Sempat PHK Karyawan demi AI, IBM Kini Rekrut Orang Besar-besaran
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). (shutterstock)
13:36
13 Februari 2026

Sempat PHK Karyawan demi AI, IBM Kini Rekrut Orang Besar-besaran

- IBM sempat memangkas ribuan karyawan dengan dalih meningkatkan produktivitas lewat pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI. Namun kini, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu justru berencana merekrut pegawai entry level dalam jumlah jauh lebih besar dengan syarat baru.

Pada akhir tahun lalu sendiri, perusahaan yang didirikan pada 1911 ini melakukan pemutusan hubungan kerja yang berdampak pada kurang dari 1 persen karyawan.

Berdasarkan laporan tahunan, IBM mempekerjakan sekitar 270.000 orang pada akhir 2024. Jika dihitung, pemangkasan kurang dari 1 persen tersebut setara dengan sekitar 2.700 pekerja.

Namun untuk 2026, IBM akan melipatgandakan perekrutan entry level di AS hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Baca juga: IBM PHK 3.900 Karyawan, Bukan karena Bisnis Lesu

Belum ada informasi kapan lowong kerja ini bakal disebar dan berapa angka pastinya. Yang jelas, IBM memastikan bahwa perekrutan ini akan dilakukan di berbagai divisi. Setidaknya begitulah menurut laporan Bloomberg baru-baru ini.

Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, mengatakan perekrutan tersebut bakal menyasar posisi yang selama ini kerap disebut bisa digantikan AI. Bedanya, sekarang IBM telah merombak deskripsi pekerjaan level awal agar lebih relevan dengan era baru.

Entry level job sendiri adalah posisi pekerjaan tingkat awal yang dirancang untuk individu dengan sedikit atau tanpa pengalaman kerja sama sekali. Posisi ini umum bagi fresh graduate atau profesional yang ingin beralih karier (switch career), dengan tanggung jawab terbatas dan pelatihan langsung (on-the-job training).

LaMoreaux menjelaskan bahwa pekerjaan entry level dua hingga tiga tahun lalu sebagian besar kini memang dapat dikerjakan oleh AI, terutama tugas rutin seperti coding dasar.

Karena itu, IBM mengubah fokus peran tersebut agar lebih menonjolkan kemampuan yang tidak mudah diotomatisasi, seperti berinteraksi dengan klien dan memahami kebutuhan bisnis.

Di divisi sumber daya manusia, staf entry level juga berperan mengoreksi keluaran chatbot HR serta berkomunikasi langsung dengan manajer ketika sistem otomatis tidak mampu menjawab secara tepat.

Ilustrasi teknologi AI (Artificial Intelligence). Gempuran AI membuat peluang kerja bagi lulusan baru semakin ketat. Intip strategi agar fresh graduate tetap kompetitif di pasar kerja.Shutterstock Ilustrasi teknologi AI (Artificial Intelligence). Gempuran AI membuat peluang kerja bagi lulusan baru semakin ketat. Intip strategi agar fresh graduate tetap kompetitif di pasar kerja.

Langkah IBM ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa AI akan memangkas peluang kerja bagi lulusan baru.

Sejumlah eksekutif teknologi bahkan memprediksi sebagian besar pekerjaan kantoran level awal berpotensi hilang dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, ada pula pandangan bahwa talenta muda justru lebih cepat beradaptasi dengan teknologi baru.

IBM menilai memangkas perekrutan level awal mungkin menghemat biaya dalam jangka pendek, tapi berisiko menciptakan kekosongan talenta menengah di masa depan.

Tanpa jalur pembinaan internal, perusahaan akan lebih bergantung pada perekrutan dari luar yang biayanya lebih mahal dan membutuhkan waktu adaptasi lebih lama.

Baca juga: IBM Tutup Kantor Riset di China, 1.000 Karyawan Kena PHK

Keputusan ini menunjukkan bahwa meski AI semakin canggih, kebutuhan terhadap sumber daya manusia tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk.

Alih-alih menghapus peran karyawan entry level, IBM memilih menyesuaikannya dengan tuntutan era AI, sekaligus memastikan regenerasi talenta tetap berjalan di tengah transformasi teknologi yang cepat.

Perusahaan yang nyesel PHK massal demi AI

Ilustrasi AIFreepik Ilustrasi AI

Sejumlah perusahaan teknologi lain juga memangkas karyawan demi mengerahkan AI. Namun, Klarna jadi salah satu perusahaan yang menyesali keputusannya.

Perusahaan teknologi finansial asal Swedia itu memangkas sekitar 1.200 karyawan dan diganti oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) pada 2024 lalu.

Secara umum, upaya itu memang menghemat anggaran perusahaan hingga sekitar dua juta dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 32,7 miliar). Namun, penggunaan AI ternyata tidak begitu membantu meningkatkan produktivitas Klarna maupun kualitas produk bagi pelanggan.

Namun, perusahaan mengaku berlebihan menggunakan AI demi memangkas biaya operasional perusahaan, meningkatkan efisiensi, serta mempercepat pengambilan keputusan.

Baca juga: 7 Perusahaan Teknologi Ini PHK Massal Karyawan di 2025

Klarna kini kembali merekrut karyawan dengan memajang pengumuman lowongan pekerjaan di situs web resmi perusahaan. Mereka menyesal mengganti karyawan dengan AI.

Sedikit berbeda, Salesforce melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada awal September 2025.

Pemangkasan ini membuat jumlah staf dukungan pelanggan Salesforce menyusut hingga hampir 50 persen, dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 karyawan.

CEO Salesforce Marc Benioff mengatakan bahwa posisi yang ditinggalkan karyawan, akan digantikan oleh teknologi kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI).

Ia menjelaskan, agen AI (agentic) akan mengambil alih sebagian besar interaksi dengan pelanggan dan terbukti meningkatkan produktivitas perusahaan.

Meski jumlah karyawan berkurang signifikan, Salesforce tetap mempertahankan kombinasi tenaga kerja manusia dan AI.

Tenaga manusia yang tersisa, nantinya akan bekerja di bawah program yang disebut Benioff sebagai "omni channel supervisor". Program ini akan membantu agen AI dan tenaga manusia untuk bekerja sama.

Tag:  #sempat #karyawan #demi #kini #rekrut #orang #besar #besaran

KOMENTAR