IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi 1, Ini Penyebabnya
Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)
11:36
18 Mei 2026

IHSG Anjlok 4,64 Persen Jelang Penutupan Sesi 1, Ini Penyebabnya

Tekanan jual di pasar saham domestik kian tak terbendung.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 311,795 poin atau 4,64 persen ke level 6.411,525 jelang penutupan sesi satu perdagangan, Senin (18/5/2026).

IHSG dibuka di posisi 6.628,976 dan sempat menyentuh area tertinggi di 6.631,282.

Baca juga: IHSG Anjlok 4,30 Persen dalam 1,5 Jam, Pasar Waspadai Trading Halt

Ilustrasi saham, IHSG. canva.com Ilustrasi saham, IHSG.

Namun setelah pembukaan, indeks langsung bergerak turun tajam dan terus berada di zona merah hingga menyentuh angka terendah di 6.410,587.

Pelemahan IHSG terjadi di tengah dominasi saham yang bergerak negatif.

Sebanyak 704 saham turun, hanya 66 saham menguat dan 47 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan terpantau ramai dengan volume transaksi mencapai 18,297 miliar saham.

Baca juga: IHSG Anjlok dan Rupiah Terjun: Ini Penyebab Tekanan Pasar Keuangan RI

Nilai transaksi atau turnover sebesar Rp 9,990 triliun dengan frekuensi perdagangan menyentuh 1.482.475 kali transaksi.

Lantas apa yang membuat IHSG anjlok pada sesi satu perdagangan hari ini?

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan di pasar saham domestik masih cukup besar di tengah berlanjutnya arus keluar dana asing dan meningkatnya risiko geopolitik global.

Berdasarkan BEI, IHSG mencatatkan net foreign sell atau jual bersih harian sebesar Rp 1,35 triliun.

Sementara secara year to date (YTD), net foreign sell mencapai Rp 49,28 triliun dengan kinerja IHSG terkoreksi 22,25 persen sepanjang tahun berjalan.

Baca juga: IHSG Anjlok 3,8 Persen, Efek MSCI dan FTSE Russell Tekan Pasar

Ilustrasi pasar saham.PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.

Secara teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam kondisi oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI) dan berpotensi menguji area “wave 5/A”.

Namun demikian, indikator Stochastics KD masih menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan tercatat mengalami penurunan.

Menurut Nafan, pasar cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan Amerika Serikat dan Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz.

“Market cenderung merespons neutral hingga negatif karena pertemuan AS-Tiongkok belum menghasilkan kesepakatan substansial yang bersifat mengikat terkait stabilitas kawasan Timur Tengah maupun pembukaan normal jalur Selat Hormuz,” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Senin.

Baca juga: IHSG Awal Sesi Turun 3,34 Persen, Investor Bisa Cermati Saham BUMI hingga MINA

Kondisi tersebut diperburuk oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang disebut siap meningkatkan intensitas militer apabila Teheran tidak melunak.

Hal itu dinilai menunjukkan bahwa risiko geopolitik di Timur Tengah masih sangat rapuh.

Di sisi lain, pasar juga masih mencerna dampak keluarnya sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index maupun MSCI Small Cap Index pasca pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pekan lalu.

Nafan memperkirakan arus keluar dana asing atau foreign outflow masih akan berlanjut, meski intensitasnya diprediksi lebih rendah dibandingkan saat awal kepanikan pasar.

Baca juga: IHSG Dibuka Anjlok 2,80 Persen, Tekanan Asing dan MSCI Bayangi Pasar

“Diperkirakan bahwa foreign outflow masih berlanjut dengan penurunan intensitas dibanding pada saat awal kepanikan,” paparnya.

Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertahan di kisaran Rp 17.597 per dollar AS juga dinilai menjadi faktor penekan utama terhadap volatilitas IHSG.

Saat ini kurs rupiah melemah di atas level psikologis Rp 27.600 per dollar AS.

Para pelaku pasar juga disebut cenderung mengambil posisi defensif sambil mencermati langkah intervensi Bank Indonesia menjelang pengumuman suku bunga acuan atau BI-Rate pada Rabu (20/5/2026).

Baca juga: IHSG Mei 2026 Diguncang Rebalancing MSCI dan Pelemahan Rupiah, Investor Diminta Lebih Defensif

“Diperkirakan BI akan menahan BI-Rate pada 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah,” lanjutnya.

Tag:  #ihsg #anjlok #persen #jelang #penutupan #sesi #penyebabnya

KOMENTAR