Masa Depan Tanpa Bekerja di Era AI, Ini Kata Elon Musk, Bill Gates, dan Tokoh Teknologi tentang Dunia Esok
Dari kiri ke kanan: Elon Musk, Sam Altman, Bill Gates, Jensen Huang, memandang kemungkinan masa depan tanpa bekerja di era AI (Business Insider)
14:44
5 Januari 2026

Masa Depan Tanpa Bekerja di Era AI, Ini Kata Elon Musk, Bill Gates, dan Tokoh Teknologi tentang Dunia Esok

- Wacana global mengenai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini melampaui perdebatan soal efisiensi dan produktivitas. Para pemimpin teknologi dunia mulai mengulas kemungkinan perubahan mendasar dalam hubungan manusia dengan pekerjaan di masa depan. 

Gagasan ini muncul seiring percepatan kemampuan AI dan robotika yang dinilai berpotensi mengubah fondasi ekonomi global. Diskusi tersebut tidak lagi terbatas pada kajian akademik atau spekulasi futuristik. 

Tokoh-tokoh utama di balik pengembangan AI, mulai dari Elon Musk, Bill Gates, hingga Sam Altman secara terbuka menyampaikan pandangan mereka tentang kemungkinan masa depan tanpa bekerja, sekaligus implikasi sosial yang menyertainya. Perdebatan ini mencerminkan ketegangan antara optimisme teknologi dan kekhawatiran terhadap perubahan struktur masyarakat.

Melansir laman Business Insider, Senin (5/1/2026), ide tentang masa depan tanpa bekerja semakin sering dibahas di kalangan elite teknologi global. Dalam sejumlah forum publik dan wawancara, para pemimpin industri ini menggambarkan dunia yang sangat berbeda dari sistem kerja konvensional, di mana kemakmuran tidak lagi bergantung pada pekerjaan sebagai sumber penghasilan utama.

Elon Musk, CEO Tesla dan xAI, menjadi salah satu tokoh paling vokal. Dia membayangkan dunia di mana AI dan robotika mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan manusia. Musk menyebut skenario tersebut sebagai "universal high income," yakni keadaan ketika kemiskinan tidak lagi ada dan pekerjaan tidak menjadi keharusan ekonomi. 

Dalam unggahannya di platform X, Musk menulis, "Tidak akan ada kemiskinan di masa depan, sehingga tidak ada lagi kebutuhan untuk menabung." Dia juga menyatakan bahwa bekerja kelak akan lebih menyerupai kegiatan pilihan, seperti hobi atau permainan.

Namun, pandangan Musk itu tidak lepas dari kritik di kalangan analis dan pengamat ekonomi global. Seperti dikutip AOL, gagasan tentang "masa depan tanpa pekerjaan" bisa menjadi perdebatan, karena transformasi itu berpotensi menciptakan ketidakpastian sosial dan ekonomi yang besar jika tidak disertai kebijakan transisi yang kuat. 

Kritik tersebut menunjukkan bahwa tanpa aturan dan sistem distribusi kekayaan yang jelas, perubahan ini mungkin hanya menjadi kenyataan bagi segelintir elit global, sementara masyarakat kelas menengah ke bawah menghadapi risiko kehilangan pekerjaan tanpa jaminan penghidupan yang memadai.

Sementara itu, Bill Gates menawarkan perspektif yang lebih moderat. Pendiri Microsoft itu tidak sepenuhnya melihat bahwa pekerjaan akan lenyap, tetapi percaya bahwa AI akan mengubahnya secara drastis. 

Gates menyatakan bahwa tugas-tugas seperti memproduksi barang, mengelola logistik, dan produksi pangan perlahan akan menjadi "masalah yang pada dasarnya sudah terpecahkan." Perubahan itu, menurutnya, membuka peluang bagi manusia untuk bekerja hanya dua atau tiga hari dalam seminggu.

Berbeda lagi dengan Sam Altman, CEO OpenAI, yang menekankan pentingnya mekanisme distribusi. Altman mengusulkan konsep "universal basic wealth", di mana masyarakat memiliki bagian kepemilikan atas nilai ekonomi yang dihasilkan AI. Dalam kerangka ini, publik bukan sekadar penerima bantuan, melainkan pemilik saham kolektif dari kapasitas produksi AI global.

Namun, pendekatan yang lebih hati-hati disampaikan Jensen Huang, CEO Nvidia. Dia meragukan bahwa skenario "universal high income" dan "universal basic income" dapat berjalan bersamaan. Huang menilai kelimpahan yang diciptakan AI tidak hanya berbentuk uang, tetapi juga pengetahuan dan akses informasi, sesuatu yang sebelumnya hanya dimiliki segelintir orang dalam sejarah manusia.

Di luar perdebatan soal ekonomi dan distribusi kekayaan, pertanyaan yang lebih mendasar mengenai makna kerja juga disoroti Dario Amodei, CEO Anthropic. Dia mempertanyakan apakah, di era kecerdasan buatan tingkat lanjut atau AGI (artificial general intelligence), bekerja masih akan menjadi pusat identitas manusia. 

"Apakah kita bisa memiliki dunia di mana bekerja tidak lagi memiliki sentralitas seperti sekarang, dan manusia menemukan makna di tempat lain?" ujarnya. Amodei mengaitkan pandangan tersebut dengan gagasan lama ekonom John Maynard Keynes, yang pernah membayangkan masyarakat di masa depan hanya perlu bekerja sekitar 15 hingga 20 jam per minggu.

Namun, optimisme para tokoh teknologi ini tidak luput dari kritik. Sejumlah pengamat memperingatkan bahwa otomatisasi ekstrem berpotensi memperlebar ketimpangan jika distribusi kekayaan tidak dikelola dengan baik. Ketergantungan berlebihan pada AI juga dikhawatirkan mengikis peran manusia dalam pengambilan keputusan, kreativitas, dan relasi sosial, bidang-bidang yang sulit sepenuhnya digantikan mesin.

Pada akhirnya, perdebatan tentang masa depan tanpa bekerja di era AI bukan sekadar soal teknologi, melainkan pilihan sosial dan politik. Apakah visi para pemimpin teknologi ini layak dipercaya atau justru perlu disikapi dengan skeptisisme kritis, akan sangat bergantung pada bagaimana masyarakat dan negara mengarahkan transformasi AI. Yang jelas, dunia kerja sedang berada di titik balik yang menentukan arah peradaban manusia ke depan.

Editor: Candra Mega Sari

Tag:  #masa #depan #tanpa #bekerja #kata #elon #musk #bill #gates #tokoh #teknologi #tentang #dunia #esok

KOMENTAR