Olahraga Tanpa Takut Dihakimi, Gendut Berlari Buka Ruang Aman bagi Obesitas
Bertubuh besar bukan penghalang untuk bergerak. Lewat Gendut Berlari, musisi asal Solo ini membuka ruang aman agar obesitas bisa olahraga tanpa takut (dok. Topik Sudirman dan Gendut Berlari)
14:10
29 Januari 2026

Olahraga Tanpa Takut Dihakimi, Gendut Berlari Buka Ruang Aman bagi Obesitas

Tidak semua orang datang ke lintasan lari dengan tubuh ideal dan napas panjang.

Bagi sebagian orang bertubuh besar, sekadar melangkah keluar rumah untuk berolahraga sudah membutuhkan keberanian ekstra, bukan karena jarak atau waktu, melainkan tatapan dan penilaian orang lain.

Berangkat dari pengalaman itulah, musisi sekaligus kreator konten asal Solo, Topik Sudirman (33), menginisiasi gerakan Gendut Berlari.

Sebuah movement yang memberi ruang aman bagi pemilik tubuh gemuk untuk bergerak tanpa takut dihakimi.

Saat ditemui Kompas.com di kawasan Jalan Slamet Riyadi, Surakarta, Topik mengaku, niatnya berolahraga sejak awal bukan untuk pamer, melainkan memperbaiki kesehatan. Namun, langkah pertamanya justru dibarengi komentar miring.

"Kok lari pace-nya besar banget? Itu jalan atau lari?" kenangnya menirukan salah satu komentar yang ia terima saat mengunggah aktivitas lari di media sosial.

Saat mulai berlari pada April 2025, berat badan Topik masih berada di angka 128 kilogram.

Alih-alih mendapat dukungan, ia justru kerap mendapat cibiran yang mempertanyakan kelayakannya untuk berlari di ruang publik.

Namun, ejekan itu tak membuatnya berhenti. Justru sebaliknya.

"Itu jadi bahan bakar. Saya sadar, ternyata banyak orang bertubuh besar yang ingin olahraga, tapi takut diadili," ujarnya.

Baca juga: 7 Tren Olahraga Terpopuler Sepanjang 2025, dari Padel hingga Lari

Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.
Instagram @topiksudirman Berawal dari hujatan saat mulai berlari, Topik Sudirman membangun gerakan Gendut Berlari yang inklusi. Ini ceritanya.

Melawan stigma tubuh gemuk dan olahraga

Pada Agustus 2025, Topik resmi menginisiasi Gendut Berlari bersama sejumlah rekan. Ia menegaskan, gerakan ini bukan komunitas eksklusif, melainkan ruang terbuka yang bisa diikuti siapa pun.

"Siapapun di kota manapun, bisa ikut gerakan ini, kita mulai bergerak sama-sama, istilahnya saling support untuk olahraga," kata Topik.

Gendut Berlari hadir untuk melawan stigma lama bahwa olahraga terutama lari, hanya pantas dilakukan oleh mereka yang bertubuh atletis, ramping, dan penuh persiapan.

Bagi Topik, narasi tersebut justru kerap membuat orang dengan obesitas semakin menjauh dari aktivitas fisik. Padahal, olahraga seharusnya menjadi hak semua orang, tanpa syarat bentuk tubuh.

Ruang aman bagi obesitas untuk bergerak

Dalam setiap kegiatan yang digelar, Gendut Berlari mengedepankan rasa aman dan kebersamaan.

Event jalan santai dan lari yang diadakan di sejumlah daerah seperti Solo, Sragen, dan Sukoharjo sengaja menghilangkan unsur kompetisi.

Tidak ada target pace, tidak ada batas waktu ketat. Bahkan, tim sweeper disiapkan untuk mendampingi peserta di barisan paling belakang.

"Kalau hanya bisa jalan, ya jalan. Tidak ada yang ditinggal," tegas Topik.

Pendekatan ini menjadi penting karena banyak orang dengan obesitas merasa minder atau takut cedera saat berolahraga di ruang publik.

Melalui Gendut Berlari, mereka dapat menemukan dukungan moral untuk bergerak sesuai kemampuan tubuh masing-masing.

Baca juga: Dari 128 Kg ke 93 Kg, Cerita Diet Topik Sudirman yang Berawal dari Ejekan

Edukasi olahraga yang realistis

Seiring berkembangnya gerakan ini, Topik juga aktif membagikan edukasi seputar olahraga yang aman bagi tubuh besar.

Mulai dari pentingnya pemilihan sepatu dengan bantalan yang tepat, pengaturan napas, hingga kombinasi lari dan jalan untuk meminimalkan risiko cedera.

Topik menolak pendekatan instan. Ia juga menolak promosi produk pelangsing yang menjanjikan hasil cepat tanpa proses.

"Tubuh besar butuh persiapan matang. Jangan dipaksa," ujarnya.

Kini, berat badan Topik telah turun menjadi 93 kilogram, hasil dari proses panjang yang ia jalani secara konsisten. Namun, baginya penurunan berat badan bukan tujuan utama.

Gerakan yang terus bertumbuh

Di media sosial, akun Instagram @gendutberlari kini telah diikuti lebih dari 13 ribu orang. Kegiatan offline-nya pun kerap diikuti ratusan peserta dari berbagai latar belakang usia dan profesi.

Siapa pun bisa ikut, tanpa batasan berat badan, jarak tempuh, atau target tertentu.

"Yang penting berani berdiri dan melangkah," ujar Topik.

Seiring meluasnya gerakan ini, Topik juga menitipkan pesan kepada masyarakat agar berhenti mengejek orang bertubuh besar yang sedang berolahraga.

Menurutnya, keberanian untuk memulai sudah merupakan perjuangan besar.

"Kalau melihat orang gendut berlari, itu artinya dia sedang berjuang. Tolong jangan diadili," tutupnya.

Tag:  #olahraga #tanpa #takut #dihakimi #gendut #berlari #buka #ruang #aman #bagi #obesitas

KOMENTAR