3 Tanda Anak Merasa Minder dan Butuh Dukungan Orangtua
Ilustrasi anak berpuasa.(Unsplash)
21:05
3 April 2026

3 Tanda Anak Merasa Minder dan Butuh Dukungan Orangtua

- Mendampingi anak tumbuh menjadi individu dewasa yang bahagia dan tangguh membutuhkan perhatian khusus terhadap tingkat harga diri mereka.

Sayangnya, sebagian besar anak-anak jarang mengungkapkan secara langsung saat mereka merasa minder atau sedang ingin disemangati oleh ayah dan ibunya.

“Kepercayaan diri adalah salah satu prediktor terkuat dari kinerja, kebahagiaan, dan kesuksesan kita,” kata mental performance coach Cindra Kamphoff, melansir CNBC Make It, Jumat (3/4/2026).

Baca juga: 4 Cara Mencegah Anak Menjadi Manja, Jangan Menyerah Saat Anak Tantrum

“Meningkatkan kepercayaan diri adalah pekerjaan seumur hidup karena ada kemunduran dan kesulitan yang akan kita hadapi, yang memengaruhi kepercayaan diri kita," lanjut dia.

Sebagai orangtua, kamu dituntut untuk lebih jeli dalam mengamati setiap perubahan sikap dan tutur kata mereka sehari-hari.

Tanda anak membutuhkan dukungan emosional

Meningkatkan rasa percaya diri pada anak sangat berbeda dengan memupuk sifat sombong atau kesombongan diri.

Orangtua disarankan untuk lebih fokus memberikan pujian yang realistis atas usaha dan sikap positif yang ditunjukkan anak, alih-alih terlalu membesar-besarkan ego mereka dengan hanya berfokus pada hasil pencapaian akhir.

"Perhatikan bagaimana mereka menanggapi kesalahan atau kegagalan," kata Kamphoff.

Ilustrasi anak bolos sekolah.Google Gemini AI Ilustrasi anak bolos sekolah.

Membantu anak kembali bangkit setelah menghadapi kemunduran sementara, atau interaksi sosial yang negatif, harus menjadi prioritas utama.

Baca juga: Cara Menghadapi Anak yang Sedang Rewel Tanpa Membentak

Penelitian membuktikan, bahwa kebiasaan ini membantu anak mengembangkan ketahanan mental yang mereka butuhkan untuk terus mengambil langkah berani di masa depan.

Tanda Anak Minder

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut tiga tanda bahaya yang mengindikasikan bahwa anak merasa minder dan membutuhkan dukungan emosionalmu.

1. Sering mengkritik diri sendiri

Tanda anak minder yang paling jelas adalah kecenderungan anak untuk terus menyalahkan dan menghakimi diri sendiri usai mengalami kegagalan.

Bentuknya bisa berupa kritik tajam yang diucapkan secara lantang, seperti mengeluh bahwa mereka tidak cukup pintar untuk memahami keterampilan baru, atau memprediksi secara pesimis bahwa mereka pasti akan gagal dalam ujian sekolah mendatang.

Jika anak sering mengatakan kalimat merendahkan diri seperti "Aku benar-benar gagal" atau "Aku sangat bodoh", segera ingatkan bahwa kemunduran sesaat tidak mendefinisikan nilai karakter mereka.

Arahkan sang buah hati untuk melihat kesalahan tersebut murni sebagai kesempatan berharga untuk mempelajari hal baru.

Kamphoff menyarankan metode unik, yaitu ajak anak untuk secara fisik bertindak seolah "membuang" kegagalan tersebut dari tubuh mereka. Misalnya melompat-lompat atau menggoyangkan tubuh.

Trik ini membantu anak meninggalkan masa lalu dan melangkah maju menghadapi tantangan baru dengan kepala tegak.

Baca juga: Ternyata, Minder dan Kurang Dewasa Bisa Picu Pria Berselingkuh

Ilustrasi anak sedih. Dosen IPB menjelaskan bahwa night terror merupakan gangguan tidur yang sering membuat anak berteriak atau panik saat tidur.Freepik Ilustrasi anak sedih. Dosen IPB menjelaskan bahwa night terror merupakan gangguan tidur yang sering membuat anak berteriak atau panik saat tidur.

2. Membandingkan pencapaian diri secara berlebihan

Tanda peringatan lainnya adalah saat anak sering membandingkan dirinya dengan teman sebaya yang terlihat lebih berprestasi atau lebih beruntung.

“Perbandingan adalah bagian normal dari menjadi manusia, karena hal itu memungkinkan kita untuk memahami tempat kita di dunia ini. Namun, biasanya kita tidak membandingkan seluruh diri kita dengan seluruh diri orang lain,” kata Kamphoff.

Dorong anakmu untuk hanya memikirkan aspek-aspek yang memang berada di bawah kendali mereka. Tanyakan kepada mereka apa sebenarnya makna dari perbandingan tersebut, dan apa yang paling penting bagi mereka.

Jawaban tersebut bisa digunakan sebagai data obyektif untuk menyusun target dan rencana aksi yang realistis.

Mengingatkan mereka bahwa kehidupan yang dipamerkan di media sosial hanyalah cuplikan momen terbaik orang lain juga sangat ampuh untuk meredakan rasa cemas akibat perbandingan semu.

Baca juga: Benarkah Orangtua Punya Anak Kesayangan? Ini Hasil Penelitiannya

3. Bahasa tubuh yang selalu lesu

Terkadang, anak mungkin tidak berbicara buruk tentang dirinya, tetapi bahasa tubuhnya mencerminkan suara batin yang terus mengkritik, terutama setelah mereka mengalami penolakan yang signifikan.

Kamu perlu mewaspadai perubahan sikap fisik seperti postur bahu yang sering membungkuk, wajah yang jarang tersenyum, tingkat energi yang selalu terlihat rendah, hingga penolakan keras untuk mengikuti aktivitas yang dulu sangat mereka sukai.

Ilustrasi anak. Buku Broken Strings mengingatkan bahwa child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang baru disadari korban ketika memasuki usia dewasa.Freepik/jcomp Ilustrasi anak. Buku Broken Strings mengingatkan bahwa child grooming dapat meninggalkan luka psikologis yang baru disadari korban ketika memasuki usia dewasa.

Cobalah untuk memberikan contoh langsung tentang cara mengelola emosi negatif agar mereka bisa menirunya.

Mulailah dengan menyebutkan nama emosi buruk tersebut sebagai langkah pertama menghilangkan stigma.

Jika anak kesulitan bicara, Kamphoff merekomendasikan metode PCR, yaitu pause (jeda), calm (tenang), dan respond (tanggapi). Artinya adalah mengambil jeda untuk menarik napas dalam sebelum merespons situasi sulit.

Baca juga: Anak Perempuan Pertama Sering Tak Bahagia, Pakar Keluarga Ungkap Penyebab Utamanya

“Kamu bisa mengajari anak-anak untuk mengatur emosi mereka, dan itu akan sangat membantu mereka meningkatkan kepercayaan diri. Karena, terutama di bawah tekanan, ketika anak-anak dan orang dewasa dapat mengatur diri mereka sendiri, itu sangat penting," jelas Kamphoff.

Dalam kasus ekstrem, tanda-tanda seperti ini dapat menunjukkan masalah kesehatan mental seperti depresi klinis. Selalu konsultasikan dengan profesional kesehatan mental jika anak menunjukkan gejala masalah klinis.

Tag:  #tanda #anak #merasa #minder #butuh #dukungan #orangtua

KOMENTAR