BMKG Ungkap Cuaca Maros Saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh: Awan Cb Tebal
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani saat ditemui di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/12/2025). (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)
16:14
20 Januari 2026

BMKG Ungkap Cuaca Maros Saat Pesawat ATR 42-500 Jatuh: Awan Cb Tebal

- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengungkapkan kondisi cuaca di Maros, Sulawesi Selatan pada saat pesawat ATR 42-500 jatuh.

Faisal mengatakan, di area Bandara Sultan Hasanuddin yang akan jadi lokasi pendaratan pesawat ATR 42-500, memang terdapat awan cumulonimbus (Cb).

Hal tersebut Faisal sampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

"Di Bandara tujuan di Sultan Hasanuddin, untuk kondisi pada saat kejadian, 17 Januari 2026 pukul 12.30 WITA, itu METAR (Meteorological Aerodrome Report) yang dilaporkan adalah angin bertiup dengan kecepatan 13 knot, jarak pandangnya adalah 9 km di area bandara. Kemudian suhu dan udara bertekanan normal 31°C dan tekanan udara 1.007 mb," ujar Faisal.

"Cuaca di sekitar bandara berupa hujan sesaat di area bandara dengan awan cumulonimbus 1-2 oktas pada ketinggian 1.700 kaki, serta awan 3-4 oktas yang lebih tebal pada ketinggian sekitar 1.800 kaki. Memang di area bandara itu dipengaruhi oleh awan Cb yang cukup tebal," sambungnya.

Menurut Faisal, cuaca tersebut masih tergolong relatif stabil untuk pesawat.

Hanya saja, kata dia, keberadaan awan cumulonimbus di lokasi pendekataan saat pendaratan memang perlu diwaspadai.

"Bahwa berdasarkan citra satelit Himawari IR Enhanced pada tanggal 17 Januari 2026 pukul 11.00-13.30 WITA, suhu puncak di lokasi kejadian berkisar antara -48°C hingga 21°C, yang menunjukkan keberadaan awan tinggi dan awan tebal (dense cloud) di sekitaran wilayah tersebut," jelas Faisal.

Kronologi pesawat ATR jatuh

Pesawat turboprop ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak saat melintas di kawasan pegunungan Leang-Leang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026).

Pesawat itu tengah menjalankan penerbangan dari Yogyakarta menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Putusnya komunikasi terjadi di wilayah dengan kontur pegunungan terjal dan akses terbatas. Kondisi medan tersebut langsung memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan awak dan penumpang, sekaligus potensi hambatan pencarian serta evakuasi.


Data awal menyebut pesawat mengangkut 11 orang dan menjalankan penerbangan sewaan untuk Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Pesawat dijadwalkan mendarat di Makassar pada Sabtu siang. Namun, sebelum mencapai bandara tujuan, kontak dengan pesawat mendadak terputus.

AirNav Makassar melaporkan, pesawat ATR 42-500 itu menghilang dari pantauan radar saat berada di wilayah pegunungan Sulawesi Selatan.

Hingga kini, telah ditemukan 2 korban dalam kondisi meninggal dunia.

Tag:  #bmkg #ungkap #cuaca #maros #saat #pesawat #jatuh #awan #tebal

KOMENTAR