Berhasil Menurunkan Berat Badan 85 Kg Tanpa Diet Ekstrem, Pria Ini Merasa 10 Tahun Lebih Muda
Diagnosis pradiabetes dan peringatan keras dari dokter menjadi titik balik hidup Ethan Noblesala.
Pria berusia 32 tahun ini diminta bersiap menghadapi obat jangka panjang hingga operasi jika tidak segera mengubah gaya hidup.
Dua tahun kemudian, ia justru aktif berolahraga, rutin bermain pickleball, dan bersiap mengikuti New York City Marathon. Perubahan itu berawal dari satu hal sederhana, cara makan yang lebih sadar dan realistis.
Dari gaya hidup sibuk ke masalah kesehatan
Ethan mengaku sempat berada di kondisi fisik terbaik saat kuliah. Namun, saat membangun bisnis sebagai wirausaha, kesehatannya terabaikan.
Jam tidur hanya sekitar empat jam per malam, makanan didominasi pesan antar, dan aktivitas fisik nyaris tidak ada.
Berat badannya naik hingga sekitar 235 pon atau lebih dari 106 kilogram, yang memberi tekanan besar pada tubuhnya. Kondisi tersebut akhirnya berujung pada diagnosis pradiabetes pada November 2023.
“Dokter saya bilang, kalau tidak mengubah gaya hidup, saya akan menghadapi lebih banyak operasi dan obat,” kata Ethan kepada Today.
Mengubah pola makan tanpa diet ekstrem
Ilustrasi diet. Didiagnosis pradiabetes dan diperingatkan dokter, Ethan Noblesala justru berhasil menurunkan 85 kg lewat perubahan pola makan sederhana.
Alih-alih mengikuti tren diet ekstrem, Ethan memilih pendekatan yang lebih terukur. Ia menerapkan pola makan tinggi protein, tinggi serat, dan rendah kalori.
Sebagai lulusan keuangan, ia terbiasa dengan angka dan mulai melacak asupan nutrisi hariannya.
Ethan menyadari bahwa makanan padat protein dan serat membuatnya kenyang lebih lama, meski hanya mengonsumsi sekitar 1.500 kalori per hari.
“Saya tidak pernah merasa kelaparan atau tersiksa,” ujarnya.
Ia memulai dari target kecil, seperti minum segelas air setiap hari, mulai belanja bahan makanan sendiri, membaca label gizi, dan mencari alternatif makanan favorit yang lebih sehat.
Menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian sosial
Perubahan Ethan tidak berhenti di dapur. Ia kembali mendekatkan diri pada olahraga yang ia sukai sejak kecil. Dari tenis, ia menemukan pickleball dan menjadikannya aktivitas rutin bersama teman-teman.
“Pickleball menjadi pintu masuk saya ke gaya hidup aktif,” katanya.
Ia juga bergabung dengan komunitas lari dan pusat kebugaran yang menekankan aspek komunitas.
Menurut Ethan, kehadiran teman membuat olahraga terasa menyenangkan, bukan beban. Rasa kebersamaan itu membangun konsistensi dan tanggung jawab.
Kini, ia bahkan tengah berlatih untuk mengikuti New York City Marathon, sebuah target yang dulu terasa mustahil.
Tidur dan pemulihan jadi kunci
Selain pola makan dan olahraga, Ethan mulai serius memperbaiki kualitas tidur. Ia kini tidur rata-rata enam setengah hingga tujuh setengah jam per malam.
“Tubuh butuh waktu untuk pulih,” katanya.
Ia juga memanfaatkan teknologi pelacak kebugaran untuk menyeimbangkan latihan dan istirahat.
Data tersebut membantunya mengambil keputusan kapan harus berlatih keras dan kapan perlu melambat.
Merasa lebih sehat, bukan sekadar lebih kurus
Setelah menurunkan sekitar 85 pon atau hampir 39 kilogram, Ethan mengatakan dampak terbesar bukan hanya angka di timbangan. “Saya merasa seperti 10 tahun lebih muda,” ujarnya.
Perubahan gaya hidup ini bahkan menginspirasinya mendirikan usaha baru di bidang kebugaran berbasis komunitas.
Namun, baginya, tujuan utama tetap sama: menjaga kesehatan agar tidak kembali ke kondisi sebelumnya.
Kisah Ethan menunjukkan bahwa diet tidak selalu harus ekstrem. Konsistensi, pilihan realistis, dan dukungan lingkungan dapat membawa perubahan besar dalam jangka panjang.
Tag: #berhasil #menurunkan #berat #badan #tanpa #diet #ekstrem #pria #merasa #tahun #lebih #muda