Cara Tepat Mengatasi Meltdown pada Anak Autisme, Jangan Diabaikan
Ilustrasi autisme.(Shutterstock)
21:35
6 April 2026

Cara Tepat Mengatasi Meltdown pada Anak Autisme, Jangan Diabaikan

– Reaksi emosional pada anak sering kali dianggap sebagai tantrum biasa. 

Namun, pada anak dengan autisme, kondisi tersebut bisa jadi merupakan meltdown yang membutuhkan penanganan berbeda dan tidak boleh diabaikan.

Menurut Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K), terdapat perbedaan mendasar antara tantrum dan meltdown. Pemahaman ini penting agar orangtua dapat memberikan respons yang tepat sesuai kondisi anak.

Baca juga: Jangan Anggap Sepele Catatan Tumbuh Kembang Anak, Bisa Jadi Kunci Deteksi Dini Autisme

“Kalau tantrum itu anak ingin sesuatu yang mengarah supaya tujuannya itu terpenuhi. Bedanya dengan meltdown adalah meltdown terjadi pada anak-anak yang memiliki gangguan pemrosesan sensori,” ujarnya dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).

Cara mengatasi meltdown pada anak autisme

Meltdown dipicu overstimulasi

(Kiri ke kanan) Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI Dr. Dante Rigmalia, M.Pd, dan Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).KOMPAS.com/DEVI PATTRICIA (Kiri ke kanan) Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) RI Dr. Dante Rigmalia, M.Pd, dan Ketua IDAI Jakarta Timur, dr. Arifianto, Sp.A(K) dalam acara Festival Peduli Autisme 2026, di Depok, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2026).

Arifianto menilai, meltdown pada anak autisme umumnya terjadi akibat overstimulasi atau rangsangan berlebih dari lingkungan sekitar. 

Anak yang mengalami kondisi ini akan merespons secara spontan tanpa tujuan tertentu.

Baca juga: Kenali 7 Tanda Autisme pada Bayi dan Balita

“Yang sering terjadi adalah overstimulasi. Anak merespon terhadap overstimulasi tersebut dengan cara meltdown, misalnya berteriak, melompat-lompat, berlarian, menangis, atau bahkan histeris,” ungkapnya.

Reaksi tersebut sering kali terlihat mencolok dan mudah disadari oleh orang lain. Situasi ini tidak jarang menimbulkan ketidaknyamanan di lingkungan sekitar, terutama di ruang publik.

Kondisi ini juga bisa memicu kekhawatiran pada orangtua karena perilaku anak menjadi pusat perhatian. 

Namun, penting untuk dipahami bahwa respons tersebut bukan bentuk keinginan yang harus dipenuhi.

“Hal ini kerap membuat orang lain tidak nyaman, padahal anak ini tidak punya tujuan untuk dipenuhi keinginannya, tapi itu bentuk respon alami saja akibat overstimulasi,” jelasnya.

Bagaimana penanganan yang tepat?

Meltdown bukan kondisi yang bisa dibiarkan begitu saja. Anak yang mengalaminya justru membutuhkan dukungan dan penanganan yang tepat agar dapat kembali tenang.

Ia menekankan, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan anak dan memberikan lingkungan yang lebih nyaman.

“Anak yang meltdown harus ditenangkan karena dia butuh itu. Dibutuhkan juga sensory space, misalnya anak dibawa ke area yang sepi,” imbau dia.

Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu mengurangi rangsangan berlebih yang memicu meltdown, sehingga anak dapat mengatur emosinya secara perlahan.

Setiap anak memiliki respons berbeda

Arifianto menjelaskan, setiap anak memiliki respons yang berbeda terhadap pemicu meltdown. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak bisa disamaratakan.

“sifatnya sangat individual, sangat personalized. Orang tua pun harus bisa memahami,” katanya.

Baca juga: Bagaimana Mengatasi Parenting Stress saat Membesarkan Anak Autis?

Ia juga menambahkan, penyebab meltdown bisa berubah-ubah, meskipun bentuk reaksinya tampak serupa.

“Meltdown yang terjadi hari ini dengan keesokannya bisa jadi bentuknya sama tapi penyebabnya beda. Memang butuh waktu untuk mengetahui penyebabnya,” jelasnya.

Hal ini menunjukkan pentingnya kesabaran dan ketelitian orangtua dalam mengamati pola perilaku anak agar dapat memahami pemicu secara lebih akurat.

Jangan diabaikan tapi utamakan empati

Lebih lanjut, Arifianto mengingatkan agar orangtua tidak mengabaikan anak saat mengalami meltdown. 

Pendekatan yang penuh empati menjadi kunci utama dalam membantu anak melewati kondisi tersebut.

“Tapi prinsipnya, dekatkanlah anak, coba mengerti, dan jangan diabaikan. Kalau orang sekitar tidak nyaman karena tidak mengerti, cuek saja, jangan dipikirkan,” tegasnya.

Sikap ini penting agar anak merasa aman dan didukung, meskipun situasi di sekitarnya mungkin tidak sepenuhnya memahami kondisi yang terjadi.

Dengan pemahaman yang tepat, orangtua dapat memberikan respons yang lebih bijak dan membantu anak mengelola emosinya. 

Baca juga: Mattel Rilis Barbie Autis Pertama, Dorong Representasi Lewat Mainan

Tag:  #cara #tepat #mengatasi #meltdown #pada #anak #autisme #jangan #diabaikan

KOMENTAR