Jangan Ancam Putus Saat Bertengkar, Ini Dampak Buruknya bagi Hubungan
- Semua hubungan pasti mengalami konflik karena tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna, terutama ketika hubungan sudah berjalan cukup lama.
Cara pasangan mengelola konflik tersebut sering kali menjadi pembeda antara hubungan yang sehat dan berhasil, dengan hubungan yang menyakitkan dan penuh pertikaian.
Sering kali, ucapan yang bakal disesali kemudian, kerap dilontarkan. Misalnya saja mengancam putus atau cerai.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Dr. Jenn Mann, menerangkan, ancaman seperti ini bisa merusak hubungan.
"Mengancam akan putus, bercerai, menarik kasih sayang, menolak hubungan intim, atau bentuk ancaman serupa lainnya, mengirimkan pesan kepada pasangan bahwa kita tidak berkomitmen pada hubungan tersebut," tulis dia dalam artikelnya di InStyle, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: 12 Penyebab Hubungan Cinta Berakhir, Membandingkan Hubungan hingga Tak Melupakan Kesalahan
Manipulasi seperti itu, termasuk ancaman terselubung seperti "Orang yang melakukan ini padaku sudah tidak ada", alias sudah menjadi mantan, mendorong pasangan untuk menjauh dari hubungan secara emosional.
Selain itu, mengancam bisa menempatkanmu dalam posisi terpojok dan merasa harus menepatinya, meskipun sebenarnya tidak menginginkannya.
Berikut ragam alasan mengapa ancaman kepada pasangan saat bertengkar, bisa merusak hubungan dan sebaiknya patut dihindari.
Baca juga: Cinta dan Keamanan Finansial, Seberapa Besar Pengaruhnya dalam Hubungan?
Mengapa mengancam putus bisa merusak hubungan?
1. Menghambat komunikasi
Ketika kamu mengatakan akan meninggalkan pasangan, ini seolah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.
"Saat kamu bersikap seakan hubungan sudah berakhir, meskipun sebenarnya tidak berniat melakukannya, masalah inti justru tidak diproses dan tidak diselesaikan," jelas Mann.
Akibatnya, pertengkaran yang sama hampir pasti akan terulang karena akar persoalannya tidak pernah benar-benar dibereskan.
2. Memperbesar konflik
Menyatakan bahwa hubungan telah selesai hanya akan menambah ketegangan dan meningkatkan permusuhan.
Semakin panas suasana, semakin besar kemungkinan kedua belah pihak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan dan merusak hubungan.
"Pada titik tertentu, kerusakan tersebut bisa menjadi begitu besar, sampai salah satu atau bahkan keduanya tidak mampu memperbaikinya lagi," tutur Mann.
Baca juga: 5 Pertengkaran yang Cuma Dialami oleh Hubungan Toxic, Pernah Mengalaminya?
3. Menghancurkan kepercayaan
Mann mengatakan, untuk membangun dan mempertahankan kedekatan emosional, seseorang perlu merasa dapat mempercayai pasangannya.
Sebab, rasa aman dan kepercayaan merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan. Kepercayaan juga menjadi dasar terciptanya koneksi, yang merupakan elemen penting dalam hubungan yang sehat.
4. Kata-kata akan kehilangan makna
Mengancam untuk "pergi", tetapi tidak pernah benar-benar melakukannya, dapat membuat ucapan kehilangan makna.
Mann menuturkan, ini merusak kredibilitas dalam hubungan. Pasangan akan mulai meragukan kata-katamu, dan keraguan itu bisa meluas ke berbagai aspek hubungan lainnya.
Baca juga: Cegah Jenuh, Ini Cara Memberi Variasi dalam Hubungan Intim Pasutri
5. Manipulatif dan menimbulkan ketakutan
Mengancam meninggalkan pasangan merupakan bentuk manipulasi emosional. Ketakutan kehilangan orang yang dicintai adalah ketakutan yang umum dirasakan banyak orang.
"Hampir semua orang memiliki kekhawatiran akan ditinggalkan. Memanfaatkan ketakutan tersebut dapat memicu kecemasan dan depresi, terlebih jika pasangan memiliki masalah kesehatan mental," jelas Mann.
6. Termasuk kekerasan emosional
Memperlakukan pasangan dengan buruk, mengancam, dan membuat mereka merasa takut, bisa termasuk tindakan yang bersifat abusif.
Ada perbedaan antara pasangan yang memang sedang mempertimbangkan untuk berpisah secara serius, dengan seseorang yang berulang kali mengancam akan pergi, saat emosi memuncak dalam pertengkaran.
Baca juga: Rasa Takut Sendiri Membuat Perempuan Sulit Lepas dari Hubungan Tak Sehat
7. Perilaku yang tidak dewasa
Menjadi orang dewasa berarti memiliki kendali diri, bukan hanya terhadap tindakan fisik, tetapi juga terhadap kata-kata. Mengancam untuk pergi adalah sikap kekanak-kanakan.
"Jika dilakukan berulang kali tanpa niat sungguh-sungguh untuk meninggalkan hubungan, hal itu menunjukkan kurangnya kedisiplinan emosional," ungkap Mann.
8. Pasangan bisa benar-benar pergi
Jika sebelumnya pasangan tidak pernah memikirkan untuk mengakhiri hubungan, kini kemungkinan itu muncul.
Ancaman yang dilontarkan justru mendorong pasangan membayangkan hidup tanpa dirimu, meskipun sebenarnya itu bukan yang kamu inginkan.
Baca juga: 1 dari 5 Perempuan Korea Selatan Alami Kekerasan dalam Hubungan
Apa yang bisa dilakukan?
Mann tidak menampik bahwa mengubah kebiasaan komunikasi yang buruk bukanlah hal mudah. Sering kali, orang yang terbiasa mengucapkan ancaman saat bertengkar, berasal dari keluarga yang memiliki pola serupa.
"Untuk melakukan perubahan, pendekatan terbaik adalah menangani perilaku tersebut dari berbagai sisi, seperti mempelajari respons baru yang lebih sehat, mengatasi akar masalah, serta mengambil langkah pencegahan," ucap dia.
1. Ambil jeda
Buat komitmen untuk mengambil jeda sebelum diskusi menjadi terlalu panas. Sebab, ketika pertengkaran sudah terlalu emosional, percakapan tidak lagi produktif.
"Banyak pasangan mendapatkan manfaat dari periode menenangkan diri saat konflik terjadi. Penting untuk menyampaikan hal ini dengan jelas agar pasangan tidak merasa ditinggalkan begitu saja," imbau Mann.
Misalnya dengan mengatakan bahwa kamu akan meninggalkan pasangan selama satu jam untuk menenangkan diri dan menjernihkan pikiran, sebelum kembali membahas masalah yang ada.
"Kemampuan mengambil jeda dengan cara yang penuh perhatian adalah keterampilan yang sangat berharga," lanjut Mann.
Baca juga: 8 Pola Komunikasi Toxic yang Merusak Hubungan dan Cara Mengatasinya
2. Jalani terapi
Luangkan waktu untuk memahami diri sendiri dan mencari tahu mengapa mudah tersulut emosi serta bagaimana meningkatkan kendali diri.
3. Hadapi masalah inti
Sebagian besar pasangan memiliki isu yang berulang dalam hubungan mereka. Jika isu-isu tersebut memicu ancaman untuk meninggalkan pasangan, inilah saatnya menghadapi masalah sebenarnya agar tidak terus terulang.
4. Kelola amarah
Carilah bantuan untuk mengelola kemarahan, seperti membaca buku atau mengikuti kelas tentang pengendalian amarah.
Bisa juga berkonsultasi dengan spesialis, karena ini membantumu mempelajari keterampilan baru yang berdampak positif bagi hubungan dan kehidupan secara keseluruhan.
"Ancaman semacam ini bertentangan dengan tujuan membangun hubungan yang sehat dan penuh kasih," kata Mann.
Baik dengan pasangan saat ini maupun di masa depan, penting untuk memahami apa yang mendorong perilaku tersebut dan mengatasinya. Sebab, kata-kata memiliki kekuatan. Jadi, belajar mengekspresikan diri dengan cara yang lebih dewasa dan penuh kasih, akan membawa manfaat besar bagi semua hubungan yang dijalani.
Baca juga: Keterampilan Komunikasi, Bekal Gen Z Sukses Bekerja di Kantor
Tag: #jangan #ancam #putus #saat #bertengkar #dampak #buruknya #bagi #hubungan