Seluruh Korban Banjir-Longsor di Sumbar Telah Tinggalkan Tenda Pengungsian
Kasatgas PRR Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Wilayah Sumatera di Gedung Kemenko PMK, Jakarta, Jumat (27/2/2026).(Dok. Kemendagri)
15:34
27 Februari 2026

Seluruh Korban Banjir-Longsor di Sumbar Telah Tinggalkan Tenda Pengungsian

Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Percepatan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Pascabencana Sumatera Tito Karnavian mengungkapkan, korban bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat telah meninggalkan tenda pengungsian.

Tito menyebutkan, sudah tidak ada lagi pengungsi di Sumatera Barat karena para korban telah tinggal di hunian sementara atau huntara.

“Kemudian di Provinsi Sumatera Barat, Alhamdulillah tidak ada lagi pengungsi dalam catatan kami. Tidak ada lagi pengungsi yang ada di tenda, semuanya sudah ada di huntara,” ujar Tito dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Kasatgas Tito Paparkan Progres Pemulihan Pascabencana Sumatera, Jumlah Pengungsi Turun Signifikan

Tito juga mengatakan bahwa jumlah pengungsi bencana Sumatera terus berkurang.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 25 Februari 2026, jumlah pengungsi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara turun signifikan dari 2.108.582 orang menjadi 11.250 orang.

Dari total tersebut, sebanyak 10.400 orang berada di Provinsi Aceh dan 850 orang berada di Provinsi Sumatera Utara.

Dalam kesempatan itu, ia melaporkan lima desa di dua provinsi perlu ditata ulang karena terdampak bencana.

Lima desa tersebut terdiri atas tiga desa di Aceh dan dua desa di Sumatera Utara, sedangkan tidak ada desa di Sumatera Barat yang perlu ditata ulang.

Baca juga: BNPB Pastikan Pengungsi di Sumbar-Sumut Masuk Huntara Sebelum Puasa

Tito menyampaikan, dari 52 kabupaten/kota yang terdampak bencana, sebanyak 38 kabupaten/kota telah kembali normal.

Sebanyak tiga kabupaten/kota dalam kondisi mendekati normal, sedangkan 11 kabupaten/kota masih memerlukan perhatian khusus.

Menteri Dalam Negeri RI itu menjelaskan, pemerintah menetapkan status normal suatu daerah berdasarkan beberapa indikator.

Indikator tersebut meliputi pemerintahan, layanan publik, akses darat, ekonomi, dan sosial.

Baca juga: Mendag: 91,75 Persen Pasar di Aceh-Sumut-Sumbar Sudah Beroperasi

Indikator dasar lainnya mencakup ketersediaan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), listrik, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), internet, gas elpiji (elpiji), tempat pemrosesan akhir dan tempat pengolahan sampah terpadu (TPA-TPST), bank sampah, serta normalisasi sungai.

“Sebelumnya ada satu lagi yaitu masalah persawahan dan perkebunan yang juga terdampak serta tambak, perikanan,” imbuh dia.

Tito memastikan, rekonstruksi dan rehabilitasi pascabencana menunjukkan progres positif.

Baca juga: Pratikno Minta Pembangunan Huntara Korban Bencana Sumatera Dipercepat Sebelum Lebaran

Akses jalan telah berfungsi penuh, aliran listrik telah dimanfaatkan masyarakat, dan SPBU telah beroperasi normal.

Ia menegaskan, aktivitas pasar telah kembali berjalan dan akses jalan telah terbuka, meski kegiatan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) belum sepenuhnya pulih.

Pemerintah masih menyelesaikan pembersihan lumpur serta perbaikan jembatan, jalan desa, dan sejumlah titik terdampak lainnya.

Tag:  #seluruh #korban #banjir #longsor #sumbar #telah #tinggalkan #tenda #pengungsian

KOMENTAR