Cara Mencegah Serangan Jantung Berulang, Ini 5 Hal yang Perlu Dijaga
- Setelah menjalani penanganan medis akibat serangan jantung, pasien masih perlu memperhatikan berbagai langkah lanjutan untuk mencegah masalah serupa di kemudian hari.
Upaya pencegahan ini dikenal sebagai prevensi sekunder, yakni langkah-langkah yang dilakukan untuk menekan risiko serangan jantung berikutnya pada pasien yang sudah pernah mengalaminya.
Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Fahmi Idrus Shahab, Sp.JP(K), FIHA, yang mengatakan bahwa prevensi sekunder tidak hanya soal berhenti merokok, tetapi mencakup pengendalian berbagai faktor kesehatan secara menyeluruh.
“Jadi pada pasien-pasien pascaserangan jantung, yang sudah dipasang ring misalnya, kita harus menjaga supaya pasiennya juga tidak kena serangan jantung berikutnya. Kita sebut prevensi sekunder atau secondary prevention,” ujar dr. Fahmi saat ditemui di Eka Hospital MT Haryono, Jumat (23/1/2026).
5 cara mencegah serangan jantung berulang
1. Tekanan darah harus terkontrol
Tekanan darah menjadi salah satu faktor utama yang harus dijaga ketat setelah serangan jantung.
Apabila tekanan darah tinggi, beban kerja jantung akan meningkat dan memperbesar risiko terjadinya serangan ulang.
“Jadi secondary prevention adalah kita mesti menjaga tensinya kurang dari 130–180,” jelas dr. Fahmi.
Pemantauan tekanan darah secara rutin dan kepatuhan terhadap pengobatan menjadi kunci untuk menjaga kondisi ini tetap stabil.
Ilustrasi hipertensi. Studi kesehatan berskala jutaan orang mengungkap hampir semua serangan jantung dan stroke didahului faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
2. Menjaga gula darah
Selain tekanan darah, kadar gula darah juga memegang peranan penting. Gula darah yang tidak terkontrol dapat mempercepat kerusakan pembuluh darah dan memperburuk kondisi jantung.
Pasien dengan diabetes atau gangguan gula darah perlu menjalani pengobatan, pengaturan pola makan, serta gaya hidup yang konsisten untuk mencegah komplikasi lanjutan.
“Kita mesti jaga gula darahnya tetap baik dan mesti dijaga bagus,” kata dr. Fahmi.
3. Target kolesterol LDL kini lebih ketat
Kolesterol jahat atau LDL menjadi fokus penting dalam prevensi sekunder. Target kadar LDL bagi individu dengan riwayat serangan jantung akan lebih rendah dibandingkan rekomendasi sebelumnya.
Menurut dr. Fahmi, jika dulu kadar LDL untuk seseorang dengan riwayat serangan jantung di bawah 70 mg/dL sudah dianggap cukup aman, kini penelitian terbaru menyarankan target yang lebih rendah, yakni di bawah 55 mg/dL, terutama bagi pasien yang sudah pernah mengalami serangan jantung.
“Kita mesti jaga LDL atau kolesterol jahat. LDL targetnya kalau bisa di bawah 55, minimal di bawah 70,” jelas dr. Fahmi.
4. Perhatikan gaya hidup dan lingkar perut
Menurut dr. Fahmi, pencegahan serangan jantung berulang tidak akan optimal tanpa perubahan gaya hidup. Berhenti merokok menjadi salah satu langkah utama, tetapi bukan satu-satunya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga lingkar perut sebagai indikator kesehatan metabolik.
“Lifestyle mesti berubah, rokok mesti di-stop. Lingkar perut pada laki-laki Asia dijaga agar kurang dari 90 sentimeter, perempuan kurang dari 80 sentimeter,” ucap dr. Fahmi.
Pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pengelolaan stres menjadi bagian dari perubahan gaya hidup yang perlu dijalani secara konsisten.
5. Obat harus diminum jangka panjang
Dalam praktiknya, dr. Fahmi menyebut kesalahan yang masih sering terjadi pada pasien pascaserangan jantung adalah menghentikan obat secara sepihak setelah kondisi tubuh terasa membaik.
Padahal, bagi pasien dengan riwayat serangan jantung, obat merupakan bagian penting dari pencegahan jangka panjang.
“Terus berikutnya juga, harus obat rutin. Kadang-kadang orang sudah minum obat, sebulan dua bulan sudah enak, di-stop,” kata dr. Fahmi.
Ia menegaskan bahwa pasien dengan penyakit jantung koroner umumnya perlu menjalani pengobatan jangka panjang.
Meski demikian, penyesuaian obat tetap bisa dilakukan, tetapi harus berdasarkan evaluasi dan arahan dokter.
“Padahal pada pasien dengan serangan jantung, yang sudah pernah kena jantung koroner, itu harus long life minum obat. Nanti mungkin ada beberapa yang di-stop, tapi tergantung daripada kondisinya dan juga atas arahan dokter. Jadi enggak boleh stop obat sendiri,” tegas dr. Fahmi.
Dengan menjaga tekanan darah, gula darah, kolesterol, gaya hidup, serta kepatuhan minum obat, risiko serangan jantung berulang dapat ditekan.
Prevensi sekunder menjadi kunci agar pasien dapat menjalani hidup yang lebih aman dan berkualitas setelah serangan jantung pertama.
Tag: #cara #mencegah #serangan #jantung #berulang #yang #perlu #dijaga