Pelatih Penghancur Mimpi Timnas Indonesia Kecam Penalti Brahim Diaz
Brahim Diaz terlihat sedih setelah pertandingan sepak bola final Piala Afrika (CAN) antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat pada 18 Januari 2026. (Foto oleh SEBASTIEN BOZON / AFP)(AFP/SEBASTIEN BOZON)
12:43
20 Januari 2026

Pelatih Penghancur Mimpi Timnas Indonesia Kecam Penalti Brahim Diaz

Pelatih Arab Saudi, Herve Renard memberikan komentar menohok soal kegagalan eksekusi penalti Brahim Diaz di final Piala Afrika 2025.

Herve Renard yang menjadi mimpi buruk Timnas Indonesia di ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 mengatakan jika kegagalan tersebut merupakan tanggung jawab yang serius.

Dalam pernyataanya kepada Le Pariesiens, Herve Renard mempertanyakan alasan Brahim Diaz mengambil tendangan yang sangat berisiko.

Renard menegaskan meski kegagalan mengeksekusi penalti adalah bagian dari sepak bola, tetapi konteks eksekusi dari Brahim Diaz mengubah segalanya.

Sosok yang pernah menjadi juru taktik Maroko itu menjelaskan bahwa dalam final sebesar ini, tidak ada ruang untuk pilihan sembarangan atau risiko yang tidak perlu dari para pemain.

"Kami berhak untuk gagal mengeksekusi penalti, tetapi dalam kasus seperti itu, saya tegas dan saya tidak akan memberi kelonggaran." 

"Ini adalah kurangnya rasa hormat terhadap seluruh negara dan seluruh rakyat yang telah berjuang meraih kesuksesan selama 50 tahun," jelasnya kepada Le Parisiens dikutip dari Foot Mercato.

Herve Renard kala mendampingi Arab Saudi dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra Australia di Stadion AAMI Park, Melbourne, 14 November 2024.AFP/WILLIAM WEST Herve Renard kala mendampingi Arab Saudi dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 kontra Australia di Stadion AAMI Park, Melbourne, 14 November 2024.

Prinsip Tegas Herve Renard

Herve Renard memiliki ikatan yang kuat dengan sepak bola benua hitam saat berhasil mengangkat trofi Piala Afrika dua kali bersama Zambia (2012) dan Pantai Gading (2015).

Renard memahami posisi sulit Walid Regragui setelah kegagalan penalti tersebut berujung pada kekalahan Maroko. 

Meski tak sepenuhnya menyalahkan cara penalti panenka, Renard menyatakan jika ada risiko besar yang harus ditanggung pemain saat gagal penalti karena kepercayaan diri yang tinggi.

"Dalam skala yang lebih kecil, saya sebenarnya mengalami hal yang sama di Piala Arab melawan Maroko. Salah satu pemain saya, Abdullah Al-Hamdan, benar-benar gagal mengeksekusi penalti Panenka." 

"Saya memintanya untuk ikut dengan saya ke konferensi pers setelahnya dan meminta maaf," jelasnya. 

Pernyataan tegas ini kembali memicu perdebatan tentang tanggung jawab pemain selama momen-momen paling menentukan dalam sejarah tim nasional.

Permohonan Maaf Brahim Diaz

Brahim Diaz dianggap sebagai sosok yang paling disalahkan atas kegagalan Maroko mengangkat trofi Piala Afrika 2025.

Setelah gagal mengeksekusi penalti di detik terakhir, Senegal mampu menciptakan gol kemenangan melalui Pape Gueye pada babak tambahan waktu untuk menjuarai Piala Afrika yang kedua kalinya.

Dalam akun Instagram-nya pada Senin (20/1), Diaz mengaku sangat terpukul dan bertanggung jawab penuh atas kegagalan tersebut.

“Saya memimpikan gelar ini berkat semua cinta yang kalian berikan kepada saya, setiap pesan, setiap dukungan yang membuat saya merasa tidak sendirian. Saya berjuang dengan segala yang saya miliki, dengan sepenuh hati. Kemarin saya gagal dan saya bertanggung jawab sepenuhnya. Saya meminta maaf dari lubuk hati yang paling dalam,” tulis Diaz pada Senin lalu.

"Luka ini tidak mudah sembuh, tetapi saya akan berusaha bangkit."

Meski berhasil menjadi pencetak gol terbanyak di Piala Afrika 2025, air matanya tak kuasa berhenti menetes saat menyadari mimpi mengangkat trofi telah sirna.

“Saya akan terus melangkah maju hingga suatu hari nanti saya bisa membalas semua cinta ini dan menjadi kebanggaan bagi rakyat Maroko,” tutupnya.

Tag:  #pelatih #penghancur #mimpi #timnas #indonesia #kecam #penalti #brahim #diaz

KOMENTAR