3 Cara Mencegah Preeklamsia sejak Awal Kehamilan, Jaga Berat Badan
Ilustrasi preeklamsia.(Shutterstock/SUKJAI PHOTO)
23:05
24 Januari 2026

3 Cara Mencegah Preeklamsia sejak Awal Kehamilan, Jaga Berat Badan

– Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dan dapat berdampak serius bagi ibu maupun janin.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Gorga Udjung, Sp.OG. menjelaskan, bahwa preeklampsia memang berkaitan dengan masalah pada plasenta yang sudah terjadi sejak awal kehamilan. 

Namun, risiko terjadinya kondisi ini masih dapat ditekan dengan berbagai upaya pencegahan.

“Preeklamsia itu masalah dari kehamilan. Dia start-nya di 20 minggu ke atas. Setelah 20 minggu ke atas, bisa muncul preeklamsia,” ujar dr. Gorga dalam acara Newborn & Breastfeeding Class Blackmores Lacta Well di Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, meski akar masalah preeklamsia berasal dari proses awal kehamilan, ibu hamil tetap bisa berperan aktif untuk mencegah kondisi tersebut berkembang menjadi lebih berat.

3 cara mencegah preeklamsia

1. Jaga berat badan sejak sebelum dan awal kehamilan

Salah satu langkah penting untuk menekan risiko preeklamsia adalah menjaga berat badan agar tidak berlebihan. Dr. Gorga menekankan bahwa obesitas menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi saat hamil.

Ia menyarankan agar upaya menjaga berat badan ideal sudah dilakukan bahkan sejak mulai program kehamilan.

“Sejak awal promil itu harus dijaga berat badannya. Jangan obesitas, tekanan darahnya jangan tinggi, dikontrol. Sebelum hamil malah, biar lebih baik,” jelasnya.

Berat badan yang terkontrol membantu tubuh beradaptasi lebih baik selama kehamilan dan mengurangi beban kerja sistem peredaran darah.

2. Perhatikan pola makan dan asupan garam

Selain berat badan, pola makan sehari-hari juga berperan besar dalam pencegahan preeklamsia. Dr. Gorga mengingatkan agar ibu hamil tidak terlalu sering mengonsumsi makanan tinggi garam.

Makanan cepat saji dan olahan umumnya mengandung kadar garam yang tinggi dan dapat memicu kenaikan tekanan darah jika dikonsumsi terlalu sering.

“Kalau mau mengurangi tensi tinggi, jaga makan. Jaga berat badan dan kurangi yang asin-asin,” kata dr. Gorga.

Makanan tinggi garam dapat memicu kenaikan tekanan darah bila dikonsumsi terlalu sering, sehingga perlu dibatasi sejak awal kehamilan.

Dalam konteks ini, mi instan kerap menjadi contoh makanan yang perlu dikonsumsi dengan lebih bijak bagi ibu hamil.

Namun, dr. Gorga menuturkan bahwa makan mi instan bukan sepenuhnya dilarang, tetapi tidak disarankan untuk sering dikonsumsi.

“Mi instan itu enggak apa-apa sesekali. Tapi kalau rutin terus, garamnya tinggi. Nutrisinya juga kurang,” ujarnya.

3. Rutin memantau tekanan darah selama kehamilan

Preeklamsia kerap muncul secara tiba-tiba, meski sebelumnya tekanan darah ibu hamil terlihat normal. 

Maka dari itu, pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi langkah yang tidak boleh dilewatkan.

Adapun dr. Gorga menjelaskan bahwa kenaikan tekanan darah bisa terjadi mendadak setelah usia kehamilan 20 minggu.

“Kadang-kadang tensi itu normal dari awal, tiba-tiba usia 21 minggu, 22 minggu, naik langsung,” ungkapnya.

Hal ini menjadi alasan mengapa setiap kontrol kehamilan selalu disertai pemeriksaan tekanan darah, berat badan, dan tanda vital lainnya.

Deteksi dini membantu dokter mengambil langkah cepat sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.

“Makanya kalau ke kontrol ke dokter itu dicek tekanan darah, berat badan, nadi. Itu penting,” lanjut dr. Gorga.

Segera ikuti anjuran dokter bila tekanan darah naik

Jika tekanan darah mulai terdeteksi meningkat, dr. Gorga menegaskan agar ibu hamil tidak menunda penanganan dan segera mengikuti anjuran medis yang diberikan. 

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol berisiko berkembang menjadi kondisi serius, terutama saat mendekati atau memasuki proses persalinan.

“Kalau memang tekanan darahnya enggak terkontrol, bisa berisiko. Ibunya bisa kejang, bisa hilang kesadaran,” kata dr. Gorga.

Dampak preeklamsia juga dapat dirasakan oleh janin. Pada kondisi tertentu, keselamatan ibu dan bayi harus menjadi prioritas utama, meski kehamilan belum mencapai usia cukup bulan.

“Kadang-kadang harus dilahirkan sebelum cukup bulan, misalnya 32 minggu, karena tensinya tinggi. Risikonya bayi prematur, bayi lahir kecil,” jelas dr. Gorga.

Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya pencegahan sejak awal melalui gaya hidup sehat dan pemantauan rutin

Dengan menjaga berat badan, mengatur pola makan, serta rutin memeriksakan tekanan darah, risiko preeklamsia dapat ditekan sehingga kehamilan bisa dijalani dengan lebih aman hingga persalinan.

Tag:  #cara #mencegah #preeklamsia #sejak #awal #kehamilan #jaga #berat #badan

KOMENTAR