Sering Terpapar Berita Buruk Picu Kelelahan Mental, Ini Tips dari Psikolog
Di tengah derasnya arus informasi, berita tentang bencana, konflik, hingga krisis kemanusiaan kerap hadir hampir setiap hari.
Tanpa disadari, paparan berita buruk yang terus-menerus dapat berdampak pada kondisi psikologis, bahkan bagi mereka yang tidak terdampak langsung oleh peristiwa tersebut.
Psikolog klinis Virginia Hanny, M.Psi., Psikolog, mengemukakan bahwa paparan arus informasi, khususnya yang berkaitan dengan bencana, dapat memicu kelelahan mental.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh korban atau mereka yang berada di lokasi kejadian, tetapi juga oleh masyarakat yang mengikuti pemberitaan dari kejauhan.
Vicarious trauma akibat paparan informasi
Menurut Virginia, kelelahan mental akibat paparan berita buruk dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma.
?”Fenomena ini banyak dikenal sebagai vicarious trauma atau secondary trauma, hal ini menggambarkan kondisi psikologis yang dialami seorang individu setelah secara tidak langsung terpapar pengalaman traumatis orang lain,” kata Virginia dikutip dari ANTARA, Selasa (27/1/2026).
Psikolog lulusan Universitas Padjajaran itu menjelaskan bahwa berdasarkan penelitian, paparan berulang, terutama setiap hari, terhadap berita bencana berupa gambar, video, maupun narasi emosional dapat memicu respons stres yang serupa dengan mereka yang mengalami peristiwa tersebut secara langsung.
Kondisi ini membuat seseorang merasa sedih berkepanjangan, cemas, hingga lelah secara mental meskipun tidak berada di situasi krisis.
Empati perlu dibarengi batasan sehat
Virginia menekankan bahwa empati memang penting, tetapi perlu diimbangi dengan batasan yang sehat. Tanpa batasan, empati justru bisa menjadi sumber kelelahan emosional.
“Menyadari boundaries pribadi, dan menyadari juga bahwa empati tidak berarti harus menyerap semua perasaan yang dirasakan oleh para korban,” tutur psikolog yang berpraktik di Personal Growth itu.
Ia menyarankan masyarakat untuk lebih sadar terhadap kapasitas diri saat mengonsumsi berita, terutama di tengah situasi krisis yang berlangsung lama.
Tips mencegah kelelahan mental akibat berita buruk
Untuk mengurangi risiko kelelahan mental, Virginia menyarankan beberapa langkah sederhana yang bisa diterapkan sehari-hari.
Salah satunya, dengan melakukan teknik grounding seperti pernapasan dalam, fokus pada sensasi tubuh, atau aktivitas yang membantu seseorang kembali ke kondisi “hadir” di saat ini.
Menyeimbangkan empati dengan aksi nyata juga dapat membantu, misalnya dengan berdonasi atau menjadi relawan, selama kondisi diri sendiri memungkinkan dan tidak memaksakan.
Di tengah kondisi negara yang penuh masalah, Psikolog membagikan lima langkah menjaga kesehatan mental, tanpa kehilangan kepedulian sosial.
Tanda kelelahan mental yang perlu diwaspadai
Lebih lanjut, Virginia menyampaikan bahwa reaksi emosional seperti rasa sedih, cemas, atau lelah secara mental merupakan hal yang wajar di tengah krisis berkepanjangan.
Namun, ada sejumlah tanda yang perlu mendapat perhatian khusus.
Kondisi tersebut, menurut Hanny, juga bisa dialami mereka yang tidak terdampak langsung oleh peristiwanya.
“Ketika emosi negatif intens dan menetap lebih dari 2 minggu tanpa perbaikan hingga kesulitan tidur atau mimpi buruk terus-menerus,” ujarnya.
Tanda lainnya termasuk perasaan putus asa, mati rasa emosional, rasa bersalah berlebihan, kesulitan berfungsi dalam aktivitas harian seperti kerja atau sekolah, hingga perilaku menghindari berita secara ekstrem atau sebaliknya, terus-menerus mengecek berita secara kompulsif.
Dalam kondisi yang lebih serius, dapat muncul pikiran menyakiti diri atau keinginan untuk “menghilang”.
“Apabila gejala-gejala ini sangat mengganggu keberfungsian atau semakin memburuk, maka individu sangat disarankan untuk mencari bantuan professional seperti psikiater atau psikolog klinis untuk memprosesnya,” jelas dia.
Tag: #sering #terpapar #berita #buruk #picu #kelelahan #mental #tips #dari #psikolog