Pemimpin Hangat dan Indeks Kebahagiaan
Ilustrasi.(KOMPAS/TOTO SIHONO)
10:30
9 Januari 2026

Pemimpin Hangat dan Indeks Kebahagiaan

DALAM teori affective governance, pemimpin negara bukan hanya mengelola anggaran, hukum, politik, dan kebijakan, tetapi juga mengelola suasana batin rakyat.

Kata Ali bin Abi Thalib, pemimpin itu pengaman rakyat bukan hanya secara fisik, tetapi secara batin, supaya mereka aman dari ketakutan, dari tipu daya, dan dari ketidakpastian.

Rakyat mengambil suasana batin dari pemimpinnya, lanjut Ali bin Abi Thalib. Jika pemimpinnya paranoid, amarah dan curiga, maka akan menular ke rakyat. Jika pemimpinnya hangat dan tenang, rakyat menyerap keteduhan.

Rakyat yang dipimpin oleh figur hangat dan menenangkan akan mengalami penurunan kecemasan sosial. Kecemasan adalah musuh kebahagiaan.

Negara bisa memiliki ekonomi kuat. Namun kalau rakyatnya cemas, takut, dan tidak merasa aman, indeks bahagianya rontok.

Pemimpin yang hangat itu bukan lembek. Hangat bukan berarti permisif. Pemimpin hangat adalah pemimpin tegas, tetapi tidak mengintimidasi.

Ia bisa menegur dengan adil, marah dengan alasan, tapi tidak pernah membuat rakyat merasa kecil.

Pemimpin yang hangat menghasilkan kepercayaan sekaligus kepatuhan. Dan kebahagiaan itu tumbuh dari kepercayaan, bukan sekadar kepatuhan.

Pemimpin yang hangat bukan hanya berbicara lembut, tetapi mengambil keputusan yang menghilangkan takut dari hati rakyatnya.

Pemimpin yang hangat memberi perlindungan psikologis, bukan sekadar administratif.

Bagi rakyat, pemimpin yang hangat menurunkan rasa “diawasi” dan menaikkan rasa “dibela”. Orang yang merasa dibela lebih bahagia daripada orang yang sekadar diatur. Dalam bahasa Ali bin Abi Thalib, pemimpin itu penjaga, bukan pemangsa.

Rakyat yang bahagia tidak pasif. Mereka mau terlibat. Pemimpin yang hangat membuat rakyat tidak takut salah dan tidak malu bersuara.

Demokrasi emosional seperti ini tidak tertulis dalam konstitusi, tetapi menjadi basis kebahagiaan nasional yang sangat kuat.

Harus diakui bersama bahwa kekuasaan itu sendiri aslinya menakutkan. Ia punya potensi memenjarakan, memiskinkan, menghancurkan, dan mematikan masa depan. Pemimpin yang hangat menjinakkan ketakutan itu.

Pemimpin yang hangat kepada rakyat akan dingin terhadap korupsi, keras terhadap kezaliman, lembut terhadap orang lemah, dan tenang dalam situasi krisis.

Keadilan yang tidak abstrak

Tidak bisa ditawar lagi bahwa indeks kebahagiaan bangsa tidak terpisah dari keadilan, dan bahwa keadilan bukanlah ide abstrak, melainkan mekanisme sosial yang terukur dan terpola.

Bangsa bahagia adalah bangsa yang berhasil menjadikan keadilan sebagai tata kelola, bukan doktrin moral. Sangat salah pemahaman bahwa keadilan adalah konsep metafisik yang hanya cocok dibahas dalam ceramah.

Sudah sering didengar oleh kita bahwa adil itu meletakkan sesuatu pada tempatnya. Definisi adil yang pendek itu membuka pintu bagi pendekatan teknokratis keadilan.

Sesuatu yang ditempatkan pada tempatnya, berarti terdapat urutan, standar, distribusi, dan prioritas. Di sini keadilan menjadi sistem.

Keadilan termanifestasikan secara struktural dalam memperlakukan pedagang, petani, bagaimana mengawasi birokrat, bagaimana memantau hakim, bagaimana menilai pegawai negeri, dan bagaimana melindungi golongan lemah.

Keadilan itu manual pemerintahan, bukan puisi moral. Dan dari manual itulah muncul pola keadilan yang dapat dipetakan, diaudit, dan diukur.

Keadilan terkait erat dengan ketenangan sosial. Oleh sebab itu, ketidakadilan adalah sumber pertama dari gejolak batin bangsa.

Ketidakadilan menciptakan kegelisahan kolektif, kegelisahan kolektif menciptakan marah sosial, dan marah sosial melahirkan kekacauan. Bangsa dengan kegelisahan tidak mungkin bahagia meskipun ekonominya tumbuh.

Bangsa yang aman secara emosional—bukan sekadar makmur—akan lebih kreatif, lebih produktif, dan lebih bahagia. Keamanan emosional ini hanya muncul ketika rakyat tidak takut terhadap pemimpinnya.

Banyak bangsa di dunia yang gagal menjadi bahagia karena negara berubah menjadi sumber kecemasan.

Ketika rakyat merasa negara akan menghukum tanpa alasan, merampas tanpa kompensasi, atau mengabaikan tanpa rasa bersalah, kebahagiaan pasti defisit.

Defisit kebahagiaan ini mungkin tidak tampak dalam statistik makro, tetapi terasa dalam percakapan, media sosial, perdebatan politik, dan angka kesehatan mental. Mungkin saja negara punya GDP yang naik, tetapi indeks kepercayaan (trust index) turun.

Kesehatan ekonomi tidak cukup jika kesehatan kepercayaan publik rapuh. Di sinilah kebahagiaan memiliki akar politis.

Keadilan yang konkret akan terukur dalam cara negara memperlakukan fakir miskin, janda, yatim, dan kelompok duafa lainnya.

Ukuran kebesaran suatu bangsa bukan pada kekuatan militer, tetapi pada kemampuan golongan lemah untuk berdiri tegak tanpa merasa terhina. Ini indikator sosial kebahagiaan yang amat kuat.

Negara yang membuat rakyat kecil merasa inferior adalah negara yang memotong sumber kebahagiaan rakyatnya.

Operasionalisasi keadilan yang konkret dapat terlihat dalam distribusi kekayaan negara yang proporsional, perlakuan hukum yang setara, keterbukaan informasi, kesantunan kekuasaan, proteksi terhadap yang lemah, ruang kritik publik yang terbuka, kenyamanan psikologis rakyat, dan kepercayaan politik.

Mesti kita ingat bersama bahwa kebahagiaan bukan peristiwa psikologis, tetapi hasil pertarungan panjang antara keadilan dan ketidakadilan dalam ruang politik.

Indeks kebahagiaan yang mengabaikan keadilan hanyalah statistik, sedangkan indeks kebahagiaan yang berakar pada keadilan adalah peradaban.

Tag:  #pemimpin #hangat #indeks #kebahagiaan

KOMENTAR