Pandji, Gibran, dan Keheningan yang Berbicara
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kedua kiri) didampingi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana (kiri) berjalan meninggalkan gedung RSUD Koja di Jakarta, Kamis (11/12/2025). Wapres dan Kepala BGN menjenguk guru dan siswa yang masih menjalani perawatan intensif akibat tertabrak mobil pengangkut Makan Bergizi Gratis (MBG). (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
12:02
6 Januari 2026

Pandji, Gibran, dan Keheningan yang Berbicara

DALAM pertunjukan stand-up comedy bertajuk "Mens Rea", komika Pandji Pragiwaksono melontarkan kritik satir yang segera memantik perhatian publik.

Di atas panggung, Pandji menyinggung kecenderungan masyarakat menilai pemimpin berdasarkan tampilan visual semata.

Dalam salah satu kritinya, ia menyindir Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan ungkapan “tampak ngantuk”.

Candaan itu tentu mengundang gelak tawa. Namun, ia juga menyimpan pesan yang lebih serius: demokrasi tidak seharusnya berhenti pada kesan visual, melainkan menuntut kedalaman gagasan, kejelasan arah kebijakan, dan konsistensi komunikasi dari para pemimpinnya.

Komika Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers pertunjukan komedi Mens Rea di Markas Comika di Petogogan, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025). Mata Gibran menjadi sorotan publik setelah materi Pandji Pragiwaksono dikritik Tompi, membuka pembahasan tentang apa itu ptosis dalam dunia medis.KOMPAS.com/MELVINA TIONARDUS Komika Pandji Pragiwaksono saat konferensi pers pertunjukan komedi Mens Rea di Markas Comika di Petogogan, Jakarta Selatan, Rabu (16/4/2025). Mata Gibran menjadi sorotan publik setelah materi Pandji Pragiwaksono dikritik Tompi, membuka pembahasan tentang apa itu ptosis dalam dunia medis.Humor Pandji tidak berdiri terpisah. Ia berangkat dari kegelisahan yang kerap muncul dalam demokrasi elektoral modern, ketika citra dan gaya sering kali mengalahkan substansi.

Dalam tradisi komedi politik, satir justru berfungsi sebagai medium kritik sosial: ringan di permukaan, tapi tajam di lapisan makna. Tawa menjadi katarsis untuk menggambarkan relasi antara kekuasaan dan kekecewaan publik.

Tak lama setelah tayang, potongan kritik tersebut viral di media sosial.

Peristiwa ini menarik bukan semata karena memunculkan perdebatan, melainkan karena memperlihatkan bagaimana komedi politik bekerja di ruang publik Indonesia.

Apakah satir terhadap pejabat tinggi—termasuk wakil presiden—masih dianggap wajar, atau justru dipersepsikan sebagai pelanggaran etika?

Belajar dari dunia internasional

Di Amerika Serikat, tradisi satir politik terhadap pejabat tinggi telah lama mengakar. Jon Stewart, melalui The Daily Show (1999–2015), secara rutin menyindir presiden dan wakil presiden Amerika Serikat, termasuk Joe Biden ketika menjabat sebagai wakil presiden pada era Barack Obama (2009–2017).

Sindiran Stewart kerap menyasar persona, gestur, dan gaya komunikasi, tanpa selalu berkaitan langsung dengan kebijakan.

Demikian pula Stephen Colbert lewat The Colbert Report (2005–2014), yang menjadikan lingkaran kekuasaan sebagai objek satir politik berkelanjutan.

Di Inggris, tradisi satir politik bahkan lebih mapan. Program seperti Have I Got News for You (mengudara sejak 1990 dan masih tayang hingga kini) serta Mock the Week (2005–2022) secara terbuka menjadikan perdana menteri dan wakilnya sebagai bahan olok-olok politik.

Nick Clegg, ketika menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri (2010–2015), kerap menjadi sasaran satir terkait kompromi politik Liberal Democrats dalam koalisi dengan Partai Konservatif.

Sindiran tersebut lebih banyak menyoroti persona dan posisi politiknya, tanpa memicu kegaduhan berkepanjangan.

Di Australia, komedian Shaun Micallef melalui Mad As Hell (2012–2022) dikenal konsisten menyindir perdana menteri dan wakilnya dengan gaya absurd.

Sementara di Perancis, tradisi komedi dan satir politik telah lama hadir, terutama lewat program Les Guignols de l’info sejak akhir 1980-an, yang menjadikan presiden dan pejabat tinggi sebagai figur sah untuk ditertawakan di ruang publik.

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kritik Pandji bukanlah anomali, melainkan bagian dari praktik demokrasi yang lebih luas.

Gaya komunikasi yang ringkas-adaptif

Dalam konteks Indonesia, yang menarik justru cara Gibran merespons kritik tersebut. Ia tidak mengeluarkan pernyataan resmi atau pembelaan panjang.

Melalui unggahan Instagram, Gibran menampilkan kunjungannya ke studio XR milik sutradara Upi Guava dengan latar musik Lagu Melayu—karya Pandji sendiri.

Tanpa satu kata pun menyinggung kritik, unggahan itu segera dibaca publik sebagai respons simbolik yang halus.

Respons ini mencerminkan strategi komunikasi yang semakin menonjol dalam politik kontemporer: komunikasi melalui simbol dan gestur, bukan kata-kata.

Dengan menggunakan karya Pandji, Gibran seolah menyampaikan bahwa kritik tersebut tidak ia anggap sebagai ancaman.

Ia tidak menolak, tetapi juga tidak membalas secara verbal. Kritik diolah menjadi bagian dari narasi publik yang lebih luas, sekaligus memperlihatkan ketenangan dan kontrol diri.

Gaya ini sejalan dengan pola komunikasi Gibran yang dikenal ringkas dan minimalis, terutama di media sosial. Jawaban-jawaban pendek telah menjadi ciri khasnya.

Dalam logika komunikasi digital, gaya semacam ini sering dibaca sebagai efisiensi dan kecepatan respons.

Keheningan atau minim kata tak selalu pasif; ia dapat menjadi strategi untuk menegaskan bahwa tindakan lebih diutamakan daripada retorika.

Namun, kritik Pandji tetap mengandung pengingat penting. Jabatan wakil presiden membawa ekspektasi komunikasi yang berbeda.

Isu-isu strategis—mulai dari ekonomi, birokrasi, hingga hubungan internasional—tidak selalu dapat dijelaskan melalui respons singkat atau simbol kehadiran.

Dalam konteks ini, satir berfungsi sebagai alarm kultural yang mengingatkan perlunya keseimbangan antara gaya ringkas dan kedalaman narasi kebijakan.

Tindakan retoris yang simbolik

Dalam perspektif akademik, Chad Wickman (2012) menegaskan bahwa retorika bukan sekadar alat untuk menyampaikan pengetahuan, melainkan bagian dari proses menghasilkan pengetahuan itu sendiri.

Retorika adalah seni epistemik yang membentuk makna melalui cara pesan dirumuskan dan disajikan.

Dengan kerangka ini, respons simbolik—bahkan keheningan—dapat dipahami sebagai tindakan retoris yang aktif membentuk persepsi publik.

Sementara itu, Silvio Waisbord (2019) menekankan pentingnya imajinasi kosmopolitan dalam komunikasi publik. Pikiran kosmopolitan, menurutnya, nyaman dengan perbedaan, ambiguitas, dan kompleksitas.

Dalam kerangka ini, kritik satir Pandji dan respons simbolik Gibran dapat dibaca sebagai bagian dari dinamika komunikasi politik yang plural, di mana kritik, humor, dan simbol sama-sama memiliki legitimasi.

Di luar media sosial, Gibran juga kerap menggunakan kehadiran fisik sebagai bahasa komunikasi. Meninjau lokasi bencana, berdialog dengan warga, atau hadir di ruang publik menjadi bentuk komunikasi nonverbal yang menyampaikan empati.

Ibarat gamelan dalam kebudayaan Jawa: tidak semua makna lahir dari tabuhan yang keras. Ada saatnya bunyi utama justru ditopang oleh denting pelan, termasuk jeda yang nyaris tak terdengar.

Harmoni tercipta bukan dari satu suara yang dominan, melainkan dari keteraturan antara pukulan, irama, dan keheningan.

Dalam konteks itu, kritik Pandji dapat dibaca sebagai tabuhan yang menggugah, sementara respons Gibran—yang ringkas, simbolik, dan nyaris tanpa kata—adalah jeda yang memberi ruang resonansi.

Ia tidak memadamkan bunyi, tetapi membiarkannya bergetar dan menemukan maknanya sendiri di ruang publik.

Pilihan untuk tidak bereaksi berlebihan, untuk tidak menjawab dengan retorika, justru memperlihatkan bentuk komunikasi yang tenang dan terkendali.

Ke depan, tantangan bagi Gibran bukanlah merespons setiap kritik dengan kata-kata, melainkan memastikan bahwa keheningan dan simbol itu diiringi oleh arah kebijakan yang kian terbaca.

Jika jeda itu ditopang oleh kerja yang konsisten dan narasi yang muncul pada momen strategis, keheningan tidak lagi dibaca sebagai kekosongan, melainkan sebagai bagian dari irama kepemimpinan.

Dalam politik yang kerap bising oleh kritik, justru di sanalah letak uji kedewasaan demokrasi: ketika seorang pemimpin tidak selalu tergesa menjawab, tetapi tahu kapan berbicara dan kapan membiarkan makna bekerja dengan sendirinya.

Di antara tabuhan dan jeda itulah, komunikasi politik menemukan nadanya—tenang, terukur, dan memberi ruang untuk didengar lebih lama.

Tag:  #pandji #gibran #keheningan #yang #berbicara

KOMENTAR