Cinta Satu Malam Manchester United
SETIDAKNYA lima kali pecinta Manchester United yang memadati Old Trafford dan menyaksikan duel MU versus Manchester City lewat layar audio visual (televisi hingga telepon pintar) bersorak.
Di antara mereka ada Alex Ferguson, "manusia setengah dewa" yang menaikkan level Setan Merah sebagai penguasa Inggris dekade 1990-an sampai 2013.
Namun, tiga tendangan yang merobek gawang Gianluigi Donnarumma dianulir oleh VAR (video assistant referee). Jadilah MU cuma menang 2-0 atas rival yang di masa Fergie dijuluki sebagai "tetangga berisik" itu.
Ini kinerja kejutan dari seorang Michael Carrick sebagai manajer interim. Laga pertama Carrick selepas Darren Fletcher memimpin tim yang goyah akibat pemecatan Ruben Amorim, 5 Januari lalu.
Dan satu lagi harus ditambahkan: Saat ini MU hanya memiliki satu kompetisi yang dipertaruhkan, yakni Liga Premier Inggris. Di ajang Carabao Cup (Piala Liga) serta Piala FA, MU telah tersingkir.
Jangan pula bicara kompetisi Eropa, di musim ini MU tidak lolos seleksi. Kesempatan MU main di Liga Champions via juara Liga Europa dikandaskan oleh Tottenham Hotspur. Ini musim prihatin buat klub sekelas The Red Devils.
Hebatnya lagi, MU menang atas City dengan gaya. Erling Haaland tak berkutik dan sembilan pemain City lainnya tak sanggup bikin tembakan ke arah gawang (shot on target).
Penguasaan bola hingga 68 persen oleh City berakhir sia-sia. Cuma menghasilkan tujuh tendangan yang membuat Pep Guardiola kecut.
Carrick membuat perubahan dalam gaya bermain MU. Tidak lagi bertumpu pada pola 3-4-3 favorit Amorim, tapi kembali kepada kebiasaan Setan Merah: 4-2-3-1.
Tidak ada perubahan komposisi pemain yang menonjol, kecuali pemasangan Kobbie Mainoo berduet dengan Casemiro sebagai jangkar. Mainoo di bawah Amorim terpental dari skuad, cuma menghiasi bangku cadangan.
Hari itu, Mainoo dan Casemiro menjaga lapangan tengah MU dengan apik. Formasi empat bek--Diogo Dalot, Harry Maguire, Lisandro Martinez dan Luke Shaw--sukses menjaga pertahanan.
Cukup langka dan tak masuk akal menyaksikan City yang ofensif dan buas gagal melesakkan satu gol pun ke gawang Senne Lammens.
Carrick memilih Amad Diallo serta Patrick Dorgu sebagai winger. Sang kapten, Bruno Fernandes, diplot sebagai pemain nomor 10, alias penyerang lubang di belakang striker Bryan Mbeumo.
Inilah line up utama MU yang memberi kejutan "cinta satu malam" kepada pecinta bola di luar fans MU.
Kebetulan gilbol Indonesia dan negara-negara yang satu garis lintang menyaksikan derby itu ketika hari sudah malam. Beda waktu Jakarta dengan Manchester, Inggris sekitar tujuh jam.
Saya menikmati racikan Carrick itu dari lokasi di pojok Indonesia. Kali ini MU gahar, efektif dengan bola-bola panjang yang merepotkan City. Seluruh lini bermain dengan rancak sehingga City tampak frustrasi.
Dua gol kemenangan tim racikan Carrick diceploskan Mbeumo dan Dorgu lewat serangan cepat. Dan mungkin Guardiola agak sedikit menyesal karena harus menurunkan empat bek, yaitu Nathan Ake, Max Aleyne, Abdukodir Khusanov dan Rico Lewis, karena skuad sedang dibelit masalah cidera bek tengah.
Di leg pertama semifinal Piala Liga versus Newcastle United, formasi Ake, Aleyne, Khusanov dan Matheus Nunes justru kokoh.
City membawa pulang kemenangan dengan skor 2-0. Saat Nunes diganti Rico Lewis keseimbangan lini belakang The Citizens berubah, meski ada Rodrigo sebagai jangkar dalam skema 4-1-4-1.
Situasi di St. James Park, stadion yang belakangan angker karena keberingasan Newcastle, ternyata beda dengan Old Trafford.
Pada 17 Januari 2026, stadion ini bertuah lagi. Setan merah mendemonstrasikan taktik jitu untuk membekuk City.
Pilihan Carrick bertumpu pada 9 pemain lawas dan dua pemain anyar, Lammens dan Mbeumo di posisi kiper dan striker.
Dengan itu Michael Carrick, tak lain murid Ferguson, seolah berkata: Masalah MU bukan soal pemain, tapi menemukan racikan yang tepat ketika menghadapi lawan tertentu.
Di bawah Carrick, MU mengubah rekor pertemuan dengan City. Kini, MU menang dua kali, satu kali seri dan tiga kali keok versus City.
Hasil di pekan 22 itu sempat mengangkat peringkat MU ke posisi empat. Namun, dua jam setelah laga itu usai, Liverpool kembali di peringkat empat hasil seri kontra Burnley.
Saat ini, MU berdiri dengan sedikit bangga: Duduk di posisi lima klasemen, diapit oleh Liverpool dan Chelsea. Selisih poin MU dengan City tinggal 8, sementara jarak mereka dengan pemuncak klasemen Arsenal menjadi 15 poin.
Saya teringat laga Chelsea versus MU di Stamford Bridge, London, 28 November 2021. Saat itu MU diasuh Carrick sebagai pelatih sementara.
Setan Merah datang dengan status underdog. Chelsea kala itu dinakhodai Thomas Tuchel sedang bagus-bagusnya, terutama setelah juara Liga Champions 2020/2021 yang diraihnya di bulan Mei 2021.
Waktu itu Carrick memilih strategi bertahan yang dalam, sambil membidik serangan kilat lewat transisi kilat. Blunder oleh Jorginho menjadi awal gol MU lesakan Jadon Sancho. Satu gol itu sudah cukup untuk menang.
Namun kesalahan bek kanan Aaron Wan-Bissaka di menit 67 berbuah penalti buat Chelsea. Jorginho maju sebagai algojo dan membayar kesalahannya dengan gol penyama.
Carrick pun membawa pulang satu poin. Bukan poin saja, ia memberi bentuk dalam permainan MU. Ia seolah memberi tahu bahwa kelengkapan taktik menentukan dalam kompetisi seberat Liga Premier Inggris.
Berstatus pelatih sementara, Carrick tak bertahan lama: Cuma tiga laga--dua kali menang dan satu kali imbang. MU berjodoh dengan Ralf Rangnick, Carrick pun pergi.
Seterusnya ia ditunjuk jadi kepala pelatih Middlesbrough pada 24 Oktober 2022. Di masanya, Boro menekuk Chelsea 1-0 di leg pertama semifinal Piala Liga atau Carabao Cup, di Middlesbrough, 10 Januari 2024.
Sial buatnya, di leg kedua, berlangsung di Stamford Bridge, 24 Januari 2024, tim asuhannya dibungkam 6-1 oleh tuan rumah, Chelsea.
Carrick tak mampu mengulang kisah manisnya ketika menukangi MU dengan menahan imbang Chelsea 1-1, tiga tahun sebelumnya. Carrick menyebut laga kontra Chelsea asuhan Mauricio Pochettino itu sebagai "brutal dan kejam".
Itulah prestasi tertinggi Carrick bareng Middlesbrough. Pemain besar di masa Ferguson itu gagal membawa Boro ke panggung yang seharusnya: Liga Premier Inggris. Dengan curriculum vitae itu, ia dipercaya menukangi MU dari pekan ke-22 hingga akhir musim.
Mungkinkah Carrick membawa MU menjemput mimpi, setidaknya mempersembahkan tiket Liga Champions musim mendatang? Atau Carrick cuma memberi cinta satu malam--sensasi sesaat lalu pergi ditelan persaingan berat Liga Premier Inggris?
Ujian pertama telah dilampauinya, menekuk Manchester City--klub super racikan Guardiola di tanah Inggris sejak Ferguson pensiun.
Jika Fergie mengabdi selama 26,5 tahun pada MU, entah sampai kapan Guardiola tahan melatih City.
Sejak menukangi City musim 2016/2017, Guardiola telah 6 kali meraih trofi Liga Inggris. Sementara Ferguson mengoleksi 13 trofi kasta tertinggi di Inggris itu.
Ujian kedua akan dihadapi Carrick di pekan ke-23. Lawannya Arsenal, pemuncak klasemen, cuma tersentuh dua kekalahan hingga pekan ke-22. Sejauh ini, Arsenal adalah tim paling stabil, punya skuad begitu dalam serta pertahanan kuat.
Carrick harus meladeni Mikel Arteta dalam duel di Stadion Emirates, 25 Januari mendatang. Setelah itu, MU ditunggu oleh Fulham, Tottenham Hotspur, dan West Ham United.
Konsistensi dan stabilitas MU diuji oleh lima klub berbeda karakter itu. Dengan modal kepercayaan diri tinggi, MU menatap Arsenal dengan setara.
Ini pertarungan tim papan atas yang bakal menentukan perjalanan Setan Merah. Arsenal bukan City, dan Arteta--meski pernah jadi asisten Guardiola--bukanlah Guardiola.
Setiap laga berbeda---beda sistem, gaya dan taktik bermain, beda situasi, dan beda pula hoki atau peruntungannya.
Michael Carrick punya tabungan kenangan indah kontra Arsenal. Saat menukangi MU periode pertama, ia sukses menggasak Arsenal 3-2, di Old Trafford, Desember 2021.
Saat itu, Cristiano Ronaldo mencetak dua gol. Satu gol lain dihasilkan oleh Fernandes--pemain yang terus bertahan dan menjadi kapten MU saat ini. Kenangan indah harus ia bawa dan embuskan ke tim yang melawat ke kandang Arsenal.
Sebelum laga versus City, Carrick--menurut Lisandro Martinez--mengingatkan pasukannya untuk "menggunakan energi dari para pendukung" di Old Trafford. Seusai laga, Carrick tetap seperti dia yang tenang, tidak meletup-letup.
"Saya tidak sedang terbawa suasana. Ini baru satu hasil, tapi perasaan seperti ini perlu menjadi hal yang rutin dengan tingkat performa seperti itu," paparnya.
Betul belaka. Laga kontra The Citizens baru satu pertandingan. Ada 16 laga lain yang mesti diarungi untuk tahu di mana posisi Manchester United di akhir musim 2025/2026.
Pep Guardiola menyebut "MU memiliki energi yang tidak kami miliki" ketika ditumbangkan Setan Merah. Pujian yang merangkum situasi di lapangan.
Dengan hasil itu, dalam dua periode kepelatihan, Carrick tak terjamah kekalahan bersama MU di dua kompetisi. Dulu, Arteta dikalahkan dan Tuchel ditahan imbang. Saat ini Guardiola pun dipecundangi.
Mungkin fans MU mulai menyulam mimpi bersama Michael Carrick. Dan pecandu bola akan menunggu dengan tertib dan sabar: Inikah petunjuk masa kebangkitan MU? Atau ini sekadar cinta satu malam yang lewat begitu saja.
Tag: #cinta #satu #malam #manchester #united