Gareth Bale Beberkan Alasan Xabi Alonso Gagal di Real Madrid
Mantan bintang Real Madrid, Gareth Bale, angkat bicara mengenai kegagalan singkat Xabi Alonso dalam menakhodai Los Blancos.
Menurutnya, lingkungan internal di Bernabeu memiliki tingkat kesulitan yang sangat unik bagi setiap pelatih, tak terkecuali bagi sosok yang memiliki reputasi mentereng di liga lain.
Gareth Bale mengaku tidak terkejut dengan keputusan klub yang mengakhiri kerja sama dengan Alonso hanya dalam kurun waktu delapan bulan.
Rentetan hasil negatif, termasuk kegagalan di ajang Piala Super Spanyol (Supercopa de Espana) melawan Barcelona, menjadi pemicu utama diangkatnya Alvaro Arbeloa sebagai pengganti untuk mengisi kursi pelatih kepala.
Pentingnya Manajemen Ego di Ruang Ganti
Xabi Alonso sebenarnya datang ke Madrid pada musim panas 2025 dengan ekspektasi besar setelah kesuksesannya bersama Bayer Leverkusen.
Namun, Bale menilai bahwa kepiawaian taktik saja tidak cukup untuk bertahan di ruang ganti yang penuh dengan pemain bintang.
Ia menekankan bahwa peran pelatih di Real Madrid lebih kepada seorang pengelola mentalitas daripada sekadar ahli strategi.
"Dia adalah pelatih yang luar biasa," ungkap Gareth Bale dikutip dari Football Espana, Kamis (22/1/2026).
"Dia telah memenangkan apa yang telah dia menangkan di Bayer Leverkusen, dia telah memenangkan trofi, dia telah melatih tim dengan sangat baik."
"Tetapi ketika Anda tiba di Real Madrid, Anda tidak perlu menjadi pelatih, Anda perlu menjadi manajer. Anda perlu mengelola ego di ruang ganti," lanjutnya.
Bukan Sekadar Masalah Taktik
Selama tujuh bulan menjabat, Alonso dilaporkan menghadapi ketidakpuasan dari sejumlah pemain pilar terkait metode kerjanya.
Penyerang asal Wales milik Real Madrid, Gareth Bale (kanan), merayakan gol kedua timnya bersama gelandang asal Jerman, Toni Kroos, dalam pertandingan sepak bola Grup G Liga Champions UEFA antara Real Madrid CF dan AS Roma di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid, pada 19 September 2018. (Foto oleh GABRIEL BOUYS / AFP)
Bale meyakini bahwa di klub sebesar Madrid, seorang juru taktik harus mampu memberikan ruang bagi kreativitas individu para pemain kelas dunia yang mampu mengubah keadaan dalam sekejap.
"Anda harus memanjakan ego. Anda tidak perlu melakukan begitu banyak hal taktis," tegasnya.
"Di ruang ganti ada superstar yang bisa mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap mata."
"Jadi, ya, Anda bisa mengatakan bahwa dia adalah pelatih dan ahli taktik yang hebat, tetapi di Real Madrid, jelas, itu tidak berhasil," tutup Bale.
Lingkungan Kerja Tersulit bagi Pelatih
Meski mengkritik pendekatan Alonso, Bale tetap memberikan rasa hormatnya terhadap kualitas mantan rekan setimnya tersebut.
Ia memahami bahwa Madrid adalah tempat yang sangat menuntut, di mana hasil instan adalah segalanya dan tekanan media selalu berada pada level tertinggi.
"Saya sama sekali tidak terkejutSaya mengerti cara kerja Real Madrid. Itu tempat tersulit bagi setiap pelatih," katanya dikutip dari TNT Sports.
"Dia pelatih yang bagus, tapi ketika di Madrid, Anda tidak hanya sekadar pelatih. Anda jadi seorang manager yang harus bisa mengendalikan ego di ruang ganti," paparnya.
"Madrid dipenuhi pemain bintang yang bisa mengubah permainan. Alonso bagus dalam melatih dan soal taktik, sayangnya tidak berhasil di Madrid," tutup Bale yang punya 258 penampilan buat El Real.
Tag: #gareth #bale #beberkan #alasan #xabi #alonso #gagal #real #madrid