PSI Safari Ramadhan ke Banten: Jangan Jadikan Kiai-Ponpes Alat Politik
- Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep, Ketua Harian PSI Ahmad Ali, beserta jajarannya menggelar Safari Ramadhan 2026 ke pondok pesantren (ponpes) yang ada di Pandeglang, Banten.
Pantauan Kompas.com, Kamis (26/2/2026), Kaesang dan rombongan terlebih dahulu mengunjungi kediaman pendiri Ponpes Roudotup Ulum Cidahu, Abuya Muhtadi Dimyathi.
Kaesang dan Ali tampak meminta Abuya Muhtadi mendoakan PSI.
Baca juga: PSI Bela MBG yang Dikritik PDIP Pakai Anggaran Pendidikan
Kaesang turut memberitahu bahwa ayahnya, Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) menitip salam ke Abuya Muhtadi.
"Saya Kaesang. Tadi selama perjalanan, Bapak (Jokowi) telepon, titip salam. Kami minta nasihat, masukan," ujar Kaesang.
Baca juga: Usul Ambang Batas DPR 7 Persen: Nasdem Bidik PSI?
Lalu, Ali mengeluarkan sebuah parfum seharga Rp 20 juta yang dia beli di Makkah, Arab Saudi.
Ali memakaikan parfum tersebut ke tangan Abuya Muhtadi. Kaesang pun berkelakar bahwa parfum yang Ali beli terlalu beraroma orang tua.
"Saya kan muda," ucap Kaesang sambil tertawa bersama Ali dan Abuya Muhtadi.
Selanjutnya, Kaesang dan jajaran PSI melanjutkan Safari Ramadhan ke Pondok Pesantren Menes di Pandeglang.
Menurut Ali, Safari Ramadhan PSI ke sejumlah ponpes ini dilakukan bukan untuk kepentingan elektoral, melainkan silaturahmi dan pembelajaran kader.
Dia mencontohkan Kaesang yang memperlakukan para santri. Putra bungsu Jokowi itu justru memberikan kuis-kuis dan hadiah kepada santri, sambil menunggu waktu berbuka.
Maka dari itu, Ali menegaskan, bulan Ramadhan menjadi momentum terbaik bagi PSI untuk mendekatkan diri dengan lingkungan pesantren sebagai ruang pendidikan moral dan budaya.
“Bagi PSI, ini momen penting untuk mendekatkan partai dan melihat langsung kehidupan pondok pesantren. Saya selalu sampaikan kepada kader, jadikan pesantren sebagai tempat belajar,” kata Ali.
Ali: Jangan jadikan kiai dan ponpes alat politik parpol
Ali mengingatkan para kader PSI untuk menjadikan ulama dan kiai sebagai rujukan ketika menghadapi persoalan agama dan budaya, terutama saat kelelahan dalam aktivitas politik.
Namun, ia memberi garis tegas agar pesantren tidak dijadikan alat politik.
“Jangan membuat tafsir sendiri-sendiri yang akhirnya menimbulkan kegaduhan. Jadikan kiai sebagai guru ketika batin lelah mengurus politik. Tapi jangan pernah menjadikan kiai dan pondok pesantren sebagai alat politik untuk memenangkan partai,” kata Ali.
Baca juga: Profil Nina Agustina, Eks Bupati Indramayu yang Minta Restu Jokowi untuk Gabung PSI
Ali menyampaikan, Safari Ramadhan yang dilakukan PSI pada bulan Ramadhan 2026 ini menjadi momentum penting dalam mempererat silaturahmi dengan pesantren-pesantren di berbagai daerah.
Ali menegaskan bahwa politik bukan sekadar soal strategi dan kekuasaan, tetapi juga soal keteguhan mental dan kejernihan hati.
“Politik itu hanya untuk orang yang mentalnya kuat. Kalau tidak, pasti goyang. Jadikan guru agama, kyai, dan ulama sebagai penguat mental kita, penguat hati kita, tempat kita mengadu,” tegas Ali.
Pesan tersebut, menurut dia, menjadi penekanan bahwa perjuangan politik tanpa fondasi moral akan mudah tergelincir.
Oleh karena itu, kedekatan dengan pesantren bukan hanya simbolik, tetapi bagian dari komitmen PSI untuk menjaga integritas dan arah perjuangan.
Tag: #safari #ramadhan #banten #jangan #jadikan #kiai #ponpes #alat #politik