Sakit Tenggorokan Tak Selalu karena Infeksi, Ini Faktor Lainnya
– Sakit tenggorokan kerap dianggap sebagai tanda infeksi ringan. Padahal, keluhan ini juga dapat dipicu oleh faktor lain seperti kurang cairan, pola tidur, hingga kondisi stres.
Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan Heriyanto, MARS, menjelaskan bahwa tenggorokan memiliki lapisan mukosa yang sangat sensitif terhadap perubahan kondisi tubuh. Ketika keseimbangan tubuh terganggu, jaringan tenggorokan menjadi lebih mudah mengalami iritasi.
Tenggorokan kering lebih mudah terluka
Menurut dr. Irwan, salah satu pemicu utama iritasi tenggorokan adalah kurangnya asupan cairan. Kondisi ini membuat lapisan mukosa kehilangan kelembapan alaminya.
“Karena hidrasi dari intake cairan. Kalau sudah kering, akhirnya dinding mukosa tenggorokan itu lebih sensitif. Kita batuk sedikit saja bisa jadi luka,” ujar dr. Irwan.
Ia menjelaskan bahwa luka kecil tersebut dapat menimbulkan rasa perih, tidak nyaman saat menelan, serta memicu reaksi peradangan ringan pada jaringan tenggorokan.
Jika kondisi ini terus terjadi tanpa dibarengi pemulihan yang cukup, iritasi dapat berkembang menjadi peradangan pada tenggorokan.
“Kalau sudah begitu, akhirnya radang, balik lagi ke pola tidur,” kata dr. Irwan.
Peran tidur dalam proses peradangan
Dokter Irwan menilai, kualitas tidur memiliki peran besar dalam mengendalikan peradangan di tubuh, termasuk di tenggorokan.
Hal ini juga berkaitan dengan keluhan sakit tenggorokan yang terjadi saat seseorang sedang menjalani puasa karena pola tidur yang berubah.
Saat tidur cukup, tubuh memiliki kesempatan untuk melakukan proses pemulihan alami. Sebaliknya, kurang tidur justru membuat sistem pertahanan tubuh tidak bekerja optimal.
“Tidur itu bisa menurunkan peradangan. Karena ada hormon kortisol. Kalau kurang tidur, peradangannya bukan membaik, malah memperburuk,” tutur dr. Irwan.
Selain dikenal berkaitan dengan respons stres dalam tubuh, hormon kortisol juga berperan dalam membantu meredakan peradangan.
Hormon ini bekerja menjaga keseimbangan kekebalan tubuh agar reaksi peradangan tidak berlangsung berlebihan. Maka dari itu, ketika pola tidur terganggu, kerja kortisol ikut tidak optimal dan peradangan justru lebih mudah bertahan atau memburuk.
Dokter Irwan menjelaskan bahwa proses tidur menjadi momen penting bagi tubuh untuk memperbaiki jaringan yang mengalami gangguan.
“Pada saat tidur itu, ibaratnya hormon dicas. Hal-hal yang jelek itu akan lebih membaik,” katanya.
Stres juga berpengaruh
Selain cairan dan tidur, dr. Irwan menilai stres juga dapat memengaruhi daya tahan jaringan tenggorokan.
Kondisi mental yang tidak stabil membuat sistem imun bekerja kurang optimal, sehingga peradangan lebih mudah muncul.
Oleh sebab itu, sakit tenggorokan tidak selalu berkaitan dengan virus atau bakteri, tetapi juga dengan kondisi gaya hidup secara keseluruhan.
Tiga faktor utama yang perlu dijaga
Adapun dr. Irwan menegaskan bahwa menjaga kesehatan tenggorokan tidak cukup hanya dengan mengandalkan obat pereda nyeri. Perubahan kebiasaan hidup justru menjadi kunci utama dalam pencegahan.
“Jadi benar-benar asupan cairan, tidak boleh stres, dan istirahat yang cukup. Itu tiga inti banget,” ujar dr. Irwan.
Menurutnya, jika ketiga faktor tersebut dijaga dengan baik, risiko sakit tenggorokan dapat ditekan dan proses pemulihan berlangsung lebih cepat.
Dengan kata lain, perawatan tenggorokan tidak hanya dimulai dari obat, tetapi dari kebiasaan sehari-hari yang lebih seimbang.
Tag: #sakit #tenggorokan #selalu #karena #infeksi #faktor #lainnya