Studi: HP di Sekolah Lebih Sering Dipakai untuk Hiburan, Bukan untuk Belajar
Ilustrasi remaja yang menggunakan ponsel selama jam sekolah. (Daniel de la Hoz)
19:06
12 Januari 2026

Studi: HP di Sekolah Lebih Sering Dipakai untuk Hiburan, Bukan untuk Belajar

Rangkuman berita:

  • Studi di jurnal JAMA menemukan remaja menghabiskan rata-rata 70 menit menggunakan ponsel selama jam sekolah, dan sebagian besar waktu tersebut dipakai untuk media sosial seperti TikTok, Snapchat, dan Instagram.
  • Penggunaan ponsel untuk keperluan pendidikan sangat minim, hanya sekitar 1,5 menit per hari, jauh tertinggal dibanding aktivitas hiburan, game, dan streaming video.
  • Penelitian yang memakai aplikasi pemantau langsung di ponsel ini menegaskan bahwa smartphone lebih sering menjadi sumber distraksi daripada alat bantu belajar di sekolah.

- Ponsel pintar (smartphone) masih memegang peran besar dalam keseharian remaja, termasuk saat mereka berada di sekolah.

Meski kerap disebut dapat membantu proses belajar, penggunaan ponsel selama jam sekolah nyatanya lebih banyak diisi untuk aktivitas hiburan. 

Gambaran tersebut muncul dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal JAMA. Penelitian ini mencatat, remaja ternyata menghabiskan rata-rata 70 menit dalam menggunakan ponsel selama jam sekolah. 

Studi menyebut, sebagian besar waktu itu digunakan untuk membuka media sosial. Sejumlah aplikasi, seperti TikTok, Snapchat, dan Instagram menyedot sekitar 30 menit per hari selama jam sekolah. 

Temuan ini berbanding terbalik dengan fungsi ponsel yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan belajar. Dalam studi yang sama, waktu penggunaan ponsel untuk aktivitas produktivitas dan pendidikan justru tercatat sangat minim. 

Adapun secara rata-rata, remaja tercatat hanya menghabiskan sekitar satu setengah menit per hari untuk aplikasi penunjang pembelajaran, seperti Google Docs, Khan Academy, dan Chegg (aplikasi bantuan PR). 

Selain media sosial, remaja di sekolah juga menggunakan smartphone untuk bermain game, seperti Roblox dan Pokemon Go. Mereka turut memanfaatkan perangkat tersebut untuk menonton berbagai konten hiburan di platform streaming, termasuk Netflix dan YouTube. 

Dipantau lewat aplikasi, bukan survei

Ilustrasi ponselUnsplash Ilustrasi ponsel

Studi ini melibatkan sekitar 640 remaja berusia 13 hingga 18 tahun yang mengikuti proyek riset jangka panjang (longitudinal) berskala besar bernama Adolescent Brain Cognitive Development Study.

Seluruh partisipan dimintai informasi jam masuk sekolah mereka kepada peneliti. Berdasarkan informasi tersebut, peneliti kemudian memperkirakan waktu berakhirnya jam sekolah mereka. 

Nah yang menarik, untuk mengambil data, para peneliti tidak menggunakan survei berbasis kuesioner seperti yang biasa dipakai di riset lain. Mereka justru menggunakan aplikasi khusus yang dipasang di ponsel partisipan.

Aplikasi tersebut digunakan untuk memantau dan mencatat secara pasif berbagai jenis aktivitas digital partisipan, mulai dari penggunaan media sosial, bermain game, menjelajah internet, hingga menonton video selama jam sekolah berlangsung. 

Dengan pendekatan ini, peneliti disebut lebih bisa memperoleh gambaran penggunaan ponsel yang lebih akurat, tanpa bergantung pada ingatan atau pengakuan partisipan. 

Sebelumnya, metode serupa juga pernah digunakan dalam studi berkala lebih kecil, yang memperkirakan soal bagaimana remaja menghabiskan sekitar satu setengah jam mereka menggunakan ponsel selama jam sekolah. 

Penulis utama studi ini, Jason Nagata, menilai bahwa durasi penggunaan ponsel yang mencapai lebih dari satu jam selama jam sekolah, secara tidak terelakkan bersaing dengan perhatian siswa terhadap proses belajar. 

Artinya, pemakaian ponsel dalam durasi yang berlebihan menjadi salah satu distraksi yang sulit dihindari, memungkinkan perhatian siswa teralihkan dari kegiatan belajar di kelas.

"Ponsel sebenarnya bisa mendukung pembelajaran, tetapi itulah bukan cara utama penggunaannya selama hari sekolah," kata Nagata kepada outlet media Mashable.

Ia menambahkan, meski sebagian penggunaan ponsel mungkin dilakukan saat jam istirahat atau makan siang, kebiasaan tersebut tetap berpotensi mengurangi interaksi sosial tatap muka, aktivitas fisik, serta waktu istirahat mental siswa. 

"Penggunaan ponsel yang berlebihan dapat menggeser manfaat-manfaat tersebut dan mengurangi kesempatan untuk membangun koneksi di dunia nyata," ujar Nagata.

Perbedaan pola penggunaan

Penulis utama studi ini, Jason Nagata, menilai bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan dapat menggeser manfaat-manfaat tersebut dan mengurangi kesempatan untuk membangun koneksi di dunia nyata.miniseries Penulis utama studi ini, Jason Nagata, menilai bahwa penggunaan ponsel yang berlebihan dapat menggeser manfaat-manfaat tersebut dan mengurangi kesempatan untuk membangun koneksi di dunia nyata.

Penelitian ini juga mengungkap adanya sejumlah perbedaan faktor dan ketimpangan yang berkaitan dengan pola penggunaan ponsel di kalangan remaja selama jam sekolah. 

Siswa dengan kecenderungan penggunaan media sosial dan ponsel yang bermasalah, cenderung menghabiskan waktu beberapa menit lebih lama dibandingkan siswa lain. 

Perbedaan juga terlihat dari latar belakang sosial, di mana remaja berkulit hitam diketahui menghabiskan sekitar 12 hingga 20 menit lebih lama dalam menggunakan ponsel dibandingkan remaja berkulit putih. 

Sementara dari latar belakang ekonomi, siswa dari keluarga berpenghasilan rendah juga umumnya menggunakan ponsel lebih sering selama jam sekolah dibandingkan siswa dari keluarga berpenghasilan tinggi. 

Para peneliti tidak menelusuri secara khusus penyebab dari perbedaan tersebut. Namun, mereka menduga faktor lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor, termasuk ukuran kelas dan sumber daya sekolah. 

Perlu dicatat, data penelitian tersebut dikumpulkan pada periode tahun 2022 sampai 2024. Artinya, temuan studi ini belum sepenuhnya mencerminkan kebijakan sekolah bebas ponsel yang mulai diterapkan di sejumlah wilayah belakangan ini. 

Seluruh partisipan penelitian juga menggunakan ponsel Android, sehingga hasil riset ini belum tentu mewakili remaja pengguna ponsel dengan sistem operasi lain seperti iOS. 

Psikolog Dr. Jean Twenge, yang tidak terlibat langsung dalam penelitian ini ikut mengungkap pendapatnya. Menurut Twenge, hasil studi ini memberikan gambaran yang menarik tentang penggunaan ponsel di sekolah. 

Ia menilai, hasil penelitian menepis anggapan bahwa ponsel selama jam sekolah sebagian besar digunakan untuk tujuan akademik. Padahal kenyataannya, perangkat tersebut lebih sering dimanfaatkan untuk hiburan dan media sosial. 

"Studi ini memberikan bukti kuat bahwa anggapan tersebut tidak benar. Remaja justru menggunakan ponsel mereka untuk hiburan dan media sosial," ujar Twenge, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Mashable

Tag:  #studi #sekolah #lebih #sering #dipakai #untuk #hiburan #bukan #untuk #belajar

KOMENTAR