Kondisi Ekonomi Pekerja Sulit Membaik, Salah Individu atau Sistem?
– Ketika pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, narasi yang kerap muncul adalah kurangnya usaha pribadi.
Pekerja dianggap tidak cukup disiplin, tidak cerdas mengelola keuangan, atau kurang giat mencari peluang.
Cara pandang ini telah lama mengakar dan membentuk persepsi publik bahwa kesejahteraan sepenuhnya bergantung pada individu.
Baca juga: Mengapa Banyak Orang Bekerja Tak Kunjung Kaya? Ini Kata Sosiolog
Namun, pendekatan tersebut dinilai menutup mata terhadap persoalan yang lebih besar dan bersifat struktural.
Sosiolog dan Dosen Universitas Negeri Medan, Sry Lestari Samosir menjelaskan, pemaknaan terhadap persoalan ekonomi pekerja sangat bergantung pada perspektif teori sosial yang digunakan.
“Kalau itu sebetulnya kalau dari teori Max Weber itu tergantung masing-masing persoalan individunya. Tapi jika pakai teori Marxist itu adalah masalah sistemik,” kata Sry saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (6/2/2026).
Kesalahan mendasar dalam memahami masalah pekerja
Menurut Sry, menarik persoalan ekonomi kembali ke ranah individu merupakan kekeliruan mendasar jika tujuan akhirnya adalah perubahan sosial.
Pendekatan ini justru memecah perhatian dari akar masalah yang seharusnya dikaji bersama.
“Ini yang keliru, kita tidak bisa mengangkat sebuah persoalan kembali ke dalam individu masing-masing, ketika ingin menuju sebuah perubahan,” ujarnya.
Ia menilai, ketika pekerja terus-menerus dihadapkan pada tuntutan perbaikan diri, persoalan struktural menjadi kabur. Akibatnya, muncul kecenderungan saling membandingkan antarpekerja.
“Memang masalah moralitas pribadi, tapi kalau kita membanding-bandingkan satu sama lain malah menjadi persaingan,” kata Sry.
Situasi tersebut, menurutnya, tidak hanya melemahkan solidaritas, tetapi juga menggeser fokus dari ketimpangan sistemik yang memengaruhi kesejahteraan pekerja secara luas.
Baca juga: Saat Gaji Tak Lagi untuk Diri Sendiri, Cerita Dian dan Realitas Generasi Sandwich
Persoalan massal yang bersifat struktural
Sry menegaskan, persoalan ekonomi pekerja tidak berdiri sendiri, melainkan dialami secara kolektif oleh banyak kelompok dalam struktur sosial yang sama. Oleh karena itu, pendekatan individual dianggap tidak relevan.
“Tapi lihatlah ini sebagai masalah yang masif dan struktural, makanya saya tidak membandingkan seseorang satu dengan yang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama persoalan terus dipersempit sebagai kegagalan individu, perubahan yang diharapkan akan sulit tercapai.
“Kita tidak akan menuju sebuah perubahan kalau terus membawa ke persoalan individu,” tegas Sry.
Ia menyebutkan, fokus seharusnya diarahkan pada bagaimana sistem bekerja dan siapa yang diuntungkan di dalamnya.
Kebijakan ketenagakerjaan perlu dikaji ulang
Dalam pandangan Sry, kebijakan publik memegang peran besar dalam membentuk kondisi kerja dan kesejahteraan buruh.
Maka dari itu, kritik seharusnya diarahkan pada regulasi yang berdampak luas terhadap pekerja.
“Sebaliknya, kita harus meneliti kebijakan-kebijakan yang saat ini tidak perlu terhadap buruh secara menyeluruh, misalnya Undang-Undang Cipta Kerja,” ujarnya.
Ia menyoroti berbagai mekanisme kerja yang menciptakan perbedaan perlakuan antarpekerja.
“Sistem kontrak, outsourcing, bagaimana sistem lembur, bagaimana pekerja informal dan kerja formal. Ada perbedaan perlakuannya,” kata Sry.
Perbedaan tersebut, lanjutnya, bisa memperlemah posisi tawar pekerja dan membuat kesejahteraan sulit dicapai secara merata.
Perubahan membutuhkan kesadaran bersama
Sry menekankan, situasi ini tidak akan berubah jika pekerja terus terjebak dalam upaya saling menyalahkan.
Baca juga: Generasi Sandwich di Antara Tanggungan keluarga dan Tabungan Menikah
Ia mengingatkan, kesadaran kolektif menjadi syarat utama untuk mendorong perubahan kebijakan.
“Persoalan ini yang menjadi kritik bersama. Kita tidak akan bisa merubah situasi kalau saling menyalahkan dan saling mencoba lebih baik dalam soal finansial,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk melihat persoalan ekonomi pekerja sebagai isu bersama yang membutuhkan respons kolektif.
Tag: #kondisi #ekonomi #pekerja #sulit #membaik #salah #individu #atau #sistem