Listrik Hanya 30 Menit Per Hari: Krisis Energi Parah di Kuba
Orang-orang bekerumun sepanjang tepi laut Havana untuk memperingati Hari Buruh Internasional di Platform Anti-Imperialis di depan Kedutaan Besar AS di Havana pada 1 Mei 2026.(AFP/YAMIL LAGE)
11:28
18 Mei 2026

Listrik Hanya 30 Menit Per Hari: Krisis Energi Parah di Kuba

Kuba telah kehabisan cadangan minyak karena blokade ketat Amerika Serikat (AS). Hal ini memicu pemadaman listrik hampir di seluruh negara.

Ekonomi Kuba lumpuh, dan infrastrukturnya telah runtuh.

Negara itu memproduksi kurang dari setengah kebutuhan minyaknya dan secara resmi telah kehabisan cadangannya.

Baca juga: Asia Terjepit Krisis Energi akibat Konflik Timur Tengah

Kapal patroli Rusia Neustrahimiy tiba di pelabuhan Havana pada 27 Juli 2024, sebagai bagian dari armada yang terdiri dari kapal pelatihan Smolniy dan kapal tanker minyak lepas pantai Yelnya. Armada Rusia akan tetap berada di pulau itu mulai 27-30 Juli. AFP/YAMIL LAGE Kapal patroli Rusia Neustrahimiy tiba di pelabuhan Havana pada 27 Juli 2024, sebagai bagian dari armada yang terdiri dari kapal pelatihan Smolniy dan kapal tanker minyak lepas pantai Yelnya. Armada Rusia akan tetap berada di pulau itu mulai 27-30 Juli.

Akibatnya, warga Kuba menghadapi pemadaman listrik yang meluas.

Sedikit bahan bakar yang diproduksi di dalam negeri dialihkan ke rumah sakit dan kebutuhan penting lainnya.

Bagi masyarakat umum, listrik mungkin hanya tersedia selama 30 hingga 90 menit per hari.

Selama waktu singkat ini, warga bergegas memasak dan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

Baca juga: Krisis Energi Dunia 2026, Cadangan Minyak Negara Berkembang Menipis

Jika tidak, mereka memasak dengan arang atau kayu dan tidur di luar pada malam hari karena panas.

Menteri Energi Kuba Vicente de la O Levy mengatakan, Kuba telah kehabisan solar dan bahan bakar minyak sepenuhnya.

Ia menjabarkan, jumlah gas yang tersedia terbatas, tetapi sistem energi Kuba berada dalam kondisi kritis karena blokade minyak yang dipimpin AS.

Warga Kuba telah menderita pemadaman listrik yang meluas, beberapa di antaranya terjadi di seluruh negeri, selama berbulan-bulan.

Baca juga: Pemerintah Miliki Skenario Darurat Hadapi Krisis Energi Global

Pekan lalu, setelah pemadaman listrik terbaru yang memengaruhi sebagian besar wilayah Kuba timur serta sebagian ibu kota, ratusan orang turun ke jalan di Havana, memblokir jalan dengan sampah yang terbakar dan meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah.

ilustrasi listrikmagnific ilustrasi listrik

Andalkan pasokan minyak domestik

Menurut de la O Levy, jaringan listrik nasional beroperasi sepenuhnya menggunakan minyak mentah domestik, gas alam, dan energi terbarukan, setelah pasokan bahan bakar dari kapal tanker Rusia yang tiba pada bulan April habis.

Kuba telah memasang 1.300 megawatt tenaga surya selama dua tahun terakhir, tetapi sebagian besar kapasitas tersebut hilang akibat ketidakstabilan jaringan listrik di tengah kekurangan bahan bakar, sehingga mengurangi efisiensi dan output.

Meskipun panel surya telah dipasang, Kuba kekurangan baterai yang memungkinkan mereka untuk terus memasok listrik ke rumah-rumah sepanjang malam.

Baca juga: Dunia Panik Krisis Energi dan Pangan, Prabowo: Kita Masih Aman

Dia mengatakan Kuba terus melakukan negosiasi untuk mengimpor bahan bakar meskipun ada blokade, tetapi mengatakan kenaikan harga minyak dan transportasi global di tengah perang AS-Israel dengan Iran semakin mempersulit upaya tersebut.

“Kuba terbuka bagi siapa pun yang ingin menjual bahan bakar kepada kami,” kata dia.

Hanya sedikit yang bersedia menerima tawaran itu.

Baik Meksiko maupun Venezuela, yang dulunya merupakan pemasok minyak utama ke Kuba, belum mengirimkan bahan bakar ke pulau itu sejak perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump pada Januari 2026.

Baca juga: Asosiasi: Kepastian Kebijakan Kendaraan Listrik Kunci Hadapi Ancaman Krisis Energi

Hanya satu kapal tanker minyak besar, Anatoly Kolodkin berbendera Rusia, yang telah mengirimkan minyak mentah ke Kuba sejak Desember tahun lalu.

Kunjungan intelijen Amerika Serikat ke Kuba

Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe telah bertemu dengan mitranya dari Kuba di kementerian dalam negeri di Havana, setelah AS memperbarui tawaran bantuan sebesar 100 juta dollar AS untuk meringankan dampak blokade minyaknya.

Sebuah pernyataan dari Kuba mengatakan, pertemuan itu merupakan upaya untuk meningkatkan dialog dan para pejabat AS diberi tahu Havana bukanlah ancaman bagi keamanan nasional AS.

Warga Havana, Kuba, menonton kapal selam bertenaga nuklir Rusia, Kazan, yang merupakan bagian dari konvoi angkatan laut Rusia yang mengunjungi Kuba, setelah tiba di pelabuhan Havana tanggal 12 Juni 2024.Yamil Lage/AFP Warga Havana, Kuba, menonton kapal selam bertenaga nuklir Rusia, Kazan, yang merupakan bagian dari konvoi angkatan laut Rusia yang mengunjungi Kuba, setelah tiba di pelabuhan Havana tanggal 12 Juni 2024.

Perkembangan ini terjadi ketika pemerintah AS sedang bersiap untuk mengajukan tuntutan terhadap pemimpin Kuba Raúl Castro atas penembakan jatuh dua pesawat kecil 30 tahun lalu.

Baca juga: IEA Wanti-wanti Krisis Energi Baru akibat Konflik Iran

Kelangkaan bahan bakar yang diperparah oleh blokade minyak AS terhadap negara tersebut telah menyebabkan rumah sakit tidak dapat berfungsi normal dan memaksa sekolah serta kantor pemerintah untuk tutup.

Seorang pejabat CIA mengatakan, AS siap terlibat lebih serius dalam isu ekonomi dan keamanan Kuba.

"Tetapi hanya jika Kuba melakukan perubahan mendasar," ujar sumber tersebut.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan, alih-alih menawarkan bantuan, kondisi dapat dipermudah lebih cepat jika AS mencabut blokadenya.

Baca juga: Legislator Nilai RI Punya Ketahanan Kuat di Tengah Krisis Energi

Menteri Luar Negeri Kuba Rodríguez mengatakan masih belum jelas apakah tawaran bantuan AS akan berupa uang tunai atau bantuan dalam bentuk barang.

Ia menambahkan, pemerintah Kuba, dalam praktiknya, tidak menolak bantuan asing yang ditawarkan dengan iktikad baik dan dengan tujuan kerja sama yang tulus, baik bilateral maupun multilateral.

Dia menambahkan, cara terbaik yang dapat dilakukan AS untuk membantu Kuba adalah dengan mengurangi langkah-langkah blokade energi, ekonomi, perdagangan, dan keuangan, yang telah meningkat lebih dari sebelumnya dalam beberapa bulan terakhir.

Sejarah krisis energi Kuba

Jaringan energi Kuba telah mengalami kegagalan selama bertahun-tahun, sebuah masalah yang sangat tertutupi oleh ketergantungannya pada minyak dari Venezuela.

Baca juga: Perang AS-Iran Memicu Krisis Energi Terburuk dalam Sejarah

Setelah intervensi militer AS di Venezuela, pemerintahan Trump menegaskan kendali atas industri minyak Venezuela, memutus pengiriman ke Kuba.

Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.

AS kemudian memblokir sebagian besar pengiriman minyak asing lainnya agar tidak masuk ke negara kepulauan tersebut.

Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam akan mengenakan tarif pada negara-negara yang mengirimkan bahan bakar ke Kuba.

Tujuan dari pembatasan ketat ini adalah untuk memaksa rezim Kuba mundur atau melakukan reformasi substansial.

Baca juga: Krisis Energi Mengintai Asia, IMF Minta Reformasi Struktural

Selain itu, AS menuntut agar Kuba membongkar teknologi mata-mata China dan Rusia yang saat ini beroperasi di dalam wilayahnya.

Respons pemerintah AS

Para pejabat AS menegaskan, pihaknya tidak melihat jalan keluar di bawah kepemimpinan Kuba saat ini.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan, ini adalah ekonomi yang rusak dan tidak berfungsi, serta mustahil untuk mengubahnya.

"Saya berharap keadaannya berbeda. Anda tidak dapat mengubah arah ekonomi Kuba selama orang-orang yang berkuasa saat ini masih memegang kendali," ujar dia.

Baca juga: Thailand Waspadai Stagflasi dan Krisis Energi, Siapkan Utang Rp 267,5 T

Di sisi lain, jumlah barrel yang dibutuhkan dan diproduksi Kuba meliputi 100.000 barrel minyak per hari yang dibutuhkan Kuba setiap harinya untuk menjalankan negaranya.

Sementara Kuba hanya mampu memproduksi maksimal 40.000 barrel minyak mentah setiap harinya.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan, Venezuela hanyalah langkah pertama, dan mengisyaratkan bahwa Kuba akan menjadi target selanjutnya.

"Mengambil alih Kuba, maksud saya, apakah saya membebaskannya, mengambilnya, saya pikir saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya, jika Anda ingin tahu yang sebenarnya. Saya percaya saya akan mendapat kehormatan untuk mengambil alih Kuba. Itu akan bagus. Itu suatu kehormatan besar," ungkap dia.

Baca juga: Tak Hanya RI, Malaysia Juga Lirik Minyak Rusia di Tengah Krisis Energi

Para kritikus mengatakan blokade Trump telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang semakin dalam di pulau yang sudah bermasalah secara ekonomi ini.

Krisis tersebut telah memaksa sekolah dan universitas untuk tutup, menyebabkan kekacauan dalam sistem perawatan kesehatan, dan menghancurkan industri pariwisata.

Tag:  #listrik #hanya #menit #hari #krisis #energi #parah #kuba

KOMENTAR