Istri Bekerja atau IRT, Nafkah Tetap Kewajiban Suami
Ilustrasi pasangan.(Dok. Freepik/pressfoto)
14:10
17 Januari 2026

Istri Bekerja atau IRT, Nafkah Tetap Kewajiban Suami

Persoalan mengenai siapa yang wajib memberi nafkah dalam sebuah keluarga belakangan ramai diperbincangkan.

Terlebih kini, tidak sedikit para istri yang memilih untuk tetap berkarier setelah menikah demi aktualisasi diri atau membantu stabilitas ekonomi keluarga.

Di sisi lain, pilihan menjadi ibu rumah tangga (IRT) tetap menjadi jalan yang diambil oleh banyak perempuan.

Namun, persoalan yang muncul tak jarang menjadi pelik ketika batas-batas kewajiban nafkah mulai kabur.

Isu ini sempat ramai di media sosial menyusul curhatan aktor Ibrahim Risyad alias Ohim, yang menyinggung dinamika perannya di rumah tangga.

Lalu, di era di mana perempuan bisa mandiri secara finansial, apakah tanggung jawab suami sebagai penafkah utama masih relevan?

Nafkah dalam kacamata hukum

Secara legal-formal di Indonesia, peran suami sebagai penyokong utama kebutuhan keluarga telah diatur dengan jelas.

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 34 ayat (1), disebutkan bahwa "Suami wajib melindungi isterinya dan memberikan segala sesuatu keperluan hidup rumah tangga sesuai dengan kemampuannya."

Senada dengan hukum positif, dari sudut pandang agama, nafkah merupakan hak istri yang melekat pada pernikahan.

Hal ini memberikan kepastian bahwa secara struktural, suami memegang tanggung jawab utama dalam pemenuhan kebutuhan lahiriah keluarga, terlepas dari apakah istri memiliki penghasilan pribadi atau tidak.

Nafkah menurut psikolog keluarga

Selain nafkah finansial, psikologi keluarga melihat "nafkah" dengan kacamata yang lebih luas.

Psikolog Klinis Anak, Remaja, dan Keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., menjelaskan bahwa menafkahi bukan sekadar soal transfer uang di akhir bulan saja.

"Dalam psikologi keluarga, menafkahi mencakup kehadiran emosional, rasa aman, dukungan psikologis, hingga keterlibatan dalam pengasuhan," jelas Verauli, saat dihubungi Kompas.com, akhir-akhir ini.

Artinya, meski seorang istri bekerja dan mapan secara finansial, ia tetap membutuhkan "nafkah mental" dari suaminya untuk menjaga keseimbangan kesehatan mental di rumah tangga.

Ilustrasi long distance relationships (LDR).Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi long distance relationships (LDR).

Mengapa nafkah erat dengan "harga diri" pria?

Menariknya, isu nafkah sering kali bukan sekadar masalah ekonomi, melainkan masalah emosional bagi pria.

Verauli menjelaskan, secara historis, harga diri laki-laki sering dipatok pada kemampuannya berkontribusi.

Verauli memaparkan, tak jarang ketika seorang suami gagal atau merasa tidak mampu menafkahi, yang terpukul adalah identitas maskulinnya.

Hal ini sering menjelaskan mengapa sebagian suami menjadi defensif atau justru menarik diri (avoidant coping) ketika menghadapi kesulitan ekonomi.

Membangun sistem keluarga yang welas asih

Di sisi lain, Verauli juga berpesan kepada pasangan muda untuk lebih adaptif.

"Penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas peran berkorelasi positif dengan ketahanan pernikahan di masa krisis ekonomi," ungkapnya.

Namun, fleksibilitas ini bukan berarti menghilangkan tanggung jawab.

Kesepakatan bersama adalah fondasi utama untuk menciptakan emotional safety atau rasa aman secara emosional.

Menurut Verauli, kesepakatan ini tidak harus kaku selamanya, ia perlu ditinjau ulang secara berkala seiring perubahan kondisi keluarga, seperti kehadiran buah hati, tantangan karier, hingga kondisi kesehatan.

Tag:  #istri #bekerja #atau #nafkah #tetap #kewajiban #suami

KOMENTAR