14 Tahun Jadi Ibu Tunggal, Kisah Suryati Relawan SPPG yang Bangkit Dari Lilitan Pinjol Hingga Bermimpi Umrah
Suryati, relawan bagian pemorsian di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Koja 1, Jakarta Utara. (Dimas Choirul/Jawapos.com)
12:08
29 November 2025

14 Tahun Jadi Ibu Tunggal, Kisah Suryati Relawan SPPG yang Bangkit Dari Lilitan Pinjol Hingga Bermimpi Umrah

 

— Di sebuah dapur sederhana di Koja, Jakarta Utara, kotak-kotak makan baja tersusun rapi menunggu diisi. Lampu neon putih memantulkan cahaya ke wajah para relawan yang sibuk menakar nasi dan lauk. Di tengah hiruk-pikuk itu, ada sosok perempuan 54 tahun yang tatapannya teduh meski gurat lelah tampak jelas.

Dialah Suryati, relawan pemorsian di Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Koja 1, Jakarta Utara. “Dari bulan Februari 2025 (kerja di dapur ini), Pak,” ujarnya saat ditemui JawaPos.com, belum lama ini.

Sebelum dapur MBG hadir, hidup Suryati serba pas-pasan. Ia pernah mencoba berbagai usaha—berjualan, ikut katering, hingga membuka warung kecil. Semuanya kandas karena tak ada modal yang bisa diputar. “Makanya dengan adanya MBG ini, alhamdulillah sekali bisa kebantu buat anak-anak sekolah,” tuturnya.

Suryati adalah ibu dari empat anak. Suaminya meninggal 14 tahun lalu. Sejak itu, ia menghidupi keluarganya seorang diri. Himpitan kebutuhan kerap membuatnya terpaksa berutang. “Utang ke rentenir,” ungkapnya lirih.

Ia juga sempat terjerat pinjaman online (pinjol), yang kini sudah lunas. Namun cicilan ke rentenir masih menyisakan Rp1 juta. “Dengan kerja di sini (SPPG Koja 1) saya sedikit-sedikit utang saya cicilin,” tambahnya.

Dari bekerja di dapur SPPG Koja 1, ia mendapat penghasilan Rp120 ribu per hari, yang dicairkan setiap dua minggu. Jumlah itu mungkin tak besar, tapi baginya cukup untuk menghidupkan rumah kecilnya: makan, menyekolahkan anak, dan perlahan menutup sisa utang. “Ya, cukup lah. Dicukup-cukupin aja, alhamdulillah,” katanya.

Bagi Suryati, dapur ini bukan hanya tempat menjemput nafkah. Ini juga rumah bagi para perempuan yang sedang berjuang. “Bagi kita yang tidak punya suami, ya. Terus untuk teman-teman juga yang suaminya di PHK, alhamdulillah bisa kebantu,” ujarnya.

Harapan itu kini tumbuh. Ia ingin anak bungsunya bisa kuliah bila program MBG terus berjalan. Dan ada satu mimpi yang ia pendam lama, namun kini mulai ia ucapkan lantang. “InsyaAllah saya ingin berangkat umrah. InsyaAllah, InsyaAllah,” katanya, penuh keyakinan.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah

Tag:  #tahun #jadi #tunggal #kisah #suryati #relawan #sppg #yang #bangkit #dari #lilitan #pinjol #hingga #bermimpi #umrah

KOMENTAR