8 Destinasi Populer yang Disarankan Tak Dikunjungi di 2026, Kenapa?
Panduan perjalanan berbasis di Amerika Serikat, Fodor’s Travel, kembali merilis daftar tahunan bertajuk Fodor’s No List 2026.
Berbeda dari daftar rekomendasi destinasi favorit, No List justru menyoroti destinasi populer dunia yang dinilai perlu dihindari wisatawan pada tahun 2026.
Daftar ini disusun bukan untuk melarang perjalanan, melainkan sebagai peringatan bagi wisatawan agar lebih bijak memilih tujuan liburan.
Fodor’s menilai, lonjakan kunjungan yang berlebihan, tekanan lingkungan, hingga dampak sosial terhadap warga lokal membuat sejumlah destinasi berada di titik kritis.
Melansir Fodor’s Travel, daftar No List 2026 disusun berdasarkan masukan jurnalis perjalanan, pakar keberlanjutan, serta komunitas lokal yang terdampak langsung oleh pariwisata massal.
8 destinasi populer dunia dalam Fodor’s No List 2026
Menurut Fodor’s, banyak destinasi yang selama ini menjadi ikon wisata dunia justru menghadapi persoalan serius akibat overtourism.
Dampaknya bukan hanya pada kerusakan lingkungan, tetapi juga meningkatnya biaya hidup warga lokal, krisis air, hingga hilangnya identitas budaya.
Fodor’s menegaskan bahwa daftar ini bukan ajakan untuk memboikot destinasi, melainkan dorongan agar wisatawan mempertimbangkan waktu kunjungan, alternatif destinasi, atau cara berwisata yang lebih bertanggung jawab.
Berikut delapan destinasi populer dunia yang masuk dalam Fodor’s No List 2026 dan disarankan untuk dihindari sementara atau dikunjungi dengan sangat bijak:
1. Antartika
Antartika kembali disorot karena kondisi lingkungannya yang mulai rusak. Lonjakan wisata kapal pesiar dan ekspedisi wisata dinilai meningkatkan risiko gangguan terhadap ekosistem, termasuk satwa liar dan lapisan es yang sensitif terhadap perubahan iklim. Peningkatan kunjungan tanpa pengelolaan ketat dapat mempercepat kerusakan kawasan ini.
2. Kepulauan Canary, Spanyol
Kepulauan Canary menghadapi tekanan besar akibat jumlah wisatawan yang terus meningkat. Dampaknya terlihat pada keterbatasan sumber daya, tekanan infrastruktur, serta meningkatnya ketegangan dengan warga lokal. Pariwisata di kawasan ini mulai memengaruhi kualitas hidup masyarakat setempat.
3. Glacier National Park, Amerika Serikat
Taman nasional ini mengalami lonjakan kunjungan dalam beberapa tahun terakhir. Selain kepadatan wisatawan, Glacier National Park juga menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim, termasuk mencairnya gletser. Kombinasi tekanan alam dan manusia membuat kawasan ini perlu jeda dari arus wisata besar.
4. Isola Sacra, Italia
Isola Sacra disorot karena rencana pembangunan pelabuhan kapal pesiar berskala besar. Proyek tersebut dikhawatirkan berdampak pada ekosistem pesisir dan mengubah karakter kawasan yang selama ini relatif tenang. Masuknya wisata massal berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan dan kehidupan warga.
5. Jungfrau Region, Swiss
Wilayah pegunungan Jungfrau dikenal sebagai salah satu destinasi alam paling ikonik di Swiss. Namun popularitas yang terus meningkat menekan sumber daya lokal, mulai dari jalur pendakian hingga transportasi. Risiko kerusakan lingkungan jika arus wisatawan tidak dikelola dengan lebih ketat.
6. Mexico City, Meksiko
Ibu kota Meksiko ini menghadapi dampak pariwisata dalam bentuk gentrifikasi dan tekanan perumahan. Meningkatnya penyewaan jangka pendek untuk wisatawan telah mendorong naiknya harga sewa dan menggeser warga lokal dari pusat kota, sehingga mengubah wajah permukiman.
7. Mombasa, Kenya
Destinasi pesisir Mombasa dinilai kewalahan menghadapi pertumbuhan pariwisata. Tekanan terhadap infrastruktur, lingkungan laut, serta kawasan pesisir menjadi sorotan. Tanpa pengelolaan berkelanjutan, daya tarik alam Mombasa justru berisiko menurun.
8. Montmartre, Prancis
Kawasan Montmartre di Paris dikenal dengan suasana artistik dan sejarahnya. Namun Fodor’s menilai pariwisata massal telah mengubah kawasan ini menjadi area yang sangat padat wisatawan, mengganggu kehidupan sehari-hari warga lokal dan mengikis identitas budaya yang selama ini menjadi daya tarik utama.
Fodor’s mengajak wisatawan untuk tidak hanya mengejar destinasi populer, tetapi juga mempertimbangkan dampak perjalanan terhadap lingkungan dan komunitas lokal. Beberapa alternatif yang disarankan antara lain:
- Mengunjungi destinasi di luar musim puncak
- Memilih tempat wisata alternatif yang kurang padat
- Mengikuti prinsip pariwisata berkelanjutan
- Menurut Fodor’s, keputusan wisatawan memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata dunia di masa depan
Tag: #destinasi #populer #yang #disarankan #dikunjungi #2026 #kenapa