Pasar Waspada, Harga Minyak Dunia Terganjal Isu Nuklir dan Tarif Trump
Presiden AS, Donald Trump [The White House]
13:26
24 Februari 2026

Pasar Waspada, Harga Minyak Dunia Terganjal Isu Nuklir dan Tarif Trump

Baca 10 detik
  • Harga minyak dunia pada Selasa, 24 Februari 2026, sedikit menurun akibat investor cermati negosiasi nuklir AS-Iran.
  • Negosiasi nuklir AS-Iran akan berlanjut di Jenewa, dibayangi ketegangan militer dan peringatan keras dari Presiden Trump.
  • Investor juga mewaspadai ketidakpastian kebijakan dagang AS, termasuk ancaman kenaikan tarif impor menjadi 15 persen secara umum.

Harga minyak dunia berfluktuasi tepat di bawah level tertingginya dalam tujuh bulan terakhir pada perdagangan Selasa, 24 Februari 2026.

Hal tersebut dipicu oleh sikap waspada investor yang tengah memantau kelanjutan negosiasi nuklir antara AS dan Iran di tengah memanasnya tensi di Timur Tengah, serta bayang-bayang ketidakpastian kebijakan dagang Amerika Serikat.

Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 9 sen, atau 0,1 persen, menjadi 71,40 dolar AS per barel pada pukul 08.20 WIB. Sementara Harga minyak mentah berjangka AS turun 11 sen, atau 0,2 persen , menjadi 66,20 dolar AS per barel.

Analis ANZ, Daniel Hynes, dalam laporan risetnya menyatakan bahwa pasar minyak mentah saat ini berada dalam kondisi waspada menyusul berlanjutnya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran pada pekan ini.

"Ketegangan perdagangan yang kembali meningkat juga membebani sentimen," kata Hynes.

Menteri Luar Negeri Oman mengonfirmasi bahwa kedua negara dijadwalkan bertemu di Jenewa pada Kamis mendatang untuk putaran ketiga pembicaraan nuklir.

Ilustrasi harga minyak. [Freepik] PerbesarIlustrasi harga minyak. [Freepik]

Hingga saat ini, titik temu masih sulit dicapai karena AS mendesak penghentian total program nuklir Iran, sementara Teheran tetap pada pendiriannya bahwa aktivitas nuklir mereka bukan untuk tujuan persenjataan.

Namun, suasana diplomasi ini dibayangi oleh ketegangan militer yang meningkat. Sebagai langkah antisipasi, Departemen Luar Negeri AS mulai mengevakuasi staf diplomatik non-esensial beserta keluarga mereka dari kedutaan di Beirut, Lebanon.

Langkah pengamanan ini dipertegas oleh pernyataan keras Presiden Donald Trump.

Melalui unggahan di media sosial, Trump memberikan peringatan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika terus menolak untuk melakukan kesepakatan dalam pertemuan mendatang.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menyoroti bahwa harga minyak saat ini tengah menguji batas tertinggi dari zona perdagangan enam bulan terakhir, yakni di kisaran 55 dolar AS hingga 66,50 dolar AS.

"Jika harga berhasil menembus level tertinggi kisaran ini secara berkelanjutan, hal itu akan membuka peluang kenaikan lebih lanjut menuju 70,00 dolar AS – 72,00 dolar AS. Sebaliknya, jika terjadi penurunan, kemungkinan akan terjadi koreksi kembali menuju 61,00 dolar AS," ujarnya.

Di sisi kebijakan perdagangan, Trump mengeluarkan peringatan keras kepada mitra dagang Amerika.

Pasca-Mahkamah Agung membatalkan kebijakan tarif daruratnya, Trump mengancam akan mengenakan bea masuk yang jauh lebih mahal melalui payung hukum yang berbeda bagi negara yang berani melanggar kesepakatan dagang.

Sebagai langkah awal, ia berencana menaikkan tarif impor dari seluruh negara menjadi 15 persen yang merupakan batas maksimal yang diizinkan oleh undang-undang AS.

Editor: Dythia Novianty

Tag:  #pasar #waspada #harga #minyak #dunia #terganjal #nuklir #tarif #trump

KOMENTAR