Anak Sering Main Gawai, Hukuman dari Orangtua Ini Justru Mengantar ke Prestasi Dunia
Banyak orangtua menghadapi situasi serupa: anak lebih betah menatap layar gawai daripada mengerjakan tugas atau bermain di luar rumah.
Respons yang paling umum adalah melarang, menyita, atau membatasi secara ketat.
Namun, pengalaman keluarga Marvel Rasendria Herdian menunjukkan pendekatan lain, mengalihkan, bukan melarang.
Saat Marvel masih duduk di kelas 2 SD, ia lebih tertarik menonton dan bermain gim dibandingkan fokus belajar.
Alih-alih memberi hukuman berupa penyitaan gawai, orangtuanya justru mengajaknya mencoba mengikuti olimpiade.
Bukan sebagai tuntutan prestasi, melainkan sarana menyalurkan rasa ingin tahu dan energinya ke tantangan yang lebih terarah.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan banyak pakar parenting yang menilai bahwa masalah gawai bukan terletak pada perangkatnya, melainkan pada cara orangtua mengelola keterlibatan anak dengan teknologi.
Baca juga: Belajar dari Para Seleb yang Terapkan Co-parenting, Ini Manfaatnya bagi Anak
Alih-alih menyita gawai, orangtua ini memilih mengalihkan minat anak. Pendekatan yang didukung pakar ini justru menumbuhkan disiplin dan prestasi.
Mengalihkan minat, bukan memutus akses
Dikutip dari Parent Circle, psikolog perkembangan anak dari Universitas California, Dr. Laura Markham, menekankan bahwa larangan keras justru sering memicu resistensi.
Anak menjadi patuh sesaat, tetapi tidak belajar mengelola diri.
Sebaliknya, ketika orangtua membantu anak menemukan aktivitas alternatif yang bermakna, kontrol diri tumbuh dari dalam.
Prinsip ini juga selaras dengan Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan.
Melansir dari Psychology Today Teori ini menjelaskan bahwa anak akan lebih termotivasi ketika tiga kebutuhan dasarnya terpenuhi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan.
Dalam kasus Marvel, anak tetap diberi rasa memilih (otonomi), diberi tantangan yang sesuai kemampuan (kompetensi), dan didampingi orangtua (keterhubungan).
Tanpa target juara atau tekanan hasil, Marvel mengikuti olimpiade sebagai pengalaman belajar.
Dari proses itu, ia justru menemukan minat, lalu secara alami membangun disiplin dan konsistensi.
Baca juga: Manfaat Co-parenting bagi Kesehatan Mental Anak, Meningkatkan Percaya Diri
Dari proses ke konsistensi
Pengalaman pertama Marvel di ajang Asia International Mathematical Olympiad (AIMO) membuka matanya bahwa kompetisi bukan hanya soal pintar.
Berhadapan dengan ribuan peserta dari berbagai negara, ia belajar tentang mental, keberanian, dan kesiapan menghadapi tekanan.
Seiring waktu, waktu bermain gawai berkurang bukan karena larangan, tetapi karena muncul kesadaran baru.
Ia mulai mengatur waktu, berlatih secara rutin, dan memahami bahwa proses membutuhkan komitmen.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep authoritative parenting, gaya pengasuhan yang banyak direkomendasikan psikolog perkembangan, termasuk Diana Baumrind.
Dalam pola ini, orangtua menetapkan arah dan batas yang jelas, tetapi tetap hangat, komunikatif, dan menghargai kebutuhan anak.
Baca juga: Mengapa Gentle Parenting Terasa Berat bagi Sebagian Orangtua? pakar Ungkap Alasannya
Alih-alih menyita gawai, orangtua ini memilih mengalihkan minat anak. Pendekatan yang didukung pakar ini justru menumbuhkan disiplin dan prestasi.
Efek teladan dalam keluarga
Pilihan Marvel juga memberi dampak pada adiknya, Louise.
Ketertarikan Louise pada olimpiade tidak lahir dari tuntutan, melainkan dari pengamatan. Ia ingin mencoba, ingin merasakan berdiri di panggung sambil mengibarkan bendera Indonesia.
Menurut penelitian tentang social learning theory dari Albert Bandura, anak banyak belajar melalui observasi dan peniruan.
Ketika melihat kakak berproses dengan enjoy, adik cenderung mengikuti tanpa paksaan. Dalam waktu singkat, Louise pun mulai mengikuti kompetisi dan meraih berbagai pengalaman internasional.
Baca juga: Gaya Parenting Tipe C, Pengasuhan yang Longgar dengan Batasan
Gawai bukan musuh, tapi perlu diimbangi dengan aktivitas lain
Bagi keluarga ini, gawai tidak diposisikan sebagai musuh yang harus dijauhkan sepenuhnya.
Gawai menjadi bagian dari keseharian, tetapi tidak menjadi pusat. Anak-anak tetap menjalani aktivitas fisik, seni, dan interaksi sosial.
Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi American Academy of Pediatrics yang menekankan pentingnya quality screen time, bukan sekadar durasi, tetapi keseimbangan dengan aktivitas lain yang menunjang tumbuh kembang anak.
Tag: #anak #sering #main #gawai #hukuman #dari #orangtua #justru #mengantar #prestasi #dunia