Cara Orangtua Cegah Anak Masuk Lingkaran Child Grooming
Ilustrasi orangtua dan anak.(Dok. Shutterstock/220 Selfmade studio)
14:05
20 Januari 2026

Cara Orangtua Cegah Anak Masuk Lingkaran Child Grooming

– Buku memoar berjudul Broken Strings karya Aurelie Moeremans membuka banyak orang bahwa child grooming adalah ancaman nyata dan bisa menimpa siapa saja.

Peran orangtua menjadi kunci penting dalam mencegah anak terlibat dalam lingkaran kekerasan termasuk child grooming, baik sebagai korban maupun sebagai pelaku. 

Psikolog klinis dan Co-Founder KALM, Karina Negara, menegaskan bahwa dasar pencegahan tersebut terletak pada cara orangtua memenuhi kebutuhan emosional anak.

Karina menegaskan bahwa tanggung jawab orangtua tidak hanya berhenti pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga kebutuhan emosional anak secara menyeluruh.

“Melindungi anak secara emosional, fisik, enggak cuma ngasih makan doang. Enggak cuma pandang, sandang, papan, sama pendidikan,” ujarnya saat sesi live talkshow Edukasi Child Grooming dan Dukungan Mental, Senin (19/1/2026).

Selain memenuhi kebutuhan dasar anak, orangtua juga memiliki tugas asah, asih, dan asuh yang mencakup pendidikan, kasih sayang, dan bimbingan.

“Asah itu pendidikan, tapi bukan cuma sekolah. Asih itu kasih sayang, emotional needs. Asuh itu mengasuh dia sampai besar, ngasih guidance, ini yang baik, ini yang benar, morals,” jelas Karina.

Pola asuh orangtuaParenting for Brains Pola asuh orangtua

Kasih sayang tidak selalu sama dengan merasa disayang

Karina menyoroti satu hal yang sering luput disadari orangtua, yakni perbedaan antara merasa menyayangi anak dan membuat anak merasa disayang.

“Orangtua bilang, aku sayang anakku. Terus ditanya, gimana cara menyayanginya? Dibeliin mainan, dikasih makanan terbaik, disekolahkan di sekolah yang bagus,” ujar Karina.

Padahal, menurut Karina, hal-hal tersebut belum tentu membuat anak merasa dicintai. Terkadang hal sesederhana memeluk justru lebih bermakna bagi anak.

“Yang bikin anak merasa disayang itu kalau dipeluk sama mamanya, ditemenin belajar sama papanya, kalau lagi salah dibilang, it’s okay, we can fix this,” katanya.

Penuhi kebutuhan emosional dengan tepat

Karina menekankan bahwa jika orangtua ingin mencegah anak menjadi pelaku maupun korban, maka kebutuhan emosional anak harus dipenuhi dengan cara yang tepat.

“Kalau mau membentuk anak supaya enggak jadi pelaku, berikanlah ke dia kasih sayang atau penuhilah kebutuhan emosionalnya secara tepat,” katanya.

Ia mengingatkan agar orangtua tidak sekadar mengandalkan asumsi pribadi, tetapi juga mengenali anak lebih dalam.

Karina menyarankan orangtua untuk benar-benar mengenal anaknya, sekaligus terus belajar tentang pola pengasuhan.

Belajar parenting sejak dini

Di sisi lain, menurut Karina, persiapan menjadi orangtua idealnya dimulai bahkan sebelum menikah.

“Persiapan menjadi orang tua itu kalau bisa dimulai dari sebelum menikah,” ujarnya.

Ia mendorong orangtua untuk mempelajari teori perkembangan dan teori keterikatan karena perkembangan anak dari usia 0 hingga 18 tahun memiliki perubahan fase yang beragam.

"Kita enggak bisa treat anak umur 3 tahun sama seperti anak umur 16 tahun,” kata Karina.

Kunci utamanya: mencintai dengan tepat

Karina merangkum cara mencegah anak menjadi korban dan pelaku kekerasan dengan satu prinsip sederhana, yaitu mencintai anak dengan tepat.

“Gimana supaya anak tidak jadi pelaku? Love them right. Gimana supaya anak enggak jadi korban? Also love them right,” kata Karina.

Menurutnya, kasih sayang yang tepat, konsisten, dan penuh kesadaran menjadi fondasi terpenting agar anak tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, serta mampu membangun relasi yang sehat.

Tag:  #cara #orangtua #cegah #anak #masuk #lingkaran #child #grooming

KOMENTAR