John Herdman, ''Pak Dosen'' yang Siap Mengajar di Timnas Indonesia
Pelatih timnas Kanada, John Herdman, memberi isyarat pada laga Grup F Piala Dunia Qatar 2022 antara Kanada dan Maroko di Stadion Al-Thumama di Doha pada 1 Desember 2022. PSSI secara resmi memastikan penunjukkan John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1/2026) sore WIB.(AFP/MIGUEL MEDINA)
11:58
11 Januari 2026

John Herdman, ''Pak Dosen'' yang Siap Mengajar di Timnas Indonesia

- John Herdman punya latar belakang sebagai guru dan dosen. Ia siap mengajarkan filosofi sepak bolanya kepada personel Timnas Indonesia.

Konferensi pers perkenalan resmi John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/1/2026) besok pukul 09.00 WIB.

John Herdman siap memulai tugas barunya sebagai juru racik strategi Timnas Indonesia. Ia menggantikan Patrick Kluivert yang telah resmi berpisah dengan PSSI per 16 Oktober 2025 silam.

"Indonesia bukan sekadar pekerjaan, ini adalah panggilan untuk transformasi," ujar Herdman dalam pertemuan pertamanya dengan PSSI, pertengahan Desember 2025, dalam sebuah keterangan tertulis yang diterima KOMPAS.com awal Januari silam. 

"Saya melihat potensi yang luar biasa, gairah yang tak tertandingi, dan kerinduan yang mendalam dari jutaan penggemar," tutur John Herdman.

Pak Dosen siap mentransfer ilmunya untuk sepak bola Indonesia. Ya, John Herdman punya riwayat bekerja di bidang pendidikan.

Sebelum terjun ke dunia profesional sebagai peracik taktik, John Herdman pernah bekerja sebagai guru olahraga di kampung halamannya, Consett, Inggris.

Menurut catatan Talksport, John Herdman juga pernah mengajar secara paruh waktu di Universitas Northumbria departemen ilmu keolahragaan, sembari menjalani tugas melatih di akademi Sunderland.

“Tidak banyak guru yang baru terjun ke dunia pendidikan sanggup menyeimbangkan beratnya tuntutan di kelas—khususnya pada satu hingga dua tahun pertama mengajar—dengan aktivitas melatih di malam hari,” kata Paul Potrac, seorang profesor Universitas Northumbria, mengomentari Herdman, dilansir dari The Athletic.

Semasa jadi bagian staf kepelatihan akademi Sunderland, ia pernah menanangi Jordan Henderson, yang kemudian tumbuh jadi andalan Liverpool dan Timnas Inggris.

John Herdman menjalankan sejumlah pendekatan unik dalam karier kepelatihannya. 

Semasa bertugas sebagai asisten untuk Eliott Dickman, di tim U9 Sunderland, John Herdman pernah memutar musim samba khas Brasil dalam sesi latihan.

Tujuannya adalah mendorong para pemain muda bergerak dengan lebih bebas. Herdman juga membawa bola ukuran satu yang diberi beban berat ke dalam latihan guna meningkatkan kemampuan kontrol serta kekuatan pemain dalam menguasai bola.

Ia ingin pemain bisa bergerak dengan lebih leluasa saat pertandingan.

“Pada masa itu, metode kepelatihan di Inggris masih sangat tradisional,” kata Dickman dilansir dari The Athletic.

“Pelatih tidak membimbing, melainkan menuntut. Alih-alih terus memberi instruksi, John justru sangat menekankan pada mengajukan pertanyaan kepada para pemain. ‘Menurut kalian, apa yang seharusnya kita lakukan dalam situasi dua lawan satu?’ tanyanya kepada anak-anak."

"Keberanian dan keteguhan yang ia tunjukkan untuk melakukan apa yang ia lakukan sungguh luar biasa,” ujar Elliott Dickman berkisah. 

Walau begitu, John Herdman tak punya pengalaman sebagai pemain sepak bola level tinggi. Faktor itulah yang dinilai menghalanginya untuk mendapatkan posisi lebih penting di dunia kepelatihan sepak bola Inggris.

John Herdman pun menguji diri dan memperluas wawasan dengan menerima pekerjaan di Selandia Baru pada 2001.

Awalnya, ia bekerja untuk klub semi-profesional Hibiscus Coast. Di sana John Herdman memperlakukan pemain dengan serius selayaknya profesional.

Seperti diceritakan The Athletic, John Herdman menunjukkan potongan video konstruksi permainan AC Milan.

Pemain-pemain yang punya pekerjaan lain di luar sepak bola itu diminta Herdman untuk mempelajari aksi bintang AC Milan semodel Andry Shevchenko dan Clarence Seedorf.

Media Inggris The Guardian pernah menulis, John Herdman ingin membuktikan bahwa “seseorang yang telah membaca 400 buku (sama mampunya untuk sukses sebagai pelatih] seperti halnya orang yang telah memainkan 400 pertandingan".

Pengalaman bekerja di luar Inggris benar-benar membentuk John Herdman. Karier Herdman di Selandia Baru terus menanjak.

Ia sempat menduduki posisi Kepala Pengembangan Sepak Bola di bagian selatan Selandia Baru, sebelum kemudian bertugas sebagai pelatih Timnas Putri.

Ketika menukangi Timnas Putri Selandia Baru, John Herdman, mampu membawa anak asuhnya sampai ke Piala Dunia Putri 2007 dan 2011.

Kanada pun memanggil. Ia mengisi pos pelatih Timnas Putri Kanada pada kurun 2011-2018. Bersama Herdman, Timnas Putri Kanada merasakan mentas di Piala Dunia Putri 2015.

Herdman juga berandil mengantar Timnas Putri Kanada meraih medali perunggu Olimpiade Rio 2016.

Prestasi itu mengantarkannya ke skuad putra Kanada. Sentuhan Herdman membawa Timnas Putra Kanada menembus Piala Dunia 2022.

Itulah kali pertama Kanada lolos ke Piala Dunia 2022 sejak 1986. Artinya, Herdman mengakhiri 36 tahun penantian publik Kanada.

Melalui prestasi itu, Herdman bak menegaskan bahwa untuk jadi pelatih sepak bola hebat tak wajib memiliki rekam jejak sebagai pemain di level tinggi. 

“Pada masa saya, sosok inspirasi itu adalah Rafa Benitez dan Jose Mourinho. Mereka adalah perintis sejati, orang-orang yang tidak pernah bermain di level tertinggi tetapi mampu bekerja layaknya akademisi, mempelajari permainan secara mendalam, lalu beradaptasi untuk bisa berkomunikasi dengan para pemain," tutur John Herdman dilansir dari Talk Sport, dalam sebuah artikel terbitan November 2022.

“Sangat sulit berkomunikasi dengan pemain jika kita tidak pernah bermain di level mereka, tidak pernah melihat, mengalami, dan merasakan sendiri."

“Kuncinya adalah mengelilingi diri dengan orang-orang yang dapat menutup kekurangan tersebut, memahami psikologi pada momen itu, dan membangun pemahaman tersebut,” ucap John Herdman menjelaskan.

Tag:  #john #herdman #dosen #yang #siap #mengajar #timnas #indonesia

KOMENTAR