Bagaimana Drama Pendek China Berubah Jadi Mesin Konten AI
Ilustrasi demam Drama China (Dracin) berdurasi singkat yang kian populer di media sosial.(KOMPAS.com/Wahyunanda Kusuma)
09:33
18 Mei 2026

Bagaimana Drama Pendek China Berubah Jadi Mesin Konten AI

- Sebuah adegan memperlihatkan seorang perempuan muda yang ketakutan dilemparkan ke tempat tidur oleh seorang pria kekar.

Sang pria meraih tangannya, dan tanaman merambat yang menyerupai api seketika merayap dan menyatu dengan daging perempuan itu. Ia melayang, lalu terjatuh. Sebuah tato berbentuk naga pun muncul di dadanya.

"Dua bulan," ucap pria tersebut. "Beri aku pewaris, atau aku akan memakanmu."

Sekilas, adegan penuh drama dari serial Carrying the Dragon King's Baby ini tampak seperti tayangan serial picisan yang bisa disaksikan di aplikasi, seperti DramaWave dan ReelShort.

Namun, ada visual yang ganjil dari cuplikan tersebut, terasa seperti persilangan antara sebuah film dan adegan cutscene di dalam video game.

Keganjilan itu rupanya berasal dari satu fakta mencengangkan, serial tersebut murni dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Tidak ada aktor, tidak ada operator kamera, tidak ada sutradara, apalagi spesialis efek visual (CGI) yang terlibat dalam pembuatannya.

Inilah wajah baru industri hiburan drama pendek China (dracin) yang kini telah sepenuhnya dikendalikan oleh "mesin" AI.

Industri drama China telah menjadi fenomena raksasa sejak pertama kali meledak pada tahun 2018. Tayangan hiper-melodramatis yang terkadang dibumbui konten dewasa ini dirancang khusus untuk layar smartphone.

Durasinya sangat singkat, rata-rata hanya satu hingga dua menit, sehingga penonton bisa menyelesaikan satu musim hanya dalam waktu 30 menit hingga satu jam.

Konten "sinetron mikro" ini dibuat dengan alur cerita yang memancing adrenalin dan penuh plot twist demi membuat penonton terus melakukan scrolling.

Baca juga: Ini Dia Tim AI Andalan untuk Produksi Dracin yang Bikin Ketagihan

Tren ini semakin menggila berkat bombardir iklan di platform, seperti TikTok, Instagram, dan Facebook, yang sukses merayu penonton untuk berlangganan.

Pada 2024, nilai pasar dracin dilaporkan mencapai 6,9 miliar dollar AS, bahkan menembus dan melampaui pendapatan film layar lebar tahunan negara tersebut untuk pertama kalinya.

Tak puas jago kandang, perusahaan pembuat drama pendek China mulai berekspansi ke luar negeri sejak 2022.

Mereka menerjemahkan karya-karya populer dan memproduksi serial lokal dengan aktor setempat. Amerika Serikat kini menjadi pasar asing terbesar, menyumbang sekitar 50 persen dari total pendapatan global menurut firma riset DataEye.

Di tahun ini, Omdia memperkirakan pasar mikrodrama global akan mencapai 14 miliar dollar AS.

Baca juga: Nvidia Dulu Kuasai China 90 Persen Kini Jadi Nol, Ini Penyebabnya

Makin murah berkat AI

Tak mau berhenti berinovasi, perusahaan-perusahaan asal China ini mulai menemukan cara yang jauh lebih efisien untuk mendulang pundi-pundi uang, yakni dengan teknologi AI generatif.

Rata-rata, ada sekitar 470 judul drama pendek yang sepenuhnya dibuat dengan AI dirilis setiap harinya pada Januari 2026, seperti dirangkum KompasTekno dari TecnologiReview.

Platform drama seperti FlexTV bahkan dilaporkan telah menghentikan seluruh proses syuting konvensionalnya dan beralih seratus persen ke pembuatan drama berbasis AI.

"Semua orang mengharapkan pengembalian (modal) yang cepat. Di China, jika sebuah serial tidak balik modal dalam waktu satu bulan, industri akan menganggapnya sebagai sebuah kegagalan," kata Tang Tang, Wakil Presiden platform FlexTV.

Sebelum era AI, sebuah proyek drama mulai dari konseptualisasi, penulisan naskah, perekrutan aktor, syuting, hingga editing, membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan. Biaya produksi di pasar Amerika Utara bahkan bisa menyentuh angka 200.000 dollar AS.

Namun kini, AI memangkas proses itu menjadi hanya kurang dari sebulan dan merampingkan biaya produksi hingga 80 hingga 90 persen.

Bos Kunlun Tech, Han "Daniel" Fang, mengatakan tren serial drama pendek yang dibuat oleh AI ini merupakan bentuk adaptasi karena rentang perhatian (attention span) manusia kini juga semakin pendek.

Baca juga: Inilah 8 Penyakit Mental Gen Z, Brain Fry hingga Imposter Syndrome

Kru produksi dan penulis menjerit

Transisi ini secara langsung telah membabat habis lapangan pekerjaan bagi kru produksi tradisional. Perusahaan kini tak lagi membutuhkan jasa kru kamera, teknisi tata cahaya, atau penata rias.

Tim produksi raksasa bisa disusutkan menjadi kelompok kecil yang hanya berisi produser, penulis naskah, "sutradara AI", dan sebuah profesi baru bernama "Kurator Aset AI".

Tugas Kurator Aset AI sangat sederhana tapi vital. Mereka menerjemahkan naskah cerita menjadi sebuah perintah teks (prompt) ke dalam sistem, lalu menghasilkan gambar referensi karakter, kostum, dan adegan yang harus diikuti oleh model video AI.

Para kurator ini biasanya mengandalkan generator populer, seperti Nano Banana milik Google, Seedance buatan ByteDance, atau Kling besutan Kuaishou.

Nasib tak kalah miris dialami para penulis naskah. Phoenix Zhu, seorang penulis lepas, mengaku bahwa beban kerjanya kini berubah drastis dan bayarannya mulai anjlok semenjak kemunculan AI.

Tenggat waktu pengerjaan naskah dipangkas dari hitungan bulan menjadi hanya beberapa minggu.

Lebih parahnya lagi, Zhu dan rekan-rekannya kini tidak lagi dituntut sekadar menulis untuk dipertontonkan kepada penonton manusia, melainkan menulis naskah yang ditujukan agar bisa "dibaca" dan dimengerti oleh mesin AI.

Tugas merangkai visual adegan yang tadinya menjadi tanggung jawab sinematografer atau tim CGI kini ikut dibebankan kepadanya.

"Sebelum ada AI, menulis 'Ia menatapnya dengan dingin' saja sudah cukup. Tapi sekarang, saya mungkin harus mendeskripsikannya dengan tulisan, 'Sinar cahaya dingin memancar keluar dari matanya' (agar bisa diterjemahkan oleh AI)," keluh Zhu.

Baca juga: Ramalan 2028: AI Makin Pintar, Krisis dan Pengangguran Meningkat

Meskipun industri ini kerap dicibir karena mengandalkan alur cerita yang itu-itu saja, seperti tema balas dendam, cinta segitiga, atau musuh jadi cinta demi mempertahankan efek kejutan bagi penonton, mantan mitra Legend Capital Shangguan Hong memaklumi kondisi ini.

"Tidak ada orang yang datang menonton drama pendek untuk mengharapkan sebuah karya seni tingkat tinggi. (Sejak awal), industri drama pendek memang digerakkan oleh data secara real-time. AI hanya mempertegas logika tersebut. Dalam arti tertentu, drama pendek memang sangat cocok dipasangkan dengan AI," pungkas Hong.

Baca juga: Mengapa China Tak Terobsesi Bikin AI Paling Pintar?

Tag:  #bagaimana #drama #pendek #china #berubah #jadi #mesin #konten

KOMENTAR