Bayi Sering Gumoh Tak Selalu Gejala GERD, Ini yang Perlu Diketahui
KOMPAS.com – Bayi gumoh dan sering menangis kerap membuat orangtua khawatir. Tidak sedikit yang langsung mengaitkan kondisi tersebut dengan gastroesophageal reflux disease (GERD).
Padahal, tidak semua gumoh dan tangisan pada bayi berkaitan dengan gangguan lambung. Menurut Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), refluks dan regurgitasi merupakan kondisi yang umum terjadi pada bayi, dan tidak semuanya menandakan penyakit.
“Kapan kita bisa curiga dia GERD? Kan reflux normal-normal aja. Ada yang mengatakan kalau regurgitasinya berlebihan (keluarnya isi lambung atau gumoh berlebihan), padahal kan harus ada yang rusak dulu baru disebut GERD,” ujar dr. Hegar saat Media Gathering & Health Talk di Jakarta Selatan, Rabu (4/1/2026).
Baca juga: Sering Tanpa Disadari, Dokter Sebut Berat Badan Berlebih dan Rokok Picu GERD
Ia menegaskan bahwa GERD bukan sekadar gumoh, melainkan kondisi ketika refluks sudah menimbulkan kerusakan pada kerongkongan (esofagus).
Refluks sendiri merupakan kondisi ketika isi lambung naik kembali ke kerongkongan, sedangkan gumoh adalah isi dari lambung yang terlihat keluar melalui mulut. Pada bayi, kedua kondisi ini umum terjadi karena katup lambungnya belum matang.
Meski bisa terjadi berulang kali, gumoh belum tentu berarti GERD. Gejala tersebut baru dicurigai jika refluks yang terjadi menyebabkan kerusakan pada kerongkongan dan berdampak pada kondisi bayi.
Baca juga: Waspada Gumoh pada Anak Usia di Atas 1 Tahun, Bisa Jadi Gejala GERD
Rewel dan Menangis Bukan Penanda Pasti GERD
Prof. dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) saat Media Gathering & Health Talk POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan di Jakarta Selatan, Rabu (4/1/2026).
Bayi yang sering rewel atau menangis berlebihan kerap dianggap sedang mengalami masalah pencernaan.
Secara kasat mata, anggapan ini terlihat masuk akal karena bayi yang merasa tidak nyaman cenderung lebih sering menangis. Namun, kondisi tersebut tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan GERD.
Dalam praktik klinis, dr. Hegar menjelaskan bahwa tangisan dan iritabilitas merupakan perilaku yang sangat umum pada bayi sehat.
Baca juga: GERD Bisa Disembuhkan, Ini Penjelasan Dokter
Menangis merupakan salah satu cara bayi beradaptasi dan berkomunikasi, bukan selalu tanda adanya gangguan medis.
Untuk memastikan apakah rewel berkaitan dengan GERD atau tidak, dilakukan pemeriksaan khusus untuk mengukur paparan asam lambung di kerongkongan.
Hasil pemeriksaan tersebut justru menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang rewel masih berada dalam batas normal dan tidak mengalami asam berlebih.
Artinya, menjadikan bayi rewel sebagai patokan utama GERD justru berisiko menimbulkan salah diagnosis. Maka dari itu, dr. Hegar menekankan bahwa rewel bukanlah langkah awal untuk menyimpulkan bayi mengalami GERD.
Baca juga: Jangan Berlebihan, Makanan Berlemak Bisa Memicu GERD
Gejala GERD pada Bayi
Kecurigaan terhadap GERD baru muncul jika disertai tanda-tanda yang jelas. Salah satu tanda terpenting adalah gangguan kenaikan berat badan.
Bayi dengan GERD biasanya mengalami penurunan nafsu makan akibat rasa nyeri di kerongkongan.
Akibatnya, asupan harian berkurang dan pertumbuhan berat badan bayi menjadi tidak sesuai dengan kurva usia.
“Berat lahir 3 kg. Umur dua bulan berarti 4,5 kg. Harusnya umur tiga bulan beratnya5,250 kg, tapi dia naik cuma 4,9 kg. Regurgitasinya berlebihan, naiknya hanya sekian. Bulan depan enggak naik lagi, itu perlu hati-hati,” ujar dr. Hegar.
Baca juga: Flat Foot pada Bayi, Wajar atau Perlu Diwaspadai? Ini Kata Dokter
Menurut dr. Hegar, selain gangguan pertumbuhan, gejala lain yang perlu diperhatikan adalah muntah atau gumoh yang disertai bercak darah, yang menandakan adanya iritasi atau luka pada saluran cerna bagian atas.
Orangtua juga perlu mengenali Sandifer’s syndrome, yaitu kondisi ketika bayi melengkungkan tubuh ke belakang sambil menangis karena kesakitan.
“Bukan ngulet ya, kalau ngulet kan enggak nangis. Dia kesakitan, kalau seperti ini kita boleh berpikir, jangan-jangan dia GERD pada seorang bayi,” jelas dr. Hegar.
Baca juga: Tanda Menyusui Efektif, Berat Badan Bayi Bertambah
Sering Gumoh Belum Tentu GERD
Saat ini banyak anggapan di masyarakat bahwa sering gumoh berkaitan dengan GERD pada bayi. Namun, dr. Hegar menegaskan bahwa frekuensi gumoh tidak selalu berbanding lurus dengan kerusakan kerongkongan.
Bayi bisa saja gumoh berkali-kali dalam sehari tanpa mengalami GERD, selama asupan makan tetap baik dan berat badan bertambah sesuai usia.
Sebaliknya, bayi dengan GERD justru sering menunjukkan penurunan minat minum karena rasa nyeri, yang berdampak pada pertumbuhan.
Maka dari itu, fokus utama bukan pada seberapa sering bayi gumoh, melainkan bagaimana kondisi tumbuh kembangnya secara keseluruhan.
“Jadi saya ingatkan kembali bahwa tangisan berlebihan, irritable, bayi rewel itu bisa pada bayi sehat. Boleh berpikirkan GERD, tapi tidak pada langkah awal,” tutup dr. Hegar.
Baca juga: Dokter Kulit: Bayi Rewel, Bisa Jadi Tanda Masalah Kulit
Tag: #bayi #sering #gumoh #selalu #gejala #gerd #yang #perlu #diketahui