



Karya Seni dari Ruang Garasi, Seni sebagai Jembatan Mengenal Budaya
Perupa Sri Hardana mengombinasikan beragam ’’ilmu’’ dalam karya terbarunya. Selain menunjukkan kapasitasnya sebagai seniman, karyanya itu menjadi representasi kacang ora ninggal lanjaran.
ANAK Panah Nogo Sui. Demikian judul karya Sri Hardana yang dipamerkan di Ruang Garasi, Jakarta. Karya itu menggabungkan seni, permainan, dan ramalan dalam budaya Jawa. Instalasi interaktif tersebut memang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga mengajak penonton berpartisipasi.
Dilihat dari aspek estetika, ada keindahan dalam karya. Lalu, soal permainan dengan lemparan anak panahnya. Dan, yang terakhir, ramalan yang tersemat budaya Jawa di dalamnya.
Karya seni itu terbagi dalam tiga panel. Yakni, panel pertanyaan, panel panahan, dan panel jawaban. Dalam panel pertanyaan, terdapat 21 pertanyaan terkait hidup. Dari soal rezeki, asmara, dan sebagainya. Dalam setiap pertanyaan itu terdapat kode batu.
Lantas, dalam panel panahan terdapat 21 lambang. Di antaranya, tanda cinta, bintang, bulat, dan kotak. Yang terakhir panel jawaban, yang memuat jawaban dengan mencocokkan kode batu dan hasil lemparan anak panah yang mengenai lambang tertentu.
PUNYA KEKHASAN: Dalam karya Anak Panah Nogo Sui ini ada tiga panel. Yakni, panel pertanyaan, panel panahan, panel jawaban. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Sebagaimana yang dirasakan Mayek Prayitno, penulis gelar karya tersebut. Mayek memilih pertanyaan apakah orang yang telah pergi akan kembali atau tidak, dengan kode batu tapak jalak. Lantas, anak panah dilempar dan mengenai lambang cinta.
Kode batu tapak jalak yang dikombinasikan dengan lambang cinta itu memunculkan jawabannya: Akan kembali setelah hatinya kecewa dengan pasangannya sendiri. ’’Ini benar-benar tidak didapatkan dari karya seni lainnya,” kata Mayek.
Jawaban itu memang terasa masuk akal. Karya tersebut seakan membawa penikmatnya mencari jawaban dari masalah hidupnya, dengan sensasi permainan dan misteri ilmu primbon. ’’Tujuan saya membuat karya dengan berbasis ramalan ini adalah menjembatani masyarakat untuk kembali ke budayanya. Orang Jawa yang kembali memahami budaya Jawa,” jelas perupa Sri Hardana.
Primbon dalam budaya Jawa sebenarnya merupakan ilmu berdasar pengalaman hidup dari nenek moyang. Bukan tanpa dasar, dari ilmu titen atau hasil pengamatan terhadap alam sekitar. Yang kemudian ditambah dengan ilmu pitung atau perhitungan. ’’Ilmu titen ini misalnya, mengingat kapan menanam padi dengan hasil baik. Menanam padi hasilnya jelek juga diingat waktunya,” ujar Hardana.
BIDIK SASARAN: Dalam pameran Anak Panah Nogo Sui, pengunjung juga bisa menjajal wahana permainan lempar anak panah. (SALMAN TOYIBI/JAWA POS)
Lalu, ilmu pitung itu merupakan pengalaman sendiri. Tidak semata-mata percaya begitu saja dengan ilmu titen, tetapi dihitung pula dengan pengalaman sendiri. ”Pitung dari perhitungan sendiri, misalnya saya sudah sepuluh tahun menjadi pengusaha. Mau pindah tempat usaha, tentunya memiliki pengalaman perhitungan sendiri,” tutur Hardana.
Dia menuturkan, nanti hampir pasti setiap orang yang menerapkan ilmu titen dan ilmu pitung itu merasakan adanya kesamaan pola. ’’Ini bukan soal mistis, bukan soal ingin dikenal, ini bisa menjadi laku perjalanan yang selamat dari segala bencana,” jelasnya.
Sebagaimana anak muda atau orang Jawa sekarang ini. Sudah kehilangan isinya, tidak mengenal budaya Jawanya. Bahkan cenderung lebih mengenal budaya luar negeri. ”Makanya, di awal saya ingin karya ini menjembatani ke budaya sendiri,” kata Hardana.
Sementara itu, penulis pameran Mayek Prayitno menuturkan, perupa Sri Hardana atau yang lebih dikenal sebagai Danart tersebut seperti menginginkan karyanya tidak bisa dilupakan. Sebagaimana saat melihat pameran lukisan, setelahnya lupa lukisan apa.
Makanya ada kombinasi permainan, seni, dan ramalan. Dia menyatakan bahkan sangat terasa bahwa karya seni itu ingin masuk ke keseharian setiap orang. ’’Kalau ide dari karya ini memang karena senimannya mempraktikkan ilmu titen dan pitung dalam kesehariannya,” paparnya. (idr/c12/dra)
Tag: #karya #seni #dari #ruang #garasi #seni #sebagai #jembatan #mengenal #budaya