AI Bukan Ancaman, Perusahaan Ini Justru Cari Lebih Banyak Fresh Graduate
Ilustrasi IBM(Carson Masterson)
17:54
14 Februari 2026

AI Bukan Ancaman, Perusahaan Ini Justru Cari Lebih Banyak Fresh Graduate

- Ketakutan bahwa akal imitasi (artificial intelligence, AI) bakal merebut pekerjaan manusia, terutama bagi lulusan baru, belakangan makin santer terdengar. Sejumlah bos teknologi bahkan memprediksi hilangnya pekerjaan kantoran di masa depan.

Namun, raksasa teknologi International Business Machines (IBM) justru mengambil langkah sebaliknya.

Alih-alih menyetop rekrutmen, IBM berencana melipatgandakan perekrutan karyawan di tingkat pemula (fresh graduate) hingga tiga kali lipat di Amerika Serikat pada 2026.

Lantas, apa alasan IBM mengambil langkah berani ini di tengah gempuran AI? 

Kepala Sumber Daya Manusia IBM, Nickle LaMoreaux, mengakui bahwa AI memang sudah bisa mengerjakan sebagian besar tugas entry-level versi lama. Karena itu, IBM melakukan perombakan total pada deskripsi pekerjaan untuk karyawan baru.

"Jika Anda ingin meyakinkan pimpinan bisnis untuk berinvestasi (merekrut orang), Anda harus menunjukkan nilai nyata yang bisa dibawa individu tersebut sekarang. Dan itu harus melalui pekerjaan yang benar-benar berbeda," ujar LaMoreaux dalam sebuah konferensi di New York.

Akibatnya, tugas harian karyawan muda di IBM kini berubah. Misalnya, software developer kini lebih sedikit menghabiskan waktu untuk coding rutin, karena sudah bisa ditangani AI, dan lebih banyak waktu bekerja langsung dengan pelanggan.

Baca juga: Kisah Warga Malaysia Beli Domain AI.com Rp 200.000 Kini Laku Rp 1 Triliun

Begitu pula di departemen SDM. Staf pemula kini bertugas mengintervensi ketika chatbot HR gagal memberikan jawaban tepat atau perlu mengoreksi output AI, ketimbang menjawab setiap pertanyaan dasar sendiri.

Anak muda lebih fasih AI

LaMoreaux menegaskan, memangkas rekrutmen lulusan baru mungkin menghemat uang dalam jangka pendek, tetapi berisiko menciptakan kelangkaan manajer tingkat menengah di masa depan.

Jika itu terjadi, perusahaan terpaksa membajak talenta dari kompetitor yang biayanya jauh lebih mahal. Selain itu, karyawan eksternal biasanya butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi dengan budaya perusahaan dibanding mereka yang dilatih dari nol.

Baca juga: Profesor Ini Tantang AI Tercerdas Kerjakan Soal Matematika, Jawabannya “Asbun”

Pandangan serupa juga diamini oleh Chief People Officer Dropbox, Melanie Rosenwasser. Ia menilai pekerja muda justru investasi terbaik di tengah pergolakan teknologi karena kefasihan mereka menggunakan AI.

"Ibaratnya mereka (anak muda) sudah bersepeda di Tour de France, sementara sisanya masih menggunakan roda bantu," kata Rosenwasser, seperti dikutip KompasTekno dari BusinessTime.

Dropbox sendiri dilaporkan tengah memperluas program magang dan lulusan barunya sebesar 25 persen untuk memanfaatkan keahlian AI yang dimiliki generasi muda.

Baca juga: Apa Itu Moltbook, Medsosnya Bot AI buat Gibah Kelakuan Manusia

Kontras dengan PHK sebelumnya

Langkah rekrutmen masif ini seolah menjadi antitesis dari kebijakan efisiensi yang sempat diambil IBM jelang akhir tahun 2025 lalu.

IBM sempat mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengancam sekitar 2.700 karyawannya di kuartal IV-2025.

Kala itu, juru bicara IBM menyebut bahwa langkah tersebut diambil untuk menyelaraskan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar, di mana permintaan terhadap solusi AI kian melonjak.

Tampaknya, "penyelarasan" tersebut kini mewujud dalam bentuk peremajaan tenaga kerja dengan talenta muda yang lebih adaptif terhadap teknologi baru.

Tag:  #bukan #ancaman #perusahaan #justru #cari #lebih #banyak #fresh #graduate

KOMENTAR