

Kini meski menjamur, ia menilai perkembangan kedai kopi tidak bisa disederhanakan sebagai penetrasi budaya global atau kapitalisme semata.

“Rasanya berlebihan untuk mengaitkan ini sebagai budaya global dan kapitalisme lantaran segmen bisnis kafe sendiri sangat kompetitif di Jawa,” ujar sejarawan yang juga dosen Departemen Humaniora dan Interdisipliner Universitas Ciputra Surabaya.

Menurutnya, persaingan justru terlihat dari keberagaman konsep yang ditawarkan. Sehingga ketatnya kompetisi itu dapat dilihat dari segmen yang digarap. Mulai tematik atau ciri khas cafe yang diusung sampai interior-eksterior dari arsitektur yang dipresentasikan.

“Semakin berbeda, semakin membuat kompetisi makin dinamis ketimbang kedai kopi mondial seperti merek Starbucks yang memiliki benang merah di seluruh cabang franchise-nya,” sambungnya.

Dalam sejarahnya, kafe bahkan pernah menjadi ruang perubahan sosial. Kafe menjadi penggerak perubahan sosial karena fungsi utamanya adalah pertemuan dan percakapan merujuk peran kedai kopi dalam Revolusi Prancis.

Pergeseran Ruang Publik

Untuk itu meningkatnya jumlah kafe juga menandai pergeseran fungsi ruang publik. Namun Domini menekankan, hal itu bergantung pada karakter tempatnya. 

“Warung tradisional kita rerata tidak dirancang untuk ruang pertemuan dan percakapan dengan durasi lama,” kata FX Domini BB Hera.

“Kedai atau warung kopi berbeda, lahan dan ketersediaan ruang bagi para pengunjungnya bersifat lebih rileks.”

“Bagi budaya lokal, masyarakat makin diperkaya karena setiap tempat kuliner memiliki segmen pasar dan pengunjungnya masing-masing,” imbuhnya.

Suasana pengunjung yang telah melalui tangga darurat di Tunjungan Electronic Center (TEC) untuk dapat menikmati sajian dari Kedai Lima Sembilan Tunjungan Surabaya.KOMPAS.com/SUCI RAHAYU Suasana pengunjung yang telah melalui tangga darurat di Tunjungan Electronic Center (TEC) untuk dapat menikmati sajian dari Kedai Lima Sembilan Tunjungan Surabaya.

Namun, ia juga menyoroti peran media sosial yang membuat kafe lebih dominan dalam ruang digital.

“Dalam posisi ini ada jarak memang antara kafe yang lebih sering berlalu lalang di media sosial ketimbang tempat kuliner lain,” ujar sejarawan yang juga guru sejarah SMA HelloMotion Malang.

Cangkrukan yang Beradaptasi

Selanjutnya dalam konteks Jawa Timur yang dikenal egaliter, kafe dinilai tidak mengikis budaya kolektif, melainkan memperkuatnya.

Sebab budaya cangkrukan terus beradaptasi dengan ruang dan zaman. Tidak menutup kemungkinan, konsep kafe terus mengalami evolusi dan inovasi untuk mengakomodir budaya cangkrukan. Namun di balik maraknya kafe, tantangan bisnis tetap besar.

“Masih jarang ditemui kafe yang bisa bertahan lebih dari 5–10 tahun,” pungkas FX Domini BB Hera.

Tag:  #bukan #jakarta #kota #punya #kedai #kopi #terbanyak #indonesia

KOMENTAR