Siswa SMP Lempar Molotov: Luka Bullying Bertemu Konten True Crime Community
Kepolisian telah mengamankan seorang pria yang diduga melempar bom molotov di lingkungan SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (3/2/2026). (KOMPAS.com/HENDRA CIPTA)
07:32
5 Februari 2026

Siswa SMP Lempar Molotov: Luka Bullying Bertemu Konten True Crime Community

- Kasus ledakan di lingkungan sekolah kembali terjadi. Kali ini, peristiwa tersebut mengguncang SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (3/2/2026).

Ledakan yang berasal dari bom molotov itu terjadi sesaat setelah jam istirahat sekolah berakhir.

Baca juga: Mirip Kasus SMAN 72, Pelaku Ledakan SMPN 3 Sungai Raya Tulis Nama Pelaku Teror di Tas Sekolah

Suara dentuman mendadak memecah aktivitas belajar-mengajar dan memicu kepanikan di lingkungan sekolah.

Peristiwa di Kubu Raya ini mengingatkan pada kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara yang terjadi pada November 2025.

Meski berbeda lokasi dan waktu, aparat menilai terdapat kemiripan pola di balik dua peristiwa tersebut, terutama terkait latar belakang pelaku yang sama-sama masih berstatus pelajar dan memiliki riwayat perundungan.

Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya

Wakapolres Kubu Raya Kompol Andri Syahroni mengatakan, terduga pelaku pelemparan bom molotov di SMPN 3 Sungai Raya merupakan salah satu siswa aktif kelas IX di sekolah tersebut.

“Terduga pelaku merupakan salah satu siswa aktif di sekolah,” kata Andri Syahroni kepada wartawan, Selasa (3/2/2026).

Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri kemudian mengungkap latar belakang pelaku.

Juru Bicara Densus 88 Kombes Pol Mayndra Eka Wardhana menyebut, siswa tersebut tertarik pada konten-konten kekerasan dan tergabung dalam komunitas daring True Crime Community (TCC).

“Yang bersangkutan tertarik dengan konten-konten kekerasan dan juga tergabung dalam komunitas True Crime Community," kata Mayndra kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

Baca juga: Densus 88 Ungkap Ada 70 Anak Gabung Grup True Crime, Mayoritas Korban Bullying

Selain itu, pelaku juga diketahui menjadi korban perundungan oleh teman-temannya di sekolah.

Kondisi tersebut diperparah dengan dugaan masalah keluarga yang dihadapi, sehingga memicu keinginan untuk melakukan balas dendam.

“Yang bersangkutan merupakan korban perundungan dan memiliki keinginan untuk melakukan balas dendam kepada rekan-rekan yang kerap kali melakukan perundungan terhadapnya juga diduga kuat menghadapi masalah keluarga," jelasnya.

Baca juga: Densus 88 Ungkap 27 Grup Medsos True Crime Community, Orangtua Diminta Waspada

Dalam pengungkapan kasus ini, aparat menemukan sejumlah barang berbahaya yang diduga akan digunakan untuk aksi lanjutan.

Antara lain lima tabung gas portable yang direkatkan dengan petasan, paku, dan pisau; enam botol berisi bahan bakar minyak dengan sumbu kain yang diduga sebagai bom molotov serta satu bilah pisau.

Densus 88 mendampingi Polda Kalimantan Barat dalam proses pemetaan dan pemenuhan alat bukti.

Namun, Mayndra menegaskan bahwa leading sector penanganan perkara tetap berada di Polda Kalimantan Barat.

Ledakan di SMAN 72 Jakarta

Sebelumnya, publik dikejutkan oleh dua kali ledakan di lingkungan SMAN 72 Jakarta, yang berada di kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut, Kelapa Gading, pada Jumat (7/11/2025) sekitar pukul 12.15 WIB.

Berdasarkan keterangan saksi, ledakan pertama terdengar saat khotbah Jumat tengah berlangsung.

Tak lama berselang, ledakan kedua terjadi dari arah berbeda.

Akibat peristiwa tersebut, 96 orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat kepanikan dan serpihan benda di sekitar lokasi.

Polisi menemukan benda menyerupai airsoft gun dan revolver di lokasi kejadian.

Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, keduanya dipastikan merupakan senjata mainan.

Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara kini ditangani oleh Polda Metro Jaya.

Sementara itu, anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dalam perkara tersebut dilaporkan telah pulih dan saat ini berada di rumah aman untuk menjalani pendampingan psikologis.

Peristiwa di SMAN 72 Jakarta juga dilatarbelakangi perundungan

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengungkapkan, hasil asesmen Densus 88 menunjukkan bahwa pelaku ledakan di SMAN 72 tidak bertindak karena keyakinan ideologi tertentu, melainkan dilatarbelakangi oleh perundungan atau bullying.

“Pelaku melakukan aksi karena menjadi korban bullying dari rekannya dan meniru pelaku penembakan massal di luar negeri sebagai metode untuk melakukan aksi balas dendam dan bukan melakukan aksi karena keyakinan atas salah satu paham atau ideologi," tegas Trunoyudo dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Baca juga: Siswa SMP Pelempar Molotov di Kalbar Terpapar Konten Kekerasan dan Tergabung True Crime Community

Menurut Trunoyudo, kerentanan anak terhadap kekerasan dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, mulai dari bullying, kurangnya perhatian keluarga, kondisi broken home, pencarian jati diri, marginalisasi sosial, rendahnya literasi digital, hingga minimnya pemahaman agama.

Faktor-faktor tersebut kerap menjadi celah yang dimanfaatkan di ruang digital, meski mekanisme pada setiap kasus bisa berbeda.

Bergabung dalam True Crime Community

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan, pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta Utara diketahui mengakses grup daring True Crime Community (TCC) sebelum melakukan aksinya.

Kepala BNPT Eddy Hartono menyatakan, insiden ini menjadi indikasi terjadinya memetic violence atau kekerasan berbasis peniruan, yakni kecenderungan meniru ide dan pola kekerasan yang dilihat secara berulang.

“Jadi dia lebih kepada meniru ide atau perilaku. Ya, contohnya, kalau di SMA 72 diketahui Densus juga mengakses grupnya yang namanya TCC, True Crime Community," kata Eddy dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (18/11/2025).

Alarm bagi dunia pendidikan

Dua kasus di Kubu Raya dan Jakarta Utara menunjukkan benang merah yang sama, yakni luka psikologis akibat perundungan yang bertemu dengan paparan konten kekerasan di ruang digital.

Meski tidak terkait paham ideologi tertentu, kombinasi tersebut dinilai berbahaya ketika tidak terdeteksi sejak dini.

Polri pun mengusulkan empat langkah strategis untuk memperkuat perlindungan anak, mulai dari kajian pembatasan media sosial bagi anak, pembentukan tim terpadu lintas kementerian dan lembaga, penyusunan SOP teknis penanganan, hingga pelibatan aktif orangtua, guru, dan masyarakat.

“Polri menegaskan komitmen untuk melindungi anak-anak Indonesia, beserta seluruh kementerian dan lembaga, dan BNPT, KPAI, dan LPSK, serta seluruh kementerian stakeholder terkait, terhadap dari ancaman radikalisasi eksploitasi ideologi maupun kekerasan digital untuk melindungi anak-anak Indonesia, serta terus bekerja sama dengan seluruh unsur-unsur pemerintah serta masyarakat," kata Trunoyudo.

Tag:  #siswa #lempar #molotov #luka #bullying #bertemu #konten #true #crime #community

KOMENTAR