Rumah Subsidi Laris, Cek Harga Terbarunya di Sini
- Skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) memudahkan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) untuk membeli rumah subsidi.
"Harga rumah Kredit Pemilikan Rumah (KPR) FLPP 2026 tidak mengalami kenaikan, masih tetap sesuai 5 zonasi wilayah," kata Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Heru Pudyo Nugroho kepada Kompas.com, dikutip Sabtu (31/01/2026).
Adapun harga rumah subsidi diatur dalam draf Keputusan Menteri (Kepmen) Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 689/KPTS/M/2023.
Baca juga: FLPP Masih Jadi Incaran, 7.312 Rumah Subsidi Sold Out Selama Januari
Kepmen PUPR itu mengatur harga jual maksimal rumah subsidi tahun 2023 dan 2024. Namun apabila tahun berikutnya belum terbit aturan terbaru, harga mengacu tahun 2024.
Sebagai perbandingan, berikut ini daftar harga maksimal rumah subsidi di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2025:
- Jawa (kecuali Jabodetabek) dan Sumatera (kecuali Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Kepulauan Mentawai) harga jual maksimal Rp 166.000.000
- Kalimantan (kecuali Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Mahakam Ulu) harga jual maksimal Rp 182.000.000
- Sulawesi, Bangka Belitung, Kepulauan Mentawai, dan Kepulauan Riau (kecuali Kepulauan Anambas) harga jual maksimal Rp 173.000.000
- Maluku, Maluku Utara, Bali dan Nusa Tenggara, Jabodetabek, dan Kepulauan Anambas, Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Mahakam Ulu harga jual maksimal Rp 185.000.000
- Papua, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya dan Papua Selatan harga jual maksimal Rp 240.000.000
7.312 Rumah Subsidi Sold Out
BP Tapera melaporkan, sebanyak 7.312 unit rumah subsidi sudah diborong pembeli, per 30 Januari 2026. Artinya, sebanyak Rp 912,4 miliar anggaran FLPP sudah tersalurkan melalui program ini.
Pada tahun 2026, Pemerintah dan BP Tapera mematok penyaluran FLPP sebanyak 350.000 unit rumah subsidi.
Baca juga: James Riady Heran Semua Fokus Rumah Subsidi, Padahal Komersial Lebih Besar
"Penyaluran ini meningkat hingga 177,7 persen jika dibandikan periode yang sama tahun lalu. Ada peningkatan signifikan penyaluran FLPP bulan Januari tahun ini jika dibandingkan tahun lalu," ungkap Heru, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (30/01/2026).
Sementara dilaporkan, capaian penyaluran FLPP pada Januari 2025 adalah hanya sebesar 2.633 unit rumah subsidi.
Optimisme ini menurut Heru menjadi awal yang bagus dan menggembirakan untuk bulan-bulan selanjutnya.
"Bank penyalur dana FLPP, dari awal tahun sudah bergerak aktif untuk menyalurkan dana FLPP. Di awal kami menargetkan bulan Januari 2026 hanya 3.305 unit rumah tetapi pada akhirnya realisasi jauh di atas target, naik hingga 45,19 persen," lanjut dia.
Baca juga: Mau Beli Rumah Subsidi Tahun Ini? Cek Syarat dan Ketentuannya
Realisasi Januari 2026 didukung oleh kontribusi dari 18 Bank Penyalur, 20 Asosiasi Pengembang Perumahan, 2.435 pengembang yang tersebar di 33 provinsi di 293 kabupaten/kota.
"Swasta masih mendominasi hingga 75,85 persen, disusul wiraswasta 14,33 persen, PNS 6,37 persen dan lainnya 3,45 persen," jelasnya.
BTN Masih Jadi Penyalur Terbanyak
Heru mengatakan, BTN masih menjadi bank penyalur terbanyak dengan capaian 4.160 unit rumah subsidi.
Disusul BSN sebanyak 861 unit rumah, Mandiri sebanyak 699 unit rumah, BNI sebanyak 616 unit rumah, BRI sebanyak 587 unit rumah, serta 13 bank penyalur lainnya.
"Kami berharap bank penyalur lainnya segera merealisasikan penyaluran dana FLPP sehingga target tahun 2026 dapat tercapai dengan optimal," ungkap dia.
Baca juga: Mengapa Target 350.000 Rumah Subsidi FLPP Tahun 2025 Meleset?
Pencapaian ini tidak terlepas dari berbagai strategi yang dilakukan oleh BP Tapera, terutama berhasilnya BP Tapera dalam menyakinkan Kementerian Keuangan untuk bisa menyalurkan dana FLPP di awal tahun 2026.
Menurut Heru, target 350.000 unit rumah yang ditetapkan pada awal tahun sangat membantu dalam menentukan strategi pencapaian.
BP Tapera secara rutin melakukan monitoring komitmen target bank setiap harinya, sejak awal tahun sudah aktif melakukan sosialisasi baik melalui daring maupun luring untuk seluruh Indonesia.
"Selain itu, Bank penyalur FLPP juga telah menargetkan secara mingguan kepada bank penyalur yang ada di cabang-cabang mereka. Sehingga target lebih terukur," ujar dia.
BP Tapera juga aktif melakukan kopi darat dengan seluruh asosiasi pengembang untuk membahas kendala, strategi dan percepatan penyaluran dana FLPP.
"Langkah-langkah ini sangat membantu kami dan Kami berharap juga akan lebih gencar lagi untuk bulan-bulan berikutnya," pungkas Heru.