Transformasi Sistem Keamanan Korporasi: Integrasi AI, Command Center, dan Patroli Digital
Ilustrasi: Penggunaan AI untuk sistem keamanan. (Istimewa)
16:36
12 Januari 2026

Transformasi Sistem Keamanan Korporasi: Integrasi AI, Command Center, dan Patroli Digital

- Kebutuhan akan sistem keamanan yang responsif dan dapat dipertanggungjawabkan semakin mendesak seiring meningkatnya kompleksitas operasional perusahaan. Di banyak organisasi, keberadaan CCTV dan petugas keamanan memang sudah menjadi standar.

Namun dalam praktiknya, berbagai kendala masih kerap terjadi, mulai dari keterlambatan pelaporan, dokumentasi insiden yang tidak lengkap, hingga proses verifikasi yang memakan waktu lama.

Situasi ini mendorong pergeseran pendekatan dari keamanan reaktif menuju sistem pengawasan yang lebih terintegrasi dan berbasis data. Salah satu tren yang berkembang adalah pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk menghubungkan aktivitas lapangan dengan pusat kendali secara real-time, sehingga proses pengambilan keputusan dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.

Di Indonesia, pendekatan tersebut mulai diadopsi oleh sejumlah penyedia layanan keamanan korporasi. PT Nawakara Perkasa Nusantara, misalnya, mengembangkan ekosistem keamanan terintegrasi yang menghubungkan aplikasi patroli digital, command center, serta analitik AI berbasis CCTV.

Integrasi ini diklaim ditujukan untuk menjawab tantangan klasik dalam pengelolaan keamanan, khususnya pada aspek transparansi dan akuntabilitas operasional.

Digitalisasi patroli menjadi salah satu fondasi utama. Melalui sistem ini, aktivitas petugas keamanan di lapangan tidak lagi bergantung pada laporan manual. Setiap patroli dijalankan berdasarkan rute digital yang telah ditentukan, disertai proses check-in dan check-out yang terekam secara otomatis.

Laporan insiden dapat dikirim langsung dari lokasi kejadian menggunakan perangkat mobile, lengkap dengan dokumentasi visual, data lokasi, serta penanda waktu.

Menurut Teguh Wibowo, Product Solutions Division Head Nawakara, pendekatan ini dirancang untuk mengurangi celah informasi antara lapangan dan manajemen.

“Aktivitas keamanan kini dapat dipantau secara objektif. Kehadiran petugas, pelaksanaan patroli, hingga laporan kejadian tercatat dalam satu sistem yang sama,” ujarnya di Jakarta, Senin (12/1).

Untuk memastikan validitas data, sistem tersebut juga dilengkapi dengan fitur verifikasi biometrik dan pembatasan wilayah tugas berbasis geofencing. Dengan demikian, perusahaan dapat memastikan bahwa patroli benar-benar dilakukan di area yang telah ditetapkan, sekaligus meminimalkan risiko manipulasi laporan.

Di sisi lain, peran pusat kendali atau command center menjadi semakin krusial. Nawakara Command Center (NCC) beroperasi selama 24 jam untuk memantau berbagai sinyal keamanan yang berasal dari beragam perangkat, seperti panic button, sensor gerak, pendeteksi asap, hingga sistem akses pintu.

Setiap sinyal yang masuk akan diverifikasi sebelum dilakukan eskalasi, baik ke tim respons cepat maupun pihak berwenang.

“Command center saat ini bukan hanya ruang pemantauan, tetapi pusat koordinasi dan pengambilan keputusan. Setiap potensi risiko harus ditangani dengan alur yang jelas dan terdokumentasi,” kata Teguh.

Penguatan sistem keamanan tersebut juga didukung oleh penerapan AI Analytics pada CCTV. Teknologi ini memungkinkan analisis video secara real-time untuk mendeteksi aktivitas yang dianggap tidak normal atau berpotensi menimbulkan risiko.

Fitur yang digunakan mencakup deteksi penyusupan, pemantauan kerumunan, pengenalan objek, hingga pemantauan penggunaan alat pelindung diri (PPE) di area kerja berisiko.

Pemanfaatan AI juga dinilai mampu mengurangi beban kerja operator yang selama ini harus memantau banyak layar secara bersamaan. Dengan sistem yang mampu menyaring dan menandai kejadian penting, proses verifikasi dapat dilakukan lebih cepat dan respons pun menjadi lebih tepat sasaran.

Menariknya, teknologi ini juga dirancang agar kompatibel dengan kamera CCTV berstandar ONVIF, sehingga perusahaan tidak selalu harus mengganti infrastruktur yang sudah ada.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa sistem keamanan korporasi mulai bergerak ke arah yang lebih proaktif dan berbasis data. Keamanan tidak lagi hanya soal kehadiran fisik petugas atau jumlah kamera, melainkan bagaimana seluruh elemen tersebut terhubung dalam satu ekosistem yang mampu memberikan informasi akurat secara real-time.

Bagi sektor korporasi, pendekatan semacam ini dinilai penting untuk menjaga kontinuitas bisnis, melindungi aset, serta memenuhi tuntutan audit dan kepatuhan. Ke depan, integrasi antara manusia, sistem digital, dan kecerdasan buatan diperkirakan akan menjadi standar baru dalam pengelolaan keamanan modern.

Editor: Bintang Pradewo

Tag:  #transformasi #sistem #keamanan #korporasi #integrasi #command #center #patroli #digital

KOMENTAR