Golkar: Koalisi Permanen Bisa Terjadi
- Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Muhammad Sarmuji mengutarakan optimismenya soal pembentukan koalisi permanen yang dapat terwujud.
Bahkan ia menyebut, komunikasi secara informal dengan partai politik sudah dilakukan terkait wacana pembentukan koalisi permanen.
"Koalisi permanen bisa terjadi, dan memang namanya koalisi itu pasti akan ada sikap-sikap politik yang akan didiskusikan secara intens," ujar Sarmuji di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Kamis (8/1/2026) malam.
Perbedaan pandangan dari partai politik, kata Sarmuji, merupakan hal yang lumrah dalam pembicaraan awal mengenai koalisi permanen.
"Tetapi di ujungnya itu kemungkinan akan sama. Tentu nanti ada proses penyesuaian-penyesuaian," ujar Sarmuji.
Terkait respons partai politik yang diajak komunikasi, Sarmuji mengungkap bahwa mereka memandang positif soal wacana koalisi permanen.
Namun, partai-partai tetap akan mempertimbangkan aspirasi masyarakat sebelum memutuskan sikap finalnya.
"Ya tadi, mungkin harus ada penyesuaian-penyesuaian memperhatikan aspirasi masyarakat. Tapi arahnya sih kelihatannya oke-oke saja,” ujar Sarmuji.
Bahlil Usulkan Koalisi Permanen
Sebelumnya, usulan koalisi permanen datang dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia yang ingin adanya stabilitas politik di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Usulan tersebut disampaikan Bahlil saat memberikan sambutan dalam puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-61 Partai Golkar, di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025) malam.
"Partai Golkar berpandangan Bapak Presiden, bahwa pemerintahan yang kuat dibutuhkan stabilitas. Lewat mimbar yang terhormat ini, izinkan kami menyampaikan saran, perlu dibuatkan koalisi permanen," ujar Bahlil dalam sambutannya.
"Jangan koalisi on-off, on-off. Jangan koalisi in-out. Jangan koalisi di sana senang, di sini senang, di mana-mana hatiku senang," sambungnya.
Menurut Bahlil, Indonesia sudah harus memiliki prinsip yang kuat untuk meletakkan kerangka koalisi yang benar.
Bahlil menegaskan, baik penderitaan maupun kegembiraan harus dirasakan bersama-sama.
"Kalau mau menderita, menderita bareng-bareng. Kalau mau senang, senang bareng-bareng," tegas Bahlil.
Sulit Terwujud
Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai, gagasan koalisi permanen yang disuarakan Golkar sulit diwujudkan, jika dimaknai sebagai kesepakatan jangka panjang hingga Pemilihan Presiden 2029.
Menurut Lili, setiap partai memiliki hak penuh untuk menentukan sikap politiknya masing-masing.
Terlebih, peluang partai mengusung kandidat sendiri semakin terbuka, setelah penghapusan ambang batas pencalonan presiden.
"Kalau permanen tersebut harus satu barisan dalam pilpres 2029, maka menjadi hak partai-partai untuk tetap bergabung atau berpisah dengan mengusung calon lain," ujar Lili kepada Kompas.com, Selasa (23/12/2025).
“Apalagi ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold sudah dihapus oleh putusan Mahkamah Konstitusi. Jadi semua parpol punya peluang yang sama untuk maju mencalonkan kandidat pilpres, termasuk golkar,” sambungnya.