''Reshuflle'' Perdana Prabowo, Apakah Sudah Sesuai Ekspektasi Publik?
Profil Mendikti Saintek Brian Yuliarto yang dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Rabu (19/2/2025).(Tangkapan Layar YouTube Sekretariat Presiden)
06:10
20 Februari 2025

''Reshuflle'' Perdana Prabowo, Apakah Sudah Sesuai Ekspektasi Publik?

- Presiden Prabowo Subianto melakukan reshuffle atau perombakan di Kabinet Merah Putih pada Rabu (19/2/2025).

Pejabat yang diganti adalah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro.

Posisi Satryo digantikan Brian Yuliarto yang juga Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB).

Brian dilantik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 26b Tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Negara Kabinet Merah Putih Periode 2024-2029.

Adapun Satryo menjadi menteri pertama yang di-reshuffle oleh Presiden Prabowo. Namun, apakag reshuffle yang dilakukan sudah sesuai ekspektasi publik?

 

Butuh menteri yang peka

Direktur Eksekutif Skala Data Indonesia, Arif Nurul Imam berpandangan bahwa reshuffle pertama yang dilakukan Prabowo belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi publik.

Reshuffle kali ini belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasi publik. Karena hanya satu menteri yang diganti. Padahal, ada menteri lain yang dianggap jeblok,” ujar  kepada Kompas.com, Rabu (19/2/2025).

Arif mengatakan, masyarakat butuh menteri yang peka dan berpihak pada masyarakat kecil. Terlebih, kini ada kebijakan efisiensi anggaran di kementerian/lembaga.

Lebih lanjut, dia juga menyoroti perihal sejumlah isu yang belum terjawab di masyarakat. Untuk menjawab isu-isu yang ada, dibutuhkan menteri yang kompeten dan profesional.

“Misal, ada yang berkaitan dengan judi online, menteri yang seringkali melontarkan pernyataan blunder,” kata Arif.

Menurut dia, pemerintah perlu menugaskan orang-orang yang mampu menerjemahkan visi misi presiden, bukannya menjadi beban politik.

“Saya kira yang dibutuhkan selain faktor konsolidasi politik, juga tokoh-tokoh yang mampu menerjemahkan visi misi Presiden Prabowo sehingga menteri yang duduk di kabinet tidak menjadi beban politik, melainkan jadi mesin penerjemah visi presiden,” ujar Arif.

Efek Kejut

Sementara itu, Pengamat politik dari UIN Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan menyebut bahwa reshuffle ini menjadi efek kejut untuk menteri lainnya.

Dengan begitu, diharapkan para pembantu presiden bisa kerja lebih serius.

“Paling tidak langkah reshuffle ini bisa menjadi efek kejut bagi menteri lainnya untuk bekerja lebih serius dan istiqamah dalam garis instruksi Presiden. Bila tidak siap, mundur pilihan terbaik,” kata Ahmad.

Sebagaimana diketahui, Presiden melantik Brian Yuliarto menjadi Mendikti Saintek menggantikan Satryo Soemantri Brodjonegoro pada Rabu kemarin.

Namun, Satryo mengaku, mundur dari jabatannya. Dia mengatakan telah membuat surat pengunduran diri pada Rabu tengah malam.

Satryo juga langsung menyerahkan surat itu ke Sekretariat Negara untuk disampaikan kepada Presiden Prabowo.

Satryo mengakui pekerjaannya selama empat bulan ini masih jauh dari harapan pemerintah. Dia pun merasa lebih baik mundur dari jabatan daripada harus diberhentikan.

"Utamanya karena saya sudah bekerja keras selama empat bulan ini. Namun, karena mungkin tidak sesuai harapan dari pemerintah, ya saya lebih baik mundur daripada diberhentikan," ujar Satryo.

Sementara itu, saat dilantik menjadi Mendikti Saintek, Brian berjanji akan menjunjung tinggi etika jabatan dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.

Dalam sumpah jabatannya, Brian mengatakan akan setia kepada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta akan menjalankan segala peraturan perundang-perundangan dengan selurus-lurusnya demi darma baktinya kepada bangsa dan negara.

"Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dengan penuh rasa tangung jawab," kata Brian.

Mendikti Saintek yang baru ini pun membantah pelantikan dirinya sebagai menteri merupakan representasi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Brian mengaskan bahwa dirinya adalah seorang profesional sekaligus guru besar dari ITB.

"Nanti, ya. Saya dari ITB, saya dari ITB," katanya singkat usai dilantik di Istana Negara.

Selain itu, Brian mengatakan, sebagai menteri akan mendukung program Presiden Prabowo.

"Tentunya tadi (pesan Prabowo) untuk segera bekerja dan berkonsolidasi melakukan program-program dari presiden," ucapnya.

5 pejabat lain dilantik

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga melantik lima petinggi lembaga lainnya.

Mereka adalah Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Muhamamd Yusuf Ateh. Lalu, Wakil Kepala BPKP Agustina Arumsari.

Ateh sebelumnya menjabat sebagai pelaksana tugas (plt) kepala BPKP. Sedangkan Agustina adalah Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi.

Kemudian, ada kepala dan wakil kepala Badan Pusat Statistik, yaitu Amalia Adininggar Widyasanti dan Sonny Harry Budiutomo Harmadi.

Amalia sebelumnya merupakan plt kepala BPS. Sedangkan, Sonny adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia.

Selanjutnya, Prabowo juga melantik Letjen Nugroho Sulistyo Budi sebagai Kepala Badan Sandi dan Siber Negara (BSSN).

Namun, pakar keamanan siber, Pratama Dahlian Persadha batal dilantik menjadi Wakil Kepala BSSN oleh Presiden Prabowo.

"Enggak jadi dilantik," kata Pratama, usai acara pelantikan di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu.

Meskipun demikian, Pratama mengaku sudah menandatangani pakta integritas.

Dia masih menunggu arahan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya dan Kepala BSSN untuk proses serah terima jabatan Wakil Kepala BSSN.

"Nanti tergantung Pak Kepala dan Pak Seskab nanti proses dan arahannya. Saya sudah tanda tangan pakta integritas sih," ujarnya.

Editor: Rahel Narda Chaterine

Tag:  #reshuflle #perdana #prabowo #apakah #sudah #sesuai #ekspektasi #publik

KOMENTAR