Menurut Psikologi, Berikut 5 Alasan Orang Oversharing Momen Sehari-hari di Media Sosial Mereka
Ilustrasi- Oversharing di media sosial. (Freepik)
17:08
9 Mei 2024

Menurut Psikologi, Berikut 5 Alasan Orang Oversharing Momen Sehari-hari di Media Sosial Mereka

 - Media sosial telah menjadi bagian integral dari kehidupan modern, dengan mulus menyisipkan dirinya ke dalam rutinitas harian kita.

Meskipun menawarkan platform untuk konektivitas dan ekspresi, ada sisi gelap dari ranah digital ini: oversharing.

Kita semua pernah bertemu dengan individu yang feed media sosialnya mirip dengan ruang pengakuan, mengungkapkan detail intim dan momen-momen sehari-hari kepada khalayak yang tampaknya tak terbatas.

Tapi mengapa kita merasa terdorong untuk oversharing? Apa kekuatan psikologis yang mendorong kita untuk menyiarkan pikiran dan pengalaman terdalam kita ke dunia? Melansir Learning Mind, berikut alasannya

1. Anonimitas

Salah satu alasan yang paling jelas untuk oversharing di media sosial adalah tirai anonimitas yang diberikannya. Di balik layar, kita merasa terlindungi dari konsekuensi dan penilaian langsung lingkaran sosial.

Hal ini mirip dengan berteriak ke dalam jurang yang luas, di mana ketiadaan umpan balik langsung memungkinkan kita untuk merancang narasi kita tanpa menghadapi reaksi secara real-time.

Kita menjadi arsitek dari persepsi kita sendiri, memproyeksikan bagaimana kita percaya orang lain akan merespons tanpa ketidaknyamanan melihat reaksi mereka secara langsung.

Rasa keterpisahan ini memberi kita keberanian untuk mengungkapkan detail yang mungkin kita simpan sendiri, karena fasad digital anonimitas memberikan ilusi keamanan.

2. Kurangnya Kepemimpinan

Berbeda dengan ruang fisik yang diatur oleh norma sosial dan struktur hierarkis, media sosial beroperasi sebagai domain tanpa hukum, tanpa figur otoritatif. Di alam liar digital ini, individu memiliki otonomi yang tidak terkendali atas konten mereka, membingkai garis-garis antara diskursus publik dan pribadi.

Dibebaskan dari kendala dekorum sosial, membuat pengguna mengungkapkan keyakinan pribadi, afiliasi, dan pengalaman mereka dengan sembrono, dan sering kali meremehkan keterlihatan jejak online mereka.

Ketidakhadiran konsekuensi nyata membentuk budaya ekspresi diri tanpa hambatan, di mana batas-batas menjadi kabur, dan kebijaksanaan memudar dalam ketiadaan pengawasan.

3. Egosentrisitas

Sifat manusia secara inheren egosentris, menginginkan validasi dan pengakuan dari teman-teman kita. Platform media sosial menyediakan ladang subur untuk mengembangkan persona digital, di mana setiap postingan, selfie, atau anekdot berfungsi sebagai tawaran untuk perhatian dan pengakuan.

Baik didorong oleh narsisme yang tulus atau haus akan pengakuan yang tak terpuaskan, individu berlomba-lomba untuk mendapat sorotan, mencari validasi melalui suka, bagikan, dan komentar di media sosial.

Daya tarik akan ketenaran sesaat memanggil, mendorong pengguna untuk oversharing tentang kehidupan mereka demi momen-momen kekaguman digital yang singkat.

4. Rendahnya Harga Diri

Di balik fasad keyakinan diri, terletak arus bawah yang meresap dari ketidakamanan, mendorong individu untuk mencari validasi eksternal sebagai obat untuk harga diri yang terluka.

Media sosial berfungsi sebagai cermin digital, memantulkan kembali gambaran yang terdistorsi tentang diri kita melalui lensa suka dan komentar.

Setiap suka menjadi balsem untuk ego yang rapuh, memperkuat ilusi harga diri dalam siklus perilaku pencarian validasi yang tak berujung.

5. Kesepian

Pada intinya, oversharing di media sosial sering kali berasal dari rasa kesepian yang mendalam, kerinduan akan koneksi dalam dunia yang semakin terfragmentasi.

Dalam lanskap media sosial, individu menemukan kesenangan dalam berbagi cerita mereka, mencari empati dan persaudaraan dari komunitas virtual yang terikat oleh pengalaman bersama. Oversharing menjadi tali pengaman, sarana untuk mencapai orang lain dalam pencarian pemahaman dan solidaritas.

Di saat-saat kerentanan ini, media sosial melampaui perannya sebagai platform semata untuk ekspresi diri, berkembang menjadi tempat perlindungan bagi yang kesepian dan terisolasi.

Sebagai kesimpulan, sementara media sosial menawarkan peluang luar biasa untuk konektivitas dan ekspresi diri, itu juga menimbulkan risiko ketika batas-batas kabur dan kehati-hatian dilemparkan. Memahami motif psikologis di balik oversharing penting dalam menavigasi lanskap digital secara bertanggung jawab.

Dengan memupuk kesadaran diri dan mengembangkan mekanisme koping yang sehat, kita dapat merebut kembali kontrol atas identitas online kita, memastikan bahwa interaksi virtual kita tetap menjadi refleksi otentik dan bermakna dari diri kita yang sejati.

Editor: Nicolaus Ade

Tag:  #menurut #psikologi #berikut #alasan #orang #oversharing #momen #sehari #hari #media #sosial #mereka

KOMENTAR